Daftar 11 Pemimpin ASEAN yang Paling Sering Bepergian ke Luar Negeri, Prabowo Nomor Satu

Daftar 11 Pemimpin ASEAN yang Paling Sering Bepergian ke Luar Negeri, Prabowo Nomor Satu

Global | sindonews | Kamis, 28 Mei 2026 - 12:15
share

Presiden Republik Indonesia (RI) Prabowo Subianto Djojohadikusumo kembali melakukan kunjungan ke Prancis, yang menurut pemerintah, untuk memenuhi undangan Presiden Emmanuel Macron sejak tahun lalu.

Lawatan Prabowo terjadi di tengah rivalitas Amerika Serikat–China, perang dagang global, krisis energi, hingga perebutan investasi asing. Prabowo bukan satu-satunya pemimpin Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN) yang kerap lawatan ke luar negeri, yang kini dikenal sebagai tren “diplomasi keliling dunia”.

Baca Juga: Prabowo Kunjungi Prancis saat Iduladha, Menlu Sugiono: Undangan dari Presiden Macron yang Sempat Tertunda

Jika dulu kepala negara ASEAN lebih banyak fokus pada agenda domestik, maka sepanjang 2025–2026 justru muncul fenomena baru: pemimpin ASEAN yang hampir tak pernah lama berada di negaranya sendiri karena terus menghadiri forum internasional, lawatan bilateral, hingga diplomasi ekonomi lintas benua. Namun, siapa yang paling sering bepergian ke luar negeri?

Daftar 11 Pemimpin ASEAN yang Paling Sering Bepergian ke Luar Negeri

1. Presiden RI Prabowo Subianto

•Tahun 2025: sekitar 35 kunjungan internasional•Januari–Mei 2026: sekitar 10–12 kunjungan•Total periode 2025–Mei 2026: sekitar 47-49 lawatan luar negeri

Prabowo menjadi pemimpin ASEAN yang paling sering lawatan ke luar negeri, terutama sepanjang 2025 lalu. Setidaknya, sudah 29 negara dikunjungi Prabowo sejak awal masa kepresidenannya.

Beberapa negara yang berulang kali dikunjungi antara lain Amerika Serikat, Rusia, China, Jepang, Inggris, Prancis, Mesir, Qatar, Arab Saudi, dan Korea Selatan.

Ada tiga faktor utama di balik lawatan Prabowo ke luar negeri:

1. Diplomasi investasiPrabowo agresif mencari investasi industri, energi, pangan, dan pertahanan.

2. Ambisi geopolitik IndonesiaIndonesia mulai lebih aktif di BRICS, G20, dan Indo-Pasifik.

3. Diplomasi personalPrabowo dikenal sangat mengandalkan hubungan langsung antarpemimpin dunia. Bahkan mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pernah menyebut Prabowo berpotensi menjadi “foreign policy president”.

2. PM Malaysia Anwar Ibrahim

•Tahun 2025: sekitar 20–25 lawatan internasional•Januari–Mei 2026: sekitar 6–8 lawatan•Total periode 2025–Mei 2026: sekitar 26–33 perjalanan

Perdana Menteri (PM) Malaysia Anwar Ibrahim termasuk pemimpin ASEAN paling aktif setelah Prabowo.

Pada 2025, Malaysia menjadi Ketua ASEAN sehingga aktivitas luar negerinya melonjak drastis. Dia rutin menghadiri KTT ASEAN, BRICS, Shangri-La Dialogue, forum ekonomi global, hingga kunjungan bilateral ke Eropa, Timur Tengah, China, dan Brasil.

Berbeda dengan Prabowo yang sangat geopolitik dan strategis, Anwar lebih fokus pada masalah investasi, semikonduktor, AI, energi, dan perdagangan internasional.

Reuters melaporkan Malaysia sedang berupaya menjadi pusat semikonduktor dan energi Asia, sehingga Anwar aktif berburu investor global.

3. PM Singapura Lawrence Wong

•Tahun 2025: sekitar 15–18 lawatan•Januari–Mei 2026: sekitar 4–5 lawatan•Total periode 2025–Mei 2026: sekitar 19–23 perjalanan

Sebagai pemimpin baru Singapura, PM Lawrence Wong melanjutkan tradisi diplomasi agresif Singapura.

Dia aktif menghadiri G20, APEC, ASEAN, Commonwealth Summit, forum investasi global, dan kunjungan bilateral ke India, Australia, Selandia Baru, hingga Timur Tengah.

Mengapa Singapura sangat aktif? Karena ekonomi Singapura sangat bergantung pada perdagangan global, investasi asing, jalur logistik, dan stabilitas geopolitik.

Akibatnya, diplomasi internasional menjadi “mesin ekonomi” Singapura.

4. Presiden Filipina Ferdinand Marcos Jr

•Tahun 2025: sekitar 12–15 lawatan•Januari–Mei 2026: sekitar 4–5 lawatan•Total periode 2025–Mei 2026: sekitar 16–20 perjalananMarcos Jr sangat aktif terutama dalam kerja sama militer, keamanan Indo-Pasifik, hubungan dengan AS dan Jepang, serta isu Laut China Selatan.

Filipina kini menjadi salah satu mitra pertahanan utama Washington di Asia Tenggara.

5. PM Thailand Paetongtarn Shinawatra

•Tahun 2025: sekitar 10–12 lawatan•Januari–Mei 2026: sekitar 3–4 lawatan•Total periode 2025–Mei 2026: sekitar 13–16 perjalanan

Thailand masih relatif lebih fokus pada stabilitas politik domestik dan pemulihan ekonomi. Namun Bangkok tetap aktif menjaga hubungan dengan China, Jepang, AS, dan ASEAN.

