Qatar Dinilai Dikhianati Trump usai Dibom Israel, Padahal Sudah Memberi Jet Mewah Rp6,5 Triliun
Empat bulan lalu, keluarga Kerajaan Qatar memberi Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump sebuah jet mewah Boeing 747-8 seharga USD400 juta (lebih dari Rp6,5 triliun). Namun, pada hari Selasa, Doha dibombardir Israel dengan pemberitahuan dari Amerika datang terlambat.
Apa yang dialami Qatar ini dinilai sebagai pengkhianatan oleh Trump, yang selama ini sesumbar bahwa kerajaan tersebut merupakan sekutu dekat Washington.
Pengeboman Israel di Doha diklaim menargetkan para pemimpin Hamas. Tel Aviv mengeklaim telah mendapat restu dari Presiden Trump. "Sayangnya, sudah terlambat untuk menghentikan serangan itu," kata Trump dengan acuh tak acuh, sambil mengakui bahwa Israel telah memberi tahu AS tentang serangan tersebut.
Baca Juga: Israel Serang Qatar, PM Al Thani: Akan Ada Respons Kolektif Negara-negara Teluk!
Faktanya, seorang pejabat Gedung Putih mengatakan kepada The Times of Israel bahwa AS memang telah diberitahu jauh sebelumnya. Namun, peringatan AS kepada Qatar, disengaja atau tidak, tampaknya terlalu sedikit dan terlambat.
Qatar mengatakan pemberitahuan dari Amerika datang 10 menit setelah serangan udara Israel dimulai. "Panggilan telepon yang diterima dari seorang pejabat Amerika terjadi tepat saat ledakan terjadi," tulis juru bicara Kementerian Luar Negeri Qatar Majed al-Ansari di X, seperti dikutip India Today, Jumat (12/9/2025).
Serangan ini juga mengungkap permainan ganda Trump yang terobsesi dengan Hadiah Nobel Perdamaian.Serangan Israel terjadi ketika para pemimpin politik Hamas berkumpul di Doha untuk membahas proposal terbaru AS terkait gencatan senjata di Gaza setelah "peringatan terakhir" Trump untuk menyepakati kesepakatan."Bahwa 'peringatan terakhir' akan berakhir begitu cepat sungguh di luar imajinasi siapa pun. "Kami menganggap pemerintah AS bertanggung jawab bersama atas kejahatan ini," kata Hamas.
Serangan itu bukan hanya pukulan telak bagi kredibilitas internasional Trump, tetapi juga bagi ambisinya yang digembar-gemborkan sendiri untuk menjadi pembawa perdamaian global.
Qatar bereaksi dengan geram, menyebut serangan Israel tersebut sembrono dan pengecut.
Menteri Luar Negeri Qatar melangkah lebih jauh, menyebut serangan Israel sebagai "terorisme negara".
"Qatar mengerahkan semua alat untuk menanggapi serangan itu, melampaui pernyataan dan kecaman," ujarnya lebih lanjut.
Baru empat bulan yang lalu, Trump dihadiahi sebuah jet mewah Boeing 747-8, yang dijuluki "istana terbang" senilai $400 juta oleh keluarga Kerajaan Qatar. Hadiah diberikan saat kunjungan Trump ke Qatar—kunjungan pertama ke negara Teluk tersebut oleh seorang Presiden AS yang sedang menjabat. Trump juga mengamankan kesepakatan ekonomi senilai USD243,5 miliar dari Qatar, yang juga merupakan lokasi pangkalan militer AS terbesar—Pangkalan Udara Al Udeid—di Timur Tengah.
Sebagai sekutu utama non-NATO, Qatar juga membantu evakuasi ribuan warga negara Amerika dari Afghanistan. Putra Trump, Eric, juga mendapatkan kesepakatan untuk lapangan golf bermerek Trump di Qatar.
