Loading...
Loading…
Laporan Sebut Muslimah Uighur Diperkosa di Kamp Xinjiang, Begini Komentar China

Laporan Sebut Muslimah Uighur Diperkosa di Kamp Xinjiang, Begini Komentar China

Global | inewsid | Rabu, 03 Februari 2021 - 17:26

BEIJING, iNews.id - Para perempuan Uighur dan muslimah etnis lainnya yang ditahan di kamp Xinjiang menjadi korban pemerkosaan, pelecehan seksual, serta penyiksaan.

Lembaga penyiaran Inggris, BBC, dalam laporan di situs online, Rabu (3/2/2021), mengungkap fakta ini berdasarkan pengakuan dari beberapa mantan tahanan dan mantan penjaga kamp.

Mereka mengalami atau melihat bukti pemerkosaan massal, pelecehan seksual, dan penyiksaan yang terorganisasi.

Seorang mantan tahanan, Tursunay Ziawudun, mengatakan para pelaku selalu memakai masker saat beraksi meski saat itu belum memasuki pandemi Covid-19. Selain itu para pelaku mengenakan jas, bukan seragam polisi.

Menurut Ziawudun, beberapa saat setelah tengah malam, mereka datang ke sel untuk memilih perempuan yang mereka inginkan lalu membawanya ke koridor menuju ruang tanpa kamera CCTV.

Para perempuan dibawa ke ruangan tersebut selama beberapa malam.

"Mungkin ini bekas luka paling tak terlupakan selamanya untuk saya. Saya bahkan tidak ingin perkataan ini keluar dari mulut saya," ujarnya, kepada BBC.

Ziawudun menghabiskan 9 bulan di kamp tersebut.

Berdasarkan perkiraan independen, lebih dari 1 juta laki-laki dan perempuan ditahan di jaringan kamp yang luas di Xinjiang.

Pemerintah China dengan tegas membantah tuduhan adanya pemerkosaan dan pelecehan seksual di kamp Xinjiang. Kompleks yang didirikannya di wilayah tersebut menyediakan pelatihan kejuruan untuk membantu membasmi ekstremisme dan separatisme, serta untuk mengajarkan keterampilan.

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Wang Wenbin menyebut pemberitaan BBC tak didasarkan fakta. Dia menuduh orang-orang yang diwawancarai itu berkali-kali menyebarkan informasi palsu.

Kongres Amerika Serikat dalam laporan terbaru tahun ini menuduh China melakukan genosida terhadap muslim Uighur di Xinjiang.

Tahun lalu, sebuah laporan peneliti Jerman Adrian Zenz yang diterbitkan lembaga think tank Jamestown Foundation yang berbasis di Washington DC, menuduh China melakukan sterilisasi paksa, aborsi paksa, dan keluarga berencana terhadap minoritas muslim. Lagi-lagi China menepis tuduhan itu.

Original Source