China Sebut Jepang Hancur Jika Hidupkan Lagi Militerisme, Tokyo Marah
Pemerintah Jepang marah dan menyampaikan "stern demarche" kepada China melalui jalur diplomatik. Kemarahan ini dipicu oleh komentar diplomat utama Beijing, Wang Yi, yang menuduh "kekuatan sayap kanan" di Jepang berupaya menghidupkan kembali militerisme.
Berbicara di Konferensi Keamanan Munich di Jerman pekan lalu, Wang memberikan pendapatnya tentang hubungan Beijing saat ini dengan Tokyo—yang telah berada di bawah tekanan berat sejak Perdana Menteri Sanae Takaichi memberikan komentar tentang Taiwan pada bulan November.
Baca Juga: Jepang Rampas Kapal China dan Tangkap Kaptennya, Bisa Picu Perseteruan Baru
"Rakyat Jepang tidak boleh lagi membiarkan diri mereka dimanipulasi atau ditipu oleh kekuatan sayap kanan tersebut, atau oleh mereka yang berupaya menghidupkan kembali militerisme," kata Wang.
“Semua negara pencinta damai harus mengirimkan peringatan yang jelas kepada Jepang: jika Jepang memilih untuk mundur dari jalan ini, mereka hanya akan menuju kehancuran diri sendiri," lanjut Wang.
Kementerian Luar Negeri Jepang menolak klaim diplomat China tersebut dalam sebuah unggahan di media sosial pada hari Minggu, menyebutnya sebagai “tidak benar secara faktual dan tidak berdasar.”“Upaya Jepang untuk memperkuat kemampuan pertahanannya merupakan respons terhadap lingkungan keamanan yang semakin parah dan tidak ditujukan terhadap negara ketiga tertentu,” kata kementerian itu dalam sebuah pernyataan, seperti dikutip AFP, Senin (16/2/2026)."Ada negara-negara di komunitas internasional yang telah dengan cepat meningkatkan kemampuan militer mereka dengan cara yang tidak transparan, tetapi Jepang menentang langkah-langkah tersebut dan menjauhkan diri dari mereka," lanjut pernyataan tersebut.
Menurut kementerian itu, Menteri Luar Negeri Toshimitsu Motegi juga memperjelas pendiriannya pada sesi lain konferensi di Munich, diikuti oleh protes keras terhadap pihak China melalui jalur diplomatik.
Ketika baru beberapa minggu menjabat, PM Takaichi mengatakan Jepang akan melakukan intervensi militer dalam setiap serangan China terhadap Taiwan.
Beijing mengeklaim pulau demokratis yang memerintah sendiri itu sebagai bagian dari wilayah China dan telah mengancam akan menggunakan kekuatan untuk menguasainya.
Sebelum menjadi PM wanita pertama Jepang pada bulan Oktober, Takaichi dipandang sebagai sosok yang keras terhadap China.
Dia mengatakan pekan lalu bahwa di bawah kepemimpinannya, Jepang—yang menampung sekitar 60.000 personel militer AS—akan memperkuat pertahanannya dan "dengan teguh melindungi" wilayahnya.









