Fantastis! 5 Negara Ini Pernah Cetak Uang Kertas Bernominal 1 Juta hingga 100 Triliun
Bayangkan di dompet atau saku Anda tersimpan selembar kertas dengan nominal 100.000.000.000.000 atau 100 dolar. Uang kertas dengan nominal fantastis itu nyata dan pernah dikeluarkan beberapa negara di masa lalu akibat hiperinflasi.
Fenomena ini bukan sekadar catatan unik dalam sejarah moneter dunia, melainkan juga cermin rapuhnya stabilitas ekonomi suatu negara ketika dilanda hiperinflasi.
Pemicu hiperinflasi tersebut antara lain perang, krisis politik, kegagalan kebijakan ekonomi, dan runtuhnya kepercayaan rakyat terhadap nilai tukar.
Uniknya, negara-negara Eropa termasuk di antara mereka yang mencetak uang kertas bernominal tak wajar tersebut.
Baca Juga: Viral! Uang Tunai Venezuela yang Berlimpah Dibuang ke Tempat Sampah
5 Negara yang Pernah Cetak Uang Kertas Bernominal Sangat Besar
1. Zimbabwe
♦Uang Kertas Bernominal Terbesar: ZD100.000.000.000.000 (100 triliun dollar Zimbabwe).Zimbabwe adalah contoh paling terkenal dari kasus ini dalam sejarah modern. Pada tahun 2008–2009, akibat hiperinflasi yang mencapai 89,7 sekstiliun persen per tahun (angka dari Dana Moneter Internasional atau IMF), pemerintah terpaksa mencetak uang dengan nominal gila-gilaan.Ironisnya, selembar uang kertas 100 triliun dolar itu tidak cukup untuk membayar ongkos bus. Saat itu, warga Zimbabwe membutuhkan setumpuk uang kertas bernominal besar hanya untuk membeli beberapa kebutuhan rumah tangga.
John Wolstencroft, seorang investor swasta, pernah membeli banyak uang itu. "Saya selalu merasa uang itu bisa menjadi pembuka percakapan yang bagus," katanya, seperti dikutip The Guardian.
Pada tahun 2010-2011, Wolstencroft tinggal di Selandia Baru dan bergabung dengan sebuah klub investasi, yang sebagian besar beranggotakan penduduk lokal dan ekspatriat Amerika Serikat. Saat itu, eksperimen besar bank sentral berupa pelonggaran kuantitatif dan kebijakan suku bunga 0 membuat banyak orang gelisah. Dia membawa beberapa lembar uang Zimbabwe ke pertemuan pertamanya untuk diberikan sebagai ucapan terima kasih karena telah mengizinkannya bergabung dengan klub, tetapi ternyata ada lebih banyak orang di sana daripada yang dia duga.
"Saya tidak punya cukup uang untuk dibagikan," katanya. "Orang-orang mulai menawari saya uang untuk membelinya. Saya mencoba menjelaskan bahwa itu hanya hadiah, tetapi mereka malah menaikkan tawaran. Saat itu saya menyadari bahwa uang-uang ini akan menjadi barang koleksi."
Penyebab utama kebijakan Zimbabwe itu adalah kombinasi dari sanksi internasional, konflik politik, dan kebijakan tanah kontroversial Presiden Robert Mugabe yang menghancurkan sektor pertanian. Pada akhirnya, dolar Zimbabwe ditinggalkan, dan negara itu beralih menggunakan dolar Amerika Serikat serta rand Afrika Selatan.
2. Hongaria
♦Uang Kertas Bernominal Terbesar: 100.000.000.000.000 (100 triliun) Pengő.Hongaria pasca-Perang Dunia II mencatat sejarah sebagai negara dengan hiperinflasi terburuk yang pernah ada.
Pada tahun 1946, pemerintah mencetak uang kertas dengan pecahan 100 triliun Pengő.Inflasi saat itu begitu cepat sehingga harga bisa naik dua kali lipat dalam hitungan jam. Bahkan, pemerintah sempat berencana mengeluarkan pecahan 1 kuadriliun Pengő, tetapi keburu menggantinya dengan mata uang baru, Forint, yang masih dipakai hingga sekarang.
