Pakar Militer Ini Yakin Houthi Akan Kuasai Seluruh Wilayah Yaman
Operasi militer baru yang diluncurkan oleh pemerintah Yaman yang diakui secara internasional untuk melawan Houthi merupakan "rangkaian peristiwa yang wajar" setelah milisi tersebut dengan cepat merebut wilayah selama sebulan terakhir.
Baraa Shiban, rekan peneliti bidang keamanan internasional di Royal United Services Institute, mencatat bahwa setelah bertahun-tahun relatif tenang, ketegangan meningkat pada bulan Juli, "dan situasi terus memanas sejak saat itu".
Perebutan kota strategis Mocha di pesisir Laut Merah oleh Houthi bulan lalu menjadi pemicu awal peristiwa-peristiwa tersebut, ujarnya.
"Pada dasarnya, mereka berusaha bergerak ke arah pedalaman untuk memperkuat penguasaan mereka karena mereka membutuhkan wilayah dataran tinggi yang menghadap ke pantai barat Yaman. Dan saat ini, mereka sedang berupaya menerobos masuk ke kota Taiz," kata Shiban kepada Al Jazeera.
Taiz memiliki posisi strategis yang menghubungkan wilayah barat laut negara itu—tempat Houthi memegang kendali—dengan wilayah selatan tempat pemerintah Yaman berkuasa di Aden, catatnya.
"Jadi, mereka [Houthi] tidak bisa bergerak ke Aden sampai mereka memperkuat kehadiran mereka di wilayah tengah Yaman. Mereka merasa bersemangat karena peristiwa bulan September, dan mereka beranggapan inilah saatnya untuk menguasai seluruh wilayah negara itu," kata Shiban.
Sementara itu, operasi militer yang dilakukan oleh pemerintah Yaman yang diakui secara internasional untuk merebut kembali wilayah yang dikuasai Houthi akan berlangsung lama dan sulit.
"Segala tanda mengarah pada pertempuran yang berkepanjangan," kata Baraa Shiban, rekan peneliti bidang keamanan internasional di Royal United Services Institute.
"Kita mungkin akan menyaksikan babak baru konflik yang berlangsung bertahun-tahun di Yaman. Dan sayangnya, masyarakat Yamanlah yang akan menanggung dampak terberat dari eskalasi ini," ujarnya kepada Al Jazeera dari Istanbul.Meskipun ada pihak yang memperkirakan operasi ini akan berakhir dengan cepat, Shiban mengatakan kenyataannya justru sebaliknya. “Menurut saya, ini bukan operasi yang akan berjalan mudah dan cepat. Prosesnya mungkin akan memakan waktu bertahun-tahun.”
Konflik yang telah berlangsung lama ini juga mencerminkan kegagalan komunitas internasional; meskipun sempat ada gencatan senjata pada tahun 2022, mereka belum mampu mencapai terobosan apa pun menuju perdamaian abadi, tambahnya.
“Utusan PBB untuk Yaman sudah lebih dari dua tahun tidak dapat bertemu dengan pihak Houthi, jadi ini merupakan kegagalan di semua tingkatan—baik secara internal maupun bagi para mediator dan komunitas internasional.”


