Usai Kerahkan Senjata di Orbit, AS Kini Siap Perang di Sekitar Bulan

Usai Kerahkan Senjata di Orbit, AS Kini Siap Perang di Sekitar Bulan

Global | sindonews | Kamis, 17 September 2026 - 13:57
share

Pasukan Amerika Serikat (AS) perlu bersiap menghadapi pertempuran bukan hanya di orbit Bumi, tetapi juga di sekitar Bulan. Pernyataan ini disampaikan Ketua Kepala Staf Gabungan AS Jenderal Dan Caine pada Rabu setelah Pentagon, untuk pertama kalinya, mengonfirmasi penempatan senjata di luar angkasa.

Caine mengatakan kepada personel militer dan kalangan industri dalam konferensi Air, Space and Cyber di luar Washington bahwa militer AS harus segera beradaptasi. "Agar siap bertempur, bertahan, dan menang ...dari dasar laut hingga ruang cislunar," ujarnya.

Baca Juga: Pertama Kali Dikonfirmasi, AS Sudah Kerahkan Senjata ke Luar Angkasa

Ruang cislunar merujuk pada wilayah ruang angkasa yang mencakup area antara orbit tinggi Bumi dan sekitar Bulan.

Sementara itu, Letnan Jenderal Gregory Gagnon, kepala Combat Forces Command di Angkatan Antariksa AS atau US Space Force (USSF), mengatakan secara terpisah kepada wartawan bahwa pasukannya tengah mempersiapkan kemampuan untuk bertempur di luar angkasa dan sekitar Bulan.

“Kemanusiaan terus bergerak semakin jauh ke luar angkasa. Tugas Space Force adalah membantu mempersiapkan pertahanan kepentingan AS,” kata Gagnon.

Pengumuman bahwa militer AS bersiap bertempur di wilayah antara orbit tinggi Bumi dan Bulan muncul hanya beberapa hari setelah Sekretaris Angkatan Udara AS Troy Meink mengungkap dalam konferensi yang sama bahwa AS telah menempatkan “senjata pengendali ruang angkasa di orbit”.Serangkaian pengumuman mengenai persenjataan luar angkasa dari para pejabat militer AS dalam beberapa hari terakhir memunculkan pertanyaan mengenai norma dan kesepahaman internasional yang selama ini menempatkan luar angkasa sebagai wilayah yang digunakan untuk tujuan damai dan tidak dimiliterisasi.

AS Merasa Musuh AS Bisa Jadikan Luar Angkasa Medan Perang

Sejumlah negara, termasuk AS, telah menunjukkan kemampuan untuk menghancurkan satelit di orbit Bumi. Namun, demonstrasi kemampuan tersebut selama ini dilakukan dari darat dengan sasaran satelit milik negara masing-masing.

Menurut Gagnon, komunitas intelijen AS telah memberikan peringatan bahwa negara-negara yang berpotensi menjadi lawan AS berupaya memperluas peperangan ke luar angkasa.

“Komunitas intelijen telah jelas menyampaikan bahwa para calon lawan berupaya memperluas peperangan ke luar angkasa. Karena itu, militer AS harus merespons,” ujarnya.

“Calon lawan kami, seperti Republik Rakyat China (RRC), secara aktif menjalankan berbagai aktivitas di sistem tersebut, di berbagai bagian ruang angkasa,” kata Gagnon.

China sendiri membentuk pasukan antariksa militernya pada 2024 dengan tugas meningkatkan kemampuan menghadapi dan mengelola krisis di luar angkasa.Ketika ditanya mengenai pengumuman AS tentang penempatan senjata di luar angkasa, juru bicara Kementerian Luar Negeri China Guo Jiakun mengatakan kepada wartawan bahwa Beijing selalu mendukung penggunaan luar angkasa untuk tujuan damai.

“China selalu menjunjung tinggi penggunaan luar angkasa secara damai, menjaga keamanan luar angkasa, serta menentang persenjataan, militerisasi, dan perlombaan senjata di luar angkasa,” kata Guo.

Dia juga mendesak AS untuk “menghentikan perluasan persiapan militernya di luar angkasa.”

Belum jelas apakah penempatan senjata AS di luar angkasa atau kemungkinan rencana penggunaannya di sekitar Bulan akan bertentangan dengan perjanjian internasional yang membatasi militerisasi ruang angkasa.

Outer Space Treaty 1967, yang telah ditandatangani AS dan China, menyatakan bahwa benda-benda langit seperti Bulan harus digunakan “secara eksklusif untuk tujuan damai.”

Perjanjian tersebut juga melarang penempatan senjata nuklir di luar angkasa serta menetapkan bahwa negara bertanggung jawab atas kerusakan yang ditimbulkan oleh objek luar angkasanya.Dua tahun lalu, muncul kembali dorongan di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk memperkuat langkah-langkah pencegahan militerisasi luar angkasa setelah AS melaporkan bahwa Rusia sedang mengembangkan senjata berbasis ruang angkasa.

Rusia kemudian memveto resolusi bersama AS-Jepang yang menyerukan kepada seluruh negara untuk tidak mengembangkan atau menempatkan senjata nuklir maupun senjata pemusnah massal lainnya di luar angkasa, sebagaimana dilarang dalam perjanjian tersebut.

Rusia juga mengajukan resolusi tandingan yang menyerukan pelarangan seluruh senjata di luar angkasa “untuk selamanya”, tetapi resolusi tersebut pada akhirnya juga gagal.

Ketika ditanya mengenai Outer Space Treaty 1967 dan kewajiban internasional lainnya, Gagnon mengatakan: "USSF akan terus menjalankan operasi ruang angkasa yang aman dan bertanggung jawab di seluruh wilayah ruang angkasa.”

Namun, dia tidak menjelaskan kebijakan Space Force maupun militer AS secara keseluruhan mengenai penggunaan senjata seperti peluru atau proyektil di luar angkasa.Gagnon mengarahkan pertanyaan tersebut kepada Pentagon, yang belum segera memberikan tanggapan atas permintaan komentar.

Gagnon juga mengatakan AS berencana melipatgandakan jumlah personel USSF dalam lima tahun ke depan, dari jumlah saat ini menjadi sekitar 25.000 personel.

Sekitar dua pertiga dari penambahan personel tersebut akan diarahkan ke Combat Forces Command.

“Kami memiliki berbagai kemampuan militer karena kami sedang mempersiapkan diri untuk mempertahankan negara,” kata Gagnon.

“Alasan kami memiliki kemampuan tersebut adalah untuk membantu menciptakan efek gentar,” lanjutnya, seperti dikutip AP, Kamis (17/9/2026).

Topik Menarik