Saham Perkapalan GTSI-BULL Cs Unjuk Gigi Lagi

Saham Perkapalan GTSI-BULL Cs Unjuk Gigi Lagi

Ekonomi | idxchannel | Kamis, 8 Januari 2026 - 16:24
share

IDXChannel – Saham emiten perkapalan atau jasa angkutan laut kembali menguat pada perdagangan Kamis (8/1/2026), melanjutkan reli setelah sempat bergerak konsolidatif dalam beberapa hari terakhir.

Data Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat, saham PT GTS Internasional Tbk (GTSI) memimpin penguatan dengan lonjakan 18,81 persen ke level Rp480 per saham. Secara mingguan, saham GTSI telah melesat 64,38 persen.

Di posisi berikutnya, saham PT Buana Lintas Lautan Tbk (BULL) melonjak 14,29 persen ke Rp600 per saham, sekaligus meneguhkan kinerja mingguan dengan kenaikan 42,86 persen.

Selanjutnya, saham PT Logindo Samudramakmur Tbk (LEAD) menguat 11,76 persen, diikuti PT Soechi Lines Tbk (SOCI) naik 7,83 persen, PT Newsport Marine Services Tbk (BOAT) bertambah 5,93 persen, dan PT Transcoal Pacific Tbk (TCPI) menguat 3,30 persen.

Sementara itu, saham perkapalan lainnya juga mencatatkan penguatan, yakni MBSS naik 2,03 persen, WINS 2,00 persen, BSML 1,54 persen, dan SMDR 0,95 persen.

Sebelumnya, pengamat pasar modal Michael Yeoh menjelaskan, penguatan saham-saham sektor perkapalan yang terjadi belakangan ini tidak muncul secara tiba-tiba.

“Kenaikan saham-saham perkapalan yang terjadi belakangan ini merupakan refleksi dari kombinasi siklus global di industri pelayaran, dinamika komoditas energi, serta penyesuaian kebijakan dan struktur pasar di dalam negeri,” ujar Michael, Jumat (2/1/2026) lalu.

Menurut dia, faktor eksternal masih menjadi penopang utama prospek sektor ini ke depan, terutama dari sisi energi.

“Selain itu, konflik geopolitik serta kebutuhan energi jangka menengah membuat perdagangan LNG lintas negara tetap tinggi, bahkan cenderung meningkat,” katanya.

Michael menambahkan, LNG memiliki karakteristik tersendiri yang membuat sektor pelayaran memiliki posisi strategis dalam rantai pasok energi global.

“Yang menarik, LNG adalah komoditas dengan karakteristik logistik yang sangat spesifik, membutuhkan kapal khusus dan kontrak jangka panjang,” imbuh dia.

Kondisi tersebut, lanjut Michael, membuat sejumlah saham perkapalan mulai dilirik investor. “Seperti MBSS, HUMI, SOCI, dan BULL,” ujarnya.

Menurut Verdhana Sekuritas, 2026 menjadi titik menarik bagi sektor LNG Indonesia seiring lonjakan permintaan dari PLN dan PGN serta kemajuan proyek strategis.

Verdhana Sekuritas menyoroti peluang selektif, termasuk pada saham pelayaran LNG seperti BULL, GTSI, dan ELPI.

Kabar dari BULL hingga GTSI

BULL optimistis menatap 2026 dengan mengandalkan strategi empat pilar bisnis, yakni oil tanker, LNG tanker, serta FSO, FPSO, dan FSRU, guna menjaga stabilitas pendapatan dan mendorong pertumbuhan laba.

Sebagai informasi, FSO (Floating Storage and Offloading) berfungsi sebagai unit penyimpanan dan penyaluran minyak, FPSO (Floating Production, Storage and Offloading) mencakup produksi hingga pengapalan minyak dan gas, sementara FSRU (Floating Storage and Regasification Unit) digunakan untuk penyimpanan LNG sekaligus proses regasifikasi.

Dalam Public Expose 2025, manajemen menilai prospek pasar tanker global masih solid, ditopang inefisiensi logistik internasional, perubahan jalur perdagangan energi akibat sanksi geopolitik, serta regulasi IMO.

Meski sebagian besar armada beroperasi di pasar spot, tingkat utilisasi kapal BULL tetap tinggi di kisaran 90-95 persen.

Selain itu, prospek LNG dinilai semakin kuat, seiring proyeksi lonjakan volume angkutan global dan rencana penghentian impor LNG Rusia oleh Eropa mulai 2026-2027.

BULL juga aktif mengikuti tender FSO, FPSO, dan FSRU yang dinilai strategis untuk membangun fondasi pendapatan jangka panjang.

