5 Alasan Aliansi Mekkah Bersatu Melawan Houthi, Menghidupkan Pasal 5 NATO Islam

5 Alasan Aliansi Mekkah Bersatu Melawan Houthi, Menghidupkan Pasal 5 NATO Islam

Global | sindonews | Selasa, 6 Oktober 2026 - 10:15
share

Turki, Pakistan, dan Arab Saudi sepakat untuk mengaktifkan "langkah-langkah pencegahan" berdasarkan pakta pertahanan bersama dan segera mengerahkan pasukan ke kerajaan di kawasan Teluk tersebut guna menangkal serangan dari kelompok Houthi Yaman.

Keputusan tersebut diumumkan pada hari Senin setelah para menteri pertahanan dan luar negeri dari ketiga negara mengadakan pertemuan darurat di Riyadh. Ini menandai kali pertama aliansi tersebut—yang dikenal sebagai Aliansi Pertahanan Mekkah—diaktifkan sejak ditandatangani pada 7 Agustus.

5 Alasan Aliansi Mekkah Bersatu Melawan Houthi, Menghidupkan Pasal 5 NATO Islam

1. Menghidupkan Pasal 5 Ala NATO Islam

Kesepakatan tersebut menyatakan bahwa serangan terhadap salah satu dari ketiga negara akan dianggap sebagai serangan terhadap ketiganya, mencerminkan ketentuan utama dalam perjanjian pendirian NATO.

"Komite sepakat untuk mengaktifkan langkah-langkah pencegahan kolektif, dalam kerangka Aliansi, sebagai tanggapan atas serangan-serangan tersebut dan pihak-pihak yang bertanggung jawab atasnya," ujar Khalid bin Salman, Menteri Pertahanan Arab Saudi, dalam sebuah unggahan di media sosial, dilansir Al Jazeera.

Ia mengatakan bahwa aliansi tersebut telah "menegaskan kembali solidaritas dan persatuan negara-negara kami dalam menghadapi serangan keji terhadap Kerajaan dan situs-situs suci."

2. Turki dan Pakistan Kirim Militer ke Arab Saudi

Sebuah pernyataan bersama terpisah yang diterbitkan oleh Kementerian Luar Negeri Pakistan menyebutkan bahwa ketiga negara tersebut akan "menyediakan kekuatan dan kemampuan militer yang telah disepakati serta memastikan pengerahan cepat" ke Arab Saudi.Komitmen tersebut, menurut pernyataan bersama itu, akan dilaksanakan berdasarkan "pengaturan yang telah disetujui" dan sesuai dengan hukum masing-masing negara.

Pengumuman ini disampaikan beberapa jam setelah pasukan yang berpihak pada pemerintah Yaman—yang diakui secara internasional—melancarkan serangan balik untuk merebut kembali wilayah yang dikuasai kelompok Houthi (yang didukung Iran) bulan lalu. Pasukan Yaman, yang mendapat dukungan dari Arab Saudi, menyatakan telah merebut kembali kota pelabuhan Mocha di Laut Merah dan kini menguasai selat strategis Bab al-Mandeb.

3. Menghancurkan Basis Pertahanan Houthi

Koalisi pimpinan Arab Saudi telah mengonfirmasi partisipasinya dalam serangan pemerintah Yaman tersebut, dengan menyatakan bahwa 100 jet tempur mereka memberikan dukungan udara.

Sementara itu, kelompok Houthi mengklaim telah melancarkan serangan terhadap Bandara Internasional King Khalid di Riyadh dan kilang minyak Aramco di wilayah pesisir Rabigh.

Kelompok tersebut juga menyatakan telah menghantam sejumlah lokasi, termasuk bandara, pangkalan udara, dan lokasi-lokasi vital lainnya.

Belum ada konfirmasi dari pihak Riyadh mengenai klaim Houthi tersebut.

4. Mengefektikan Pakta Mekkah

Aliansi Pertahanan Mekkah muncul sebagai respons terhadap konflik yang kian memanas di kawasan tersebut, yang dipicu oleh perang antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran. Pakta pertahanan tersebut ditandatangani pada bulan Agustus, tak lama sebelum kelompok Houthi melancarkan serangan di Yaman, yang mencakup serangan terhadap target-target di Arab Saudi.Ketiga anggota aliansi tersebut secara gabungan memiliki hampir 1,4 juta personel militer aktif, sekitar 3.400 pesawat militer, 6.000 tank, dan lebih dari 340 aset angkatan laut, menurut Indeks Global Firepower 2026.

Kesepakatan tersebut awalnya hanya memuat sedikit rincian mengenai kewajiban militer masing-masing negara, meskipun langkah-langkah untuk meresmikan aliansi itu kemudian menyusul.

Setelah kelompok Houthi meluncurkan serangkaian rudal ke arah Arab Saudi pada awal September, Menteri Pertahanan Pakistan Khawaja Asif menyatakan bahwa serangan terhadap kerajaan tersebut dapat mengaktifkan pakta pertahanan itu.

"Jika terjadi agresi tanpa provokasi, atau meluasnya konflik yang terjadi di Yaman ke wilayah Arab Saudi, maka pakta Mekkah itu pasti akan mulai dijalankan," ujar Asif kepada Geo News, sebuah media asal Pakistan.

Namun, hingga hari Senin, aliansi tersebut belum mengambil tindakan apa pun. Para analis sebelumnya menyebutkan bahwa Pakistan dan Turki enggan melepas peran mereka sebagai penengah dalam konflik antara AS-Israel dan Iran.

5. Perubahan Arsitektur Keamanan Timur Tengah

Abdulaziz Alghashian, seorang senior non-resident fellow di Gulf International Forum, mengatakan bahwa keputusan untuk mengaktifkan pakta pertahanan Mekkah akan berdampak besar terhadap keamanan kawasan."Serangan dan provokasi Houthi dalam beberapa minggu dan bulan terakhir benar-benar mempercepat—bahkan menginspirasi—terwujudnya aliansi Mekkah ini," kata Alghashian kepada Al Jazeera. Tindakan-tindakan tersebut "turut mendorong" pembentukan struktur aliansi itu, ujarnya.

Alghashian menambahkan bahwa peristiwa ini juga memberikan gambaran mengenai arsitektur keamanan kawasan yang sedang terbentuk.

"Sering kali kita membicarakan arsitektur keamanan kawasan; itu adalah istilah yang terdengar sangat keren," ujarnya. "Namun, sering kali istilah itu terasa hampa, dan tak banyak orang yang memahami maknanya secara rinci. Akan tetapi, menurut saya, kini kita mulai melihat bagaimana konsep ini mulai diwujudkan secara nyata. Ini adalah momen krusial dalam sejarah kawasan ini."

Topik Menarik