6. Sultan Brunei Darussalam Hassanal Bolkiah

•Tahun 2025: sekitar 6–8 lawatan•Januari–Mei 2026: sekitar 2–3 lawatan•Total 2025–Mei 2026: sekitar 8–11 perjalanan

Berbeda dari pemimpin ASEAN lain, Sultan Hassanal Bolkiah cenderung menjalankan diplomasi yang lebih terbatas dan eksklusif.

Lawatan utamanya biasanya meliputi KTT ASEAN, kunjungan kerajaan, hubungan bilateral dengan Malaysia dan Singapura, serta forum energi dan Islam internasional.

Salah satu lawatan penting terjadi saat Sultan Hassanal Bolkiah melakukan kunjungan resmi ke Malaysia pada Agustus 2025.

Mengapa tidak terlalu sering bepergian? Beberapa faktornya: usia sultan yang kini mendekati 80 tahun, ukuran negara yang kecil, serta tradisi diplomasi Brunei yang lebih tenang dan tertutup.

Brunei juga sangat stabil secara ekonomi karena sektor minyak dan gas, sehingga tidak perlu “agresif” mencari investasi seperti Indonesia atau Malaysia.

7. Presiden Vietnam To Lam

•Tahun 2025: sekitar 14–18 lawatan•Januari–Mei 2026: sekitar 5–6 lawatan•Total 2025–Mei 2026: sekitar 19–24 perjalananPemimpin Vietnam termasuk yang cukup aktif di panggung internasional, tetapi gaya diplomatik Hanoi jauh lebih hati-hati dibanding negara-negara ASEAN lainnya.

Presiden To Lam aktif menghadiri forum keamanan, memperkuat hubungan dengan AS dan China, serta menjaga keseimbangan geopolitik Vietnam.

Reuters melaporkan To Lam melakukan rangkaian lawatan ke Filipina, Thailand, dan Singapura pada Mei 2026.

8. Presiden Laos Thongloun Sisoulith

•Tahun 2025: sekitar 10–13 lawatan•Januari–Mei 2026: sekitar 4–5 lawatan•Total 2025–Mei 2026: sekitar 14–18 perjalanan

Untuk ukuran Laos, aktivitas internasional Presiden Thongloun sebenarnya cukup tinggi.

Sepanjang 2025–2026 dia tercatat melakukan kunjungan ke Rusia, Korea Selatan, Vietnam, China, hingga forum SCO.

Kunjungan ke Rusia pada Juli–Agustus 2025 menjadi salah satu lawatan penting Presiden Laos. Dia juga melakukan kunjungan kenegaraan ke Korea Selatan dan Vietnam pada akhir 2025 dan awal 2026.

Pemimpin Laos aktif lawatan ke luar negeri karena tekanan utang luar negeri, ketergantungan ekonomi pada China, dan kebutuhan investasi infrastruktur.

Karena itu, diplomasi ekonomi Laos menjadi jauh lebih aktif dibanding era sebelumnya.

9. PM Kamboja Hun Manet

•Tahun 2025: sekitar 9–12 lawatan•Januari–Mei 2026: sekitar 3–4 lawatan•Total 2025–Mei 2026: sekitar 12–16 perjalanan

PM Hun Manet membawa gaya diplomasi yang lebih modern dibanding era Hun Sen. Dia aktif membangun citra sebagai pemimpin muda, reformis, dan terbuka terhadap investasi Barat meski hubungan Kamboja dengan China tetap sangat dominan.

Namun aktivitas luar negerinya masih belum setinggi pemimpin ASEAN lainnya karena Phnom Penh masih fokus konsolidasi domestik.

10. Presiden Myanmar Min Aung Hlaing

•Tahun 2025: sekitar 4–6 lawatan•Januari–Mei 2026: sekitar 2–3 lawatan•Total 2025–Mei 2026: sekitar 6–9 perjalanan

Presiden Min Aung Hlaing menjadi pemimpin ASEAN dengan aktivitas diplomatik paling terbatas.

Penyebabnya jelas: sanksi internasional, isolasi politik, dan perang saudara pascakudeta 2021.

Min Aung Hlaing, yang sebelumnya adalah jenderal tertinggi Myanmar, lebih banyak melakukan lawatan ke: Rusia, China, Belarusia, dan beberapa negara sahabat junta militer.

Reuters melaporkan Myanmar masih berupaya memperkuat hubungan dengan Rusia dan India.

11. Presiden Timor-Leste José Ramos-Horta

•Tahun 2025: sekitar 14–17 lawatan•Januari–Mei 2026: sekitar 5–6 lawatan•Total 2025–Mei 2026: sekitar 19–23 perjalanan

Meski Timor Leste merupakan anggota baru ASEAN, Presiden Ramos-Horta tergolong sangat aktif secara diplomatik.

Dia aktif melobi keanggotaan ASEAN sebelum akhirnya resmi diterima, mencari investasi, dan membangun hubungan dengan negara Barat maupun Asia Tenggara.

Sepanjang 2025, dia tercatat melakukan lawatan ke Malaysia, Monaco, Bulgaria, Inggris, Indonesia, dan berbagai forum internasional.

Presiden Ramos-Horta aktif berdiplomasi karena mencari investor baru untuk Timor-Leste dan mencoba mengurangi ketergantungan ekonomi pada minyak dan gas.

Topik Menarik