Malaysia Gempar! 10 Politisi, Termasuk Menteri, Diperas dengan Video Seks AI
Sebanyak 10 politisi Malaysia, termasuk Menteri Komunikasi Fahmi Fadzil, dilaporkan telah diperas kelompok penipu dengan video seks palsu yang dibuat menggunakan kecerdasan buatan (AI). Polisi setempat kini turun tangan menyelidiki kasus ini.
Para politisi tersebut telah menerima email berisi ancaman penyebaran video seks buatan AI yang menampilkan wajah mereka kecuali mereka membayar USD100.000 (Rp1,6 miliar).
Fahmi mengatakan pada hari Minggu bahwa politisi lain yang menjadi sasaran di antaranya mantan menteri ekonomi yang juga Anggota Parlemen Pandan Rafizi Ramli, Anggota Parlemen Subang Wong Chen, Anggota Parlemen Sungai Petani Taufiq Johari, dan Wakil Menteri Pemuda dan Olahraga Adam Adli.
Baca Juga: Albania Ingin Ganti Para Menteri yang Korupsi dengan AI, Indonesia Berani Tiru?
Fahmi menambahkan, anggota dewan eksekutif Selangor Najwan Halimi dan Fahmi Ngah, serta Senator Manolan Mohamad dan Anggota Parlemen Kulim Wong Chia Zen juga termasuk di antara mereka yang menerima ancaman tersebut.Media lokal melaporkan bahwa Wakil Menteri Perkebunan dan Komoditas Chan Foong Hin, Anggota Parlemen Tasek Gelugor Wan Saifal Wan Jan, dan Anggota Parlemen Bangi Syahredzan Johan juga menerima email ancaman serupa.
Menurut mantan Menteri Perekonomian Rafizi dan Anggota Parlemen Subang Wong, email yang mereka terima pada hari Jumat juga menyertakan kode QR untuk mentransfer uang.
Wong, yang telah menjadi anggota Parlemen selama 13 tahun, mengatakan dia tidak pernah merasa kurang aman sebagai anggota Parlemen dibandingkan saat ini.
“Ironisnya, sebagai anggota Parlemen dari Partai Keadilan Rakyat, partai yang berkuasa di pemerintahan Madani, saya merasa kurang aman sebagai anggota Parlemen sekarang dibandingkan dengan masa pemerintahan saya sebelumnya sebagai anggota Parlemen oposisi,” ujarnya dalam sebuah pernyataan pada hari Minggu.
Dalam sebuah pernyataan di hari yang sama, Direktur Departemen Investigasi Kriminal Polisi Diraja Malaysia, M Kumar, mengatakan empat laporan polisi telah diajukan.Menurutnya, kasus pertama dilaporkan oleh Anggota Parlemen Subang, Wong, pada 12 September.
Pengirim mengancam bahwa jika tidak membayar dalam waktu tiga hari, video porno palsu yang menggunakan wajahnya akan disebarkan di media sosial.
Senator Nelson W Angang, Anggota Parlemen Kulim, Wong, dan Anggota Parlemen Sungai Petani, Taufiq Johari, kemudian mengajukan laporan polisi, yang semuanya menunjukkan bahwa mereka menerima tuntutan serupa.
"Polisi Diraja Malaysia menangani laporan-laporan ini dengan sangat serius," kata Kumar, seperti dikutip dari Bernama, Senin (15/9/2025).
"Kami akan mengambil tindakan tegas, komprehensif, dan tanpa kompromi terhadap pihak mana pun yang terlibat dalam memproduksi, mendistribusikan, atau menggunakan materi tersebut," ujarnya.Menurut Kumar, semua laporan tentang upaya pemerasan sedang diselidiki berdasarkan Pasal 385 Undang-Undang Pidana tentang pemerasan dan Pasal 233 Undang-Undang Komunikasi dan Multimedia 1998 tentang penyalahgunaan fasilitas atau layanan jaringan.
Jika terbukti bersalah berdasarkan Pasal 385, pelaku dapat menghadapi hukuman penjara hingga tujuh tahun, denda, cambuk, atau kombinasi dari hukuman-hukuman tersebut.
Sementara itu, Pasal 233 memiliki hukuman maksimum RM500.000 (Rp1,9 miliar) dan hukuman penjara hingga dua tahun.
Kumar menambahkan bahwa polisi sedang bekerja sama dengan Komisi Komunikasi dan Multimedia Malaysia (MCMC) untuk melacak pengirim email dan informasi relevan lainnya untuk penyelidikan lebih lanjut.
Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa email-email tersebut menggunakan susunan kata yang hampir sama, memiliki tangkapan layar yang sama, dan diyakini dikirim dari alamat email yang sama.Fahmi mengatakan bahwa pemerintah menanggapi insiden ini dengan serius dan telah menginstruksikan MCMC untuk bekerja sama dengan kepolisian guna melacak mereka yang bertanggung jawab atas ancaman email tersebut, yang tampaknya dilakukan melalui Gmail.
Fahmi menambahkan, kementeriannya akan meminta bantuan Google untuk mengidentifikasi pihak yang bertanggung jawab atas pembuatan dan pengiriman email tersebut.
Dalam sebuah unggahan Facebook, Fahmi juga membagikan tangkapan layar sebagian email yang diterimanya pada 12 September, yang tampaknya berasal dari alamat Gmail.




