Suku Ainu, Penduduk Asli Jepang Penyembah Beruang

okezone | Global | Published at 07/01/2021 07:47
Suku Ainu, Penduduk Asli Jepang Penyembah Beruang

"Ini pondok beruang kami," seru seorang perempuan berpostur pendek tapi lincah melalui pengeras suara genggam. Senyumnya yang lebar menghiasi kedua pipinya dengan kerutan yang dalam.

Sebuah topi biru bertengger di kepalanya dan tunik pendeknya yang disulam dengan desain geometris merah muda, diikat di bagian pinggang.

Dia menunjuk ke sebuah bangunan kayu yang terbuat dari batang kayu bulat yang tinggi menjulang ke atas tanah.

"Kami menangkap beruang ketika mereka ketika mereka masih anak-anak dan membesarkan mereka sebagai anggota keluarga.

"Mereka berbagi makanan dengan kami dan tinggal di desa kami. Ketika saatnya tiba, kami membebaskan satu ekor kembali ke alam dan membunuh yang lain untuk makan. "

Selain memperlakukan beruang dengan baik dalam hidupnya, orang-orangnya percaya bahwa roh hewan suci yang mereka sembah sebagai dewa, akan memastikan keberlanjutan keberuntungan komunitas mereka.

Kimiko Naraki berusia 70 tahun tetapi tampak lebih muda puluhan tahun.

Dia adalah perempuan dari suku Ainu, penduduk asli yang sekarang sebagian besar tinggal di Hokkaido, pulau paling utara Jepang.

Dahulu kala, tanah mereka terbentang dari utara Honshu (daratan Jepang) ke utara hingga Sakhalin dan Kepulauan Kuril (yang sekarang menjadi bagian yang disengketakan dengan Federasi Rusia).

Suku Ainu telah lama menjadi subjek penelitian para antropolog karena identitas budaya, bahasa, dan fisik mereka, tetapi kebanyakan pelancong tidak akan pernah mendengar tentang mereka.

Itu karena meskipun mereka adalah pemukim paling awal di Hokkaido, mereka ditindas dan dipinggirkan oleh pemerintahan Jepang selama berabad-abad. Taman Nasional Shiretoko di Hokkaido adalah tempat berburu dan mencari ikan bagi suku Ainu.

Suku Ainu memiliki sejarah yang rumit. Asal-usul mereka tidak jelas, tetapi beberapa pakar meyakini mereka adalah keturunan dari penduduk asli yang pernah tersebar di Asia Utara.

Orang Ainu menyebut Hokkaido sebagai Ainu Moshiri (Tanah Ainu) dan mata pencaharian asli mereka ialah berburu, mencari makan dan memancing, layaknya banyak penduduk asli di seluruh dunia.

Kebanyakan dari mereka tinggal di sepanjang pantai selatan Hokkaido yang lebih hangat dan berdagang dengan Jepang.

Namun setelah Restorasi Meiji - sekitar 150 tahun yang lalu - orang-orang dari Jepang daratan mulai bermigrasi ke Hokkaido, ketika Jepang menjajah pulau paling utara.

Sejak saat itu, praktik-praktik diskriminatif seperti Undang-Undang tentang perlindungan mantan penduduk asli Hokkaido pada 1899 menggusur suku Ainu dari tanah air mereka ke pegunungan tandus, yang terletak di tengah pulau.

"Itu kisah yang sangat buruk," kata Profesor Kunihiko Yoshida, profesor hukum di Universitas Hokkaido.

Dipaksa bertani, mereka tidak lagi bisa menangkap ikan salmon di sungai mereka dan berburu rusa di tanah mereka, kata Yoshida.

Mereka diharuskan mengadopsi nama Jepang, berbicara bahasa Jepang dan perlahan-lahan budaya dan tradisi mereka dilucuti, termasuk upacara tradisional mereka yang melibatkan beruang.

Karena stigmatisasi yang luas, banyak orang Ainu yang menyembunyikan leluhur mereka.

Dan efek jangka panjangnya jelas terlihat saat ini, dengan sebagian besar penduduk Ainu tetap miskin dan kehilangan hak secara politik, dengan banyak tradisi dan pengetahuan leluhur mereka hilang.

Di antara praktik keji lainnya, peneliti Jepang membongkar pemakaman suku Ainu sejak akhir abad ke-19 hingga 1960-an, mengumpulkan banyak koleksi peninggalan suku Ainu untuk dipelajari, tapi tidak pernah mengembalikan tulangnya.

Ainu membangun rumah mereka di sepanjang sungai atau di tepi laut di mana air melimpah dan aman dari bencana alam

Baru-baru ini, perlakuan terhadap orang-orang Ainu mulai berubah.

Artikel Asli