Loading...
Loading…
Joe Biden di Ambang Kemenangan Pilpres AS?

Joe Biden di Ambang Kemenangan Pilpres AS?

Global | republika | Kamis, 05 November 2020 - 21:31

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA - Capres pejawat Donald Trump masih berpotensi kembali membuat kejutan seperti pada Pemilu 2016 yang indikasinya terlihat ketika dia memenangi beberapa negara bagian suara mengambang penting yang menurut berbagai jajak jajak pendapat pra-Hari Pemilu 3 November justru bakal disapu oleh calon presiden dari Partai Demokrat Joe Biden.

Namun dengan tinggal enam suara elektoral lagi yang mesti diraih Biden untuk memenangi pemilu kali ini, sepertinya Trump akan terpaksa menerima kenyataan bahwa dia bisa menjadi presiden pertama sejak George H.W. Bush yang gagal memperoleh masa jabatan keduanya di Gedung Putih.

Perhitungan sejumlah media Amerika Serikat seperti Associated Press dan USA Today menunjukkan Joe Biden sudah mengumpulkan 264 suara elektoral. Jumlah itu mendekati syarat 270 suara elektoral untuk bisa dinyatakan memenangi pemilu AS.

Jumlah 270 suara elektoral adalah separuh plus satu dari total 538 suara elektoral yang ada pada pemilu kali ini. Pemilu AS ditentukan oleh sebuah konsep lembaga bernama Electoral College yang pada pemilu kali ini beranggotakan 538 elektor atau suara elektoral. Jumlah ini sama dengan total anggota Kongres.

Kongres terdiri atas dua kamar yakni majelis tinggi Senat yang beranggotakan 100 senator dan majelis rendah atau House of Representative (DPR) yang saat ini beranggotakan 438 orang. Jumlah anggota DPR bisa berubah mengikuti perkembangan demografi penduduk, tetapi jumlah anggota Senat tetap 100.

Tidak seperti umumnya negara demokrasi seperti Indonesia, proses pemilihan presiden AS diadakan tidak langsung. Meskipun kertas suara berisi nama-nama calon presiden, pemilih sebenarnya mencoblos elektor tiap negara bagian di mana pemilih berada.

Setiap negara bagian mendapatkan jatah suara elektoral berbeda-beda sesuai dengan jumlah penduduk negara bagian. Komposisinya bisa berubah mengikuti perkembangan demografis di masing-masing negara bagian.

Dalam kerangka Electoral College itu, pemilu AS memiliki aturan winner takes all yang artinya calon presiden yang memenangkan suara mayoritas di sebuah negara bagian adalah kandidat yang memenangkan semua jatah suara elektoral di negara bagian itu. Namun ketentuan ini tidak berlaku di dua dari 50 negara bagian yang ada di AS yakni Maine dan Nebraska.

Misalnya jika Trump memenangkan 52 persen suara di Texas sedangkan Biden mendapatkan 48 persen suara pemilih di negara bagian itu, maka seluruh jatah 38 suara elektoral Texas diberikan kepada Trump. Pada Pemilu 2016, Trump meraih 304 suara elektoral. Sedangkan lawannya saat itu, Hillary Clinton, memperoleh 227 suara elektoral.

Berdasarkan proyeksi tabulasi suara dari Associated Press dan USA Today, Biden sudah mengumpulkan 264 suara elektoral dari 22 negara bagian termasuk negara bagian bersuara elektoral terbanyak Kalifornia yang memiliki 54 suara elektoral, ditambah daerah khusus ibu kota District of Columbia.

Sampai tulisan ini disiarkan, Biden tengah menggenggam keunggulan di Nevada yang memiliki jatah enam suara elektoral. Jika terus mempertahankan keunggulan ini maka Biden dipastikan memenangi pemilu. Biden juga menempel ketat Trump di Pennsylvania, North Carolina, dan Georgia.

Trump untuk sementara memenangkan 23 negara bagian. Kemenangan ini termasuk negara bagian berjatah suara elektoral besar seperti Texas sebanyak 38 suara elektoral dan negara bagian suara mengambang dengan suara elektoral terbesar Florida (29 suara elektoral).

Trump juga dipastikan mendapatkan Alaska, selain tengah unggul tipis di Pennsylvania, North Carolina, dan Georgia. Namun Trump harus hati-hati, apa yang terjadi pada Wisconsin dan Michigan di mana Biden tiba-tiba menyalip pada saat-saat terakhir (terutama karena masuknya surat suara lewat pos yang baru dihitung kemudian) bisa saja terjadi di tiga negara bagian suara mengambang medan pertarungan suara yang utama itu.

Original Source

Topik Menarik