Harga Aluminium ke Level Tertinggi Tiga Tahun, Saham ADMR Melesat 12 Persen
IDXChannel – Saham PT Alamtri Minerals Indonesia Tbk (ADMR) melejit hingga penutupan sesi I perdagangan Selasa (6/1/2026).
Menurut data Bursa Efek Indonesia (BEI), saham ADMR melonjak 12,77 persen ke level Rp1.855 per unit. Nilai transaksi mencapai Rp340,39 miliar.
Pengamat pasar modal Michael Yeoh mengatakan, secara teknikal saham ADMR menunjukkan sinyal penguatan yang cukup solid.
“Secara teknikal, ADMR melewati titik double bottom weekly, konsolidasi tahunan,” ujarnya, Selasa (6/1/2026).
Dia melanjutkan, struktur pergerakan harga tersebut membuka ruang lanjutan penguatan ke level yang lebih tinggi. “Target ke 2.500, resistance di 2.000,” kata Michael.
Sebelumnya, Indo Premier Sekuritas menilai prospek ADMR semakin solid memasuki 2026, ditopang pemulihan harga batu bara metalurgi (met-coal) dan ketatnya pasokan aluminium global.
Dalam riset yang terbit pada 12 November 2025, analis menyebut outlook kedua komoditas itu cenderung positif meski permintaan dari industri hilir masih bervariasi.
Indo Premier menaikkan proyeksi laba bersih ADMR masing-masing sebesar 10 persen untuk 2026 dan 20 persen untuk 2027.
Asumsi harga jual aluminium dinaikkan menjadi USD2.900 per ton tahun depan, sementara volume penjualan diperkirakan lebih konservatif di 325 ribu ton karena fase ramp-up pabrik baru.
Biaya produksi diproyeksikan berada di USD2.300 per ton pada 2026 dan turun menjadi USD2.100 per ton pada 2027 seiring peningkatan efisiensi.
ADMR juga bersiap memasuki fase penting ekspansi bisnis melalui pengoperasian smelter aluminium pertama milik grup, yang dikembangkan oleh anak usahanya, PT Kalimantan Aluminium Industry (KAI), di Kawasan Industri Kalimantan Utara.
Sementara, kontrak berjangka (futures) aluminium di Inggris melesat menembus USD3.050 per ton, level tertinggi dalam lebih dari tiga tahun, pada Senin (5/1/2026) seiring menguatnya indikasi pengetatan pasokan bagi industri manufaktur.
Mengutip Trading Economics, China, produsen aluminium terbesar dunia, kembali menegaskan prioritasnya untuk mencegah kelebihan kapasitas produksi logam guna meredam tekanan deflasi di sektor manufaktur.
Produksi aluminium China diperkirakan melampaui batas 45 juta ton tahun ini, sehingga memaksa para smelter menahan ekspansi produksi pada 2026.
Kondisi tersebut mendorong pelaku usaha menjual pasokan yang dibatasi itu ke pasar domestik ketimbang mengekspornya, sehingga volume ekspor merosot 9,2 persen secara tahunan pada November.
Sementara itu, rencana sejumlah smelter China membangun pabrik baru di Indonesia masih menghadapi kendala, terutama akibat tingginya biaya energi serta risiko regulasi di tingkat lokal.
Di luar China, pasokan global juga tertekan oleh biaya energi yang tinggi, gangguan peralatan, kesulitan memperoleh bauksit, serta risiko geopolitik.
Faktor-faktor tersebut memicu penghentian operasi sejumlah smelter utama di negara-negara seperti Islandia, Mozambik, dan Australia. (Aldo Fernando)
Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.










