Eni dan Repsol Kena Dampak Tekanan AS, Pembayaran Gas dari Venezuela Mandek
IDXChannel - Dua perusahaan energi terbesar Eropa, Eni dan Repsol, kesulitan menarik kembali pembayaran sekitar USD6 miliar dari Venezuela. Keduanya juga menghadapi sikap tidak peduli dari pejabat Amerika Serikat (AS) terkait utang tersebut, menurut dua sumber yang mengetahui situasi ini dilansir Financial Times, Selasa (6/1/2025).
Selama beberapa tahun, perusahaan Italia Eni dan perusahaan Spanyol Repsol memasok Venezuela gas dan nafta dalam jumlah besar, yang digunakan untuk mengencerkan minyak berat negara itu agar lebih mudah diangkut.
Kedua perusahaan tersebut secara bersama-sama memiliki ladang gas Perla di lepas pantai Venezuela, yang menjadi dasar klaim Repsol bahwa mereka menyediakan sekitar sepertiga pasokan gas yang digunakan untuk pembangkit listrik di negara tersebut.
Pengungsi Mulai Terserang Penyakit, Gubernur Mualem: Obat-Obatan Paling Dibutuhkan saat Ini
Hingga Maret tahun lalu, Eni dan Repsol menerima minyak mentah Venezuela sebagai pembayaran atas pasokan gas tersebut. Namun, ketika Washington meningkatkan tekanannya terhadap Caracas, pemerintah AS menyatakan akan menghentikan pembayaran itu dengan mencabut izin khusus operasi bagi seluruh perusahaan asing, sebelum kemudian memberikan pengecualian kepada raksasa minyak AS, Chevron.
Langkah tersebut membuat perusahaan energi asing terpapar risiko sanksi jika tetap menerima pembayaran.
Sejak saat itu, Repsol dan Eni terus memasok gas ke pasar domestik Venezuela tanpa menerima pembayaran dalam bentuk tunai maupun minyak mentah, sehingga utang hanya tercatat sebagai piutang (IOU). Meski telah melakukan lobi intensif, hingga kini belum ada solusi.
Salah satu sumber menyebut kebijakan America First pemerintahan AS berdampak pada perusahaan Eropa, yang merasakan kurangnya urgensi dari Gedung Putih dalam menyelesaikan masalah pembayaran ini.
Analis dari ClearView Energy Partners, Kevin Book, mencatat bahwa pemerintahan pertama Presiden Donald Trump pada 2019 telah memperkenalkan pengecualian khusus bagi sejumlah perusahaan AS yang beroperasi di Venezuela.
"Ini bukan strategi baru. Presiden menggunakan istilah American First, dan itu tidak boleh diabaikan,” ujarnya.
CEO Repsol, Josu Jon Imaz, sebelumnya mengatakan perusahaannya tengah bernegosiasi untuk menyelesaikan kebuntuan pembayaran dalam bentuk barang sebelum Presiden Nicolás Maduro digulingkan oleh AS pada Sabtu lalu.
"Kami mempertahankan dialog yang konstruktif dan sepenuhnya transparan dengan pemerintahan AS saat ini,” kata Imaz dalam paparan kinerja pada Oktober lalu.
Para analis menilai Eni dan Repsol, bersama sejumlah perusahaan Eropa lainnya, mungkin tertarik berinvestasi di sektor energi Venezuela ke depan. Namun, kedua perusahaan menolak berkomentar mengenai prospek tersebut maupun soal utang yang belum dibayar.
Nilai USD6 miliar itu juga mencakup sebagian utang lama atas pasokan nafta yang diberikan Eni dan Repsol kepada perusahaan minyak negara Venezuela, PDVSA pada 2023.
(NIA DEVIYANA)










