Bursa Asia Beragam di Tengah Rekor Wall Street
IDXChannel – Bursa saham Asia bergerak variatif pada Rabu (7/1/2026), di tengah Wall Street yang kembali mencatatkan rekor tertinggi sepanjang masa.
Menurut data pasar, pukul 09.44 WIB, indeks saham utama Jepang, Nikkei, melemah 0,53 persen setelah mencetak rekor penutupan tertinggi pada sesi sebelumnya. Sementara, Topix Jepang tergerus 0,41 persen.
Meski demikian, Nikkei masih mencatat kenaikan sekitar 4 persen dalam dua hari pertama tahun ini dan menorehkan rekor penutupan tertinggi pada Selasa.
Pelemahan terjadi seiring aksi ambil untung investor, sementara perhatian pasar beralih ke rilis data ketenagakerjaan Amerika Serikat (AS) yang diperkirakan menentukan arah kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed).
Kepala Strategi Asset Management One, Hitoshi Asaoka, mengatakan, dikutip Reuters, “Dalam dua sesi terakhir, terlihat dana yang sebelumnya terkonsentrasi di saham-saham kecerdasan buatan di AS mulai terdiversifikasi ke negara lain, seiring penguatan pasar saham global.”
Namun, ia menambahkan, “Penurunan hari ini relatif kecil jika dibandingkan dengan lonjakan tajam pada hari sebelumnya. Fokus pasar kini tertuju pada data ketenagakerjaan AS yang akan dirilis pekan ini.”
Hang Seng Hong Kong juga melemah 0,92 persen, sedangkan STI Singapura berkurang 0,14 persen.
Berbeda, Shanghai Composite menguat 0,12 persen, KOSPI Korea Selatan naik 1,18 persen, dan ASX 200 Australia mendaki 0,35 persen.
Investor menantikan data ekonomi AS yang dinilai lebih andal, seiring memudarnya dampak penutupan pemerintah federal selama 43 hari. Sejumlah data penting dijadwalkan rilis, termasuk Job Openings and Labor Turnover Survey pada Rabu serta laporan ketenagakerjaan Desember pada Jumat.
Data ketenagakerjaan yang lebih lemah dari perkiraan berpotensi memperkuat alasan bagi bank sentral untuk memangkas suku bunga.
Di Wall Street, indeks Dow Jones Industrial Average dan S&P 500 ditutup di level tertinggi baru pada Selasa, didorong penguatan yang merata di sektor kesehatan dan saham teknologi berkapitalisasi kecil.
Setelah mencatat kenaikan selama tiga sesi berturut-turut, Dow mencatat awal tahun terbaik sejak 2003, menurut Dow Jones Market Data.
Pada perdagangan Selasa, Dow melonjak 485 poin atau sekitar 1 persen ke level 49.462. Indeks S&P 500 menorehkan penutupan tertinggi pertamanya di tahun ini dengan kenaikan 0,6 persen.
Sementara indeks Nasdaq Composite, yang masih berada di bawah rekor tertingginya pada Oktober, juga naik 0,6 persen.
“Kondisinya didorong oleh optimisme yang dirasakan pelaku pasar, dan kemungkinan dana tunai yang sebelumnya menunggu kini mulai kembali masuk ke pasar,” ujar Kepala Strategi Pasar Crossmark Global Investments, Victoria Fernandez.
Secara historis, Januari dikenal sebagai bulan yang positif bagi pasar saham, seiring investor berlomba mengambil posisi untuk tahun berjalan.
Sejak 1928, pasar saham berakhir menguat pada Januari lebih dari 60 persen waktu, berdasarkan data Dow Jones Market Data.
Sementara itu, saham-saham yang terkait dengan pembangunan infrastruktur kecerdasan buatan kembali mencatat penguatan signifikan pada Selasa, didorong lonjakan investasi AI yang meningkatkan permintaan chip memori untuk menjalankan sistem tersebut. (Aldo Fernando)









