Impor RI Naik, Sepanjang Januari-November 2025 Capai USD218,02 Miliar

Impor RI Naik, Sepanjang Januari-November 2025 Capai USD218,02 Miliar

Berita Utama | idxchannel | Senin, 5 Januari 2026 - 12:20
share

IDXChannel - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat nilai impor sepanjang Januari hingga November 2025 sebesar USD218,02 miliar. Angka ini naik 2,03 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Pudji Ismartini merinci, impor migas senilai USD29,42 miliar atau turun 10,81 persen. Sementara itu impor nonmigas senilai USD188,61 miliar atau mengalami kenaikan 4,37 persen.

"Sepanjang Januari hingga November 2025, total nilai impor mencapai USD218,02 miliar atau naik 2,03 persen dibanding periode yang sama pada tahun lalu," ujar Pudji dalam konferensi pers Rilis BPS, Senin (5/1/2026).

Menurut Pudji, jika dilihat menurut penggunaannya, secara kumulatif peningkatan nilai impor terjadi pada barang modal.

"Sebagai penyumbang peningkatan impor, nilai impor barang modal mencapai USD44,81 miliar atau naik 18,54 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu dan memberikan andil peningkatan sebesar 3,28 persen," kata Pudji.

Untuk jenisnya yang naik cukup besar yaitu mesin atau peralatan elektrik dan bagiannya, mesin atau peralatan mekanis dan bagiannya, serta kendaraan udara dan bagiannya.

Kemudian impor bahan baku penolong turun 1,46 persen menjadi USD153,20 miliar, begitu juga untuk impor barang konsumsi yang mengalami penurunan sebesar 2,02 persen sehingga menjadi USD20,01 miliar.

Jika dilihat menurut negara dan kawasan tujuan asal impor, peningkatan nilai impor terjadi dari Jepang dan Amerika Serikat (AS). Untuk ASEAN dan Uni Eropa mengalami penurunan.

Adapun pada November 2025 saja, total nilai impor sebesar USD19,86 miliar atau naik 0,46 persen dibandingkan November tahun lalu.

Nilai impor migas secara bulanan sebesar USD2,86 miliar atau naik 11,19 persen secara tahunan. Sementara itu, nilai impor nonmigas USD17 miliar dan mengalami peningkatan secara tahunan sebesar 1,15 persen.


(NIA DEVIYANA)