Rabi Israel: Akan Lebih Baik jika Orang Arab yang Memerintah di Sini, Tanpa Ada Negara

Rabi Israel: Akan Lebih Baik jika Orang Arab yang Memerintah di Sini, Tanpa Ada Negara

Global | sindonews | Selasa, 6 Oktober 2026 - 22:30
share

Rabi Dov Lando, pemimpin komunitas Haredi Lituania di Israel, melontarkan pernyataan kontroversial pada hari Senin (5/10/2026) mengenai Zionisme dan pendirian negara Israel. Dia mengatakan “akan lebih baik jika orang Arab yang memerintah di sini”.

Saluran televisi Israel, Channel 12, melaporkan pada Senin malam bahwa Lando mengatakan hidup berdampingan secara damai dengan orang Arab sebenarnya bisa dilakukan tanpa adanya negara Israel.

Saluran tersebut menyatakan telah memperoleh rekaman langka Lando yang diambil selama masa perang, meskipun tidak merinci kapan rekaman itu dibuat.

Rekaman tersebut diambil di kediamannya di Bnei Brak, Israel tengah, saat ia sedang berdiskusi dengan sekelompok kecil rabi mengenai krisis terkait wajib militer bagi kaum Yahudi Haredi.

“Saya tidak tahu apa yang akan terjadi seandainya negara ini tidak pernah didirikan sejak awal. Jika satu pemerintahan di bawah naungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dibentuk di sini, situasinya akan sangat baik,” ujarnya.“Hidup berdampingan secara damai dengan orang Arab tanpa adanya negara [Israel] itu mungkin saja terjadi, dan akan lebih baik pula jika orang Arab yang memerintah di sini,” tegas dia.

Mengenai sikap permusuhan Zionisme terhadap dunia Arab, Lando berkata, “Mereka membuat orang Arab membenci kita dan mendatangkan bencana materi—bukan sekadar bencana spiritual—bagi bangsa Israel. Belum pernah dalam sejarah orang Arab begitu membenci [kita] seperti sekarang ini.”

Terkait wajib militer bagi kaum Yahudi Haredi di militer Israel, Lando mengatakan, “Para pejuang itu tewas karena rabi mereka mengajarkan Taurat yang telah diselewengkan. Mereka juga melakukan banyak tindakan bukan demi keselamatan, melainkan demi kehormatan negara.”

Kaum Yahudi Haredi mencakup sekitar 13 persen dari total populasi Israel yang berjumlah lebih dari 10 juta jiwa.

Mereka menolak wajib militer dengan alasan mereka harus mengabdikan diri untuk mempelajari Taurat, serta berpendapat integrasi ke dalam masyarakat sekuler dapat mengancam identitas keagamaan mereka.

Baca juga: Netanyahu Ancam Lebih Banyak Pembunuhan di Gaza, Israel Makin Terpecah

Topik Menarik