Dari sisi ekspansi, perseroan membuka peluang peningkatan armada hingga 50 persen pada 2026, didukung kondisi keuangan yang lebih sehat setelah proses deleveraging. Pendanaan ekspansi akan berasal dari kombinasi ekuitas, pinjaman bank, hingga obligasi.

Dalam jawaban atas pertanyaan bursa terkait volatilitas transaksi pada 6 Januari 2026, BULL mengatakan perseroan membuka peluang untuk melakukan sejumlah tindakan korporasi dalam waktu ke depan sebagai bagian dari implementasi transformasi strategis pengembangan usaha.

Manajemen BULL menyampaikan, perseroan tengah membuka berbagai opsi pendanaan untuk mendukung ekspansi bisnis. Skema yang dipertimbangkan mencakup pendanaan perbankan, penerbitan obligasi, hingga penambahan modal melalui Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD) atau rights issue, serta alternatif aksi korporasi lainnya.

Meski demikian, manajemen menegaskan belum ada keputusan final terkait bentuk maupun waktu pelaksanaan tindakan korporasi tersebut, termasuk yang berpotensi berdampak pada pencatatan saham perseroan di Bursa Efek Indonesia (BEI) dalam waktu dekat.

Kemudian, dalam keterbukaan pada 19 Desember 2025, LEAD mengumumkan penjualan dua unit kapal kepada pihak nonafiliasi dengan nilai transaksi mencapai USD8,35 juta. Dana hasil penjualan tersebut akan digunakan untuk membayar sebagian pinjaman perseroan.

Sementara, BBRM menegaskan tidak mengetahui adanya informasi atau fakta material yang dapat mempengaruhi nilai efek Perseroan maupun keputusan investasi pemodal.

Dalam keterbukaan informasi tertanggal 4 Desember 2025, manajemen menyatakan tidak terdapat kejadian penting selain yang telah diungkapkan dalam laporan tahunan, laporan keberlanjutan, dan laporan keuangan kuartalan.

Perseroan juga menegaskan seluruh informasi material, termasuk rencana pembangunan atau pembelian kapal, telah disampaikan kepada publik.

Senada dengan BBRM, SMDR juga menegaskan tidak mengetahui adanya informasi atau fakta material yang dapat mempengaruhi nilai efek Perseroan maupun keputusan investasi pemodal, selain informasi yang telah disampaikan kepada OJK dan BEI.

Berdasarkan keterbukaan informasi 9 Desember 2025, manajemen menyatakan hingga saat ini tidak terdapat informasi, fakta, atau kejadian penting yang bersifat material yang belum diungkapkan kepada publik dan berpotensi mempengaruhi harga efek maupun kelangsungan usaha Perseroan.

SMDR mencatat, pada 3 Desember 2025 terjadi peningkatan signifikan pada Baltic Dry Index, yang merupakan salah satu indikator global untuk memantau pergerakan tarif angkutan laut (freight rate). Namun, SMDR menegaskan tidak terdapat informasi material lain yang berkaitan langsung dengan kondisi tersebut.

Emiten lainnya, GTSI menegaskan fokus ekspansi pada bisnis LNG, terutama FSRU dan Mini LNG Plant, sebagaimana disampaikan dalam Public Expose 2025 pada 18 Desember lalu.

Dari sisi efisiensi, GTSI mengoptimalkan sinergi dengan Humpuss Group melalui pelatihan karyawan terintegrasi dan penguatan posisi tawar pembiayaan.

Untuk pertumbuhan, perseroan merencanakan pengembangan Mini LNG Plant lewat skema EPC dengan Pertamina serta akuisisi fasilitas yang telah beroperasi. Proyek ini disertai rencana kerja sama investor China dengan estimasi investasi USD15-USD20 juta.

Di segmen FSRU, GTSI menilai bisnis ini menawarkan kontrak jangka panjang yang stabil 15-20 tahun dan mendukung ketahanan energi nasional. Perseroan berencana ikut tender FSRU PT PLN (Persero) pada 2026, dengan kisaran harga gas USD9-USD12.

Terkait pendanaan, GTSI membuka opsi aksi korporasi pada 2027 jika kondisi pasar memungkinkan, serta menjajaki pembiayaan investor China untuk konversi FSRU senilai USD100-USD120 juta. Perseroan menjaga rasio utang terhadap ekuitas di kisaran 2,0-2,5 kali, dengan leverage saat ini sekitar 1,0-1,2 kali.

Manajemen menegaskan keunggulan GTSI sebagai pure-play LNG carrier dengan rekam jejak terpanjang di Indonesia, sekaligus membuka peluang diversifikasi ke segmen midstream dan downstream. (Aldo Fernando)

Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.

Topik Menarik