Lebih dari itu, Qatar telah menjadi pemain sentral dalam upaya diplomatik Trump di Timur Tengah. Negara Teluk ini telah berperan sebagai mediator dan tuan rumah bagi gencatan senjata dan negosiasi perdamaian antara Hamas dan Israel selama berbulan-bulan.
Selain itu, Qatar penting bagi AS karena memiliki hubungan baik dengan Iran, dan para pejabat Amerika melihatnya sebagai peluang untuk komunikasi jalur belakang dengan Teheran.
Namun, semua itu tidak menjadi masalah karena Qatar diserang udara oleh Israel. Operasi tersebut melibatkan 15 jet tempur Israel.
Ironisnya, kesepakatan yang didukung AS-lah yang memungkinkan Hamas membuka kantor politiknya di Doha pada tahun 2012. Di balik itu, terdapat langkah AS untuk membangun jalur komunikasi tidak langsung dengan kelompok teroris Palestina tersebut.Namun, pertaruhan berbahaya Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu tampaknya telah gagal. Dalam sebuah pernyataan, Hamas mengatakan para pemimpin puncaknya selamat dari serangan Israel, sementara lima anggota berpangkat rendah tewas. Seorang personel keamanan Qatar juga tewas.
Yang terjadi selanjutnya adalah serangkaian sinyal yang ambigu dan membingungkan dari AS dan Trump.
Sekretaris Pers Gedung Putih, Karoline Leavitt, mengatakan kepada wartawan bahwa Trump segera memerintahkan utusan khusus Steve Witkoff untuk memberi tahu Qatar tentang serangan yang akan datang. Sambil menyebut insiden itu "disayangkan", dia mengatakan bahwa melenyapkan Hamas adalah "tujuan yang mulia".
Trump juga buru-buru mengklarifikasi bahwa dia memang terburu-buru memberi tahu Qatar ketika dia diberitahu tentang hal itu. "Ini bukan situasi yang baik...kami tidak senang dengan bagaimana hal itu terjadi," kata Trump dalam pernyataan awal kepada wartawan.
Trump kemudian mengunggah pernyataan terbaru di Truth Social di mana dia dengan tegas menyatakan bahwa keputusan serangan itu "tidak dibuat oleh saya".
Dia mengeluarkan teguran yang jarang terjadi terhadap Netanyahu. "Pengeboman sepihak di Qatar, negara berdaulat dan sekutu dekat AS, yang bekerja sangat keras dan berani mengambil risiko bersama kami untuk menengahi perdamaian, tidak memajukan tujuan Israel atau Amerika," kata Trump.Trump juga meyakinkan Qatar bahwa hal itu tidak akan terjadi lagi. Bahkan Netanyahu dengan cepat menegaskan bahwa serangan itu semata-mata merupakan operasi Israel.
Serangan tersebut tampaknya telah menebarkan ketidakpercayaan antara negara-negara Arab dan Amerika Serikat karena mereka dengan suara bulat mengutuk serangan Israel. Ini merupakan pertunjukan persatuan yang langka di antara negara-negara di kawasan yang jarang memiliki pandangan yang sama—Iran, Arab Saudi, Yordania, Uni Emirat Arab, dan Turki.
Hal ini juga kemungkinan akan menunda negosiasi gencatan senjata untuk sementara waktu dan menggagalkan upaya untuk memulangkan sandera Israel yang tersisa.
Media sosial juga dipenuhi dengan unggahan tentang "pengkhianatan besar" Trump terhadap Qatar.
"AS baru saja menyetujui pemboman ilegal terhadap sekutunya sendiri, Qatar, yang darinya Trump baru saja menerima pesawat, dan di mana Eric Trump baru saja membuka lapangan golf?" tulis jurnalis Inggris-Amerika Mehdi Hasan di X.
Penulis dan analis geopolitik Dr Andreas Krieg juga mengisyaratkan bahwa AS telah menikam Qatar dari belakang. "Qatar tidak mungkin diperingatkan sebelumnya tentang serangan ini. Mereka seharusnya memastikan tidak ada korban jiwa," tulisnya di X.