Uang kertas bernominal fantastis itu sekarang tinggal kenangan. Saat ini, nominal terbesar dari uang kertas yang dicetak Hongaria adalah 20.000 Forint.
Hongaria memang anggota blok Uni Eropa, namun ia belum mengadopsi mata uang Euro dan masih mempertahankan mata uang Forint.
3. Yugoslavia
♦Uang Kertas Bernominal Terbesar: 500.000.000.000 (500 miliar) Dinar.Pada dekade 1990-an, Yugoslavia diguncang perang saudara dan embargo internasional. Perekonomian runtuh total.
Pada tahun 1993 hingga 1994, pemerintah mencetak uang kertas dengan pecahan terbesar, yakni 500 miliar dinar.
Ironisnya, uang itu tak ada nilainya keesokan harinya. Rakyat negara tersebut membawa tas penuh uang hanya untuk membeli sekilo roti.
Hiperinflasi Yugoslavia bahkan mencapai 313 juta persen per bulan, salah satu yang terparah dalam sejarah.
Senasib dengan uang kertasnya, negara Yugoslavia juga pada akhirnya tamat karena terpecah menjadi banyak negara.Yugoslavia awalnya dibentuk setelah Perang Dunia I tahun 1918 sebagai Kerajaan Serb, Kroat, dan Slovene. Ia lalu berubah nama menjadi Kerajaan Yugoslavia pada 1929.
Setelah Perang Dunia II, ia menjadi Republik Federal Sosialis Yugoslavia di bawah kepemimpinan Josip Broz Tito (1945–1980).
Setelah Tito meninggal dan krisis politik-ekonomi melanda, muncul konflik etnis dan nasionalisme yang memicu perang pada awal 1990-an.
Yugoslavia sekarang tinggal nama dan bubar menjadi Slovenia (merdeka 1991), Kroasia (merdeka 1991), Bosnia dan Herzegovina (merdeka 1992), Makedonia Utara (merdeka 1991), Montenegro (merdeka 2006), dan Serbia (penerus resmi terakhir Yugoslavia).
4. Jerman
♦Uang Kertas Bernominal Terbesar: 100.000.000.000.000 (100 triliun) Deutsche Mark.Jerman dulunya bernama Republik Weimar. Pada awal 1920-an, setelah kalah dalam Perang Dunia I, Jerman terbebani utang reparasi perang yang sangat besar.
Hiperinflasi ini menciptakan trauma mendalam dalam psikologi ekonomi bangsa Jerman, yang pada akhirnya menjadi salah satu alasan kuatnya kebijakan anti-inflasi Bank Sentral Eropa (ECB) di era modern.
Pada 1948–1990, Deutsche Mark (DM) dipakai di Jerman Barat, sementara Jerman Timur menggunakan mata uang Ostmark.Pada 1990–2002, setelah reunifikasi Jerman, Deutsche Mark menjadi mata uang resmi seluruh Jerman.
Namun, sejak 1 Januari 2002, Jerman resmi beralih ke Euro bersama negara-negara Uni Eropa lainnya.
Uniknya meskipun sudah tidak berlaku, Deutsche Mark masih bisa ditukar ke Euro di Bundesbank (Bank Sentral Jerman) sampai hari ini, tanpa batas waktu.
5. Venezuela
♦Uang Kertas Bernominal Terbesar: 1.000.000 (1 juta) BolívarDi era kontemporer, Venezuela menjadi contoh nyata kegagalan ekonomi akibat ketergantungan pada minyak dan salah urus politik.
Pada Maret 2021, pemerintah meluncurkan pecahan 1 juta Bolívar, namun nilainya hanya sekitar USD0,5 di pasar internasional.
Uang Bolívar sempat kehilangan nilai drastis sehingga rakyat lebih memilih menggunakan dolar AS atau bahkan barter makanan.
Pemerintah Presiden Nicolás Maduro akhirnya melakukan redenominasi, memangkas enam nol dari mata uang pada Oktober 2021.







