AS Kerahkan 10 Jet Tempur Siluman F-35 setelah 2 F-16 Venezuela Terbang di Atas Kapal Perang Amerika

AS Kerahkan 10 Jet Tempur Siluman F-35 setelah 2 F-16 Venezuela Terbang di Atas Kapal Perang Amerika

Global | sindonews | Minggu, 7 September 2025 - 06:08
share

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump telah mengerahkan 10 jet tempur siluman F-35 ke Puerto Riko sebagai bagian dari "perang melawan kartel narkoba". Pengerahan F-35 itu terjadi setelah pesawat tempur Venezuela terbang di atas kapal perang Amerika Serikat, yang menurut Washington merupakan manuver provokasi.

Sumber-sumber yang mengetahui pengerahan jet tempur canggih AS itu telah berbicara kepada kantor berita AFP dan Reuters, Minggu (7/9/2025), di tengah meningkatnya ketegangan antara Washington dengan Caracas.

Menurut sumber-sumber tersebut, ke-10 jet tempur F-35 akan bergabung dengan kapal-kapal perang AS yang telah dikerahkan ke Karibia selatan, seiring langkah Trump yang meningkatkan tekanan terhadap Presiden Venezuela Nicolas Maduro—yang dituduh Amerika Serikat memimpin kartel narkoba.

Baca Juga: Jet Tempur Venezuela Provokasi Kapal Perang AS

Masih menurut sumber-sumber tersebut, ke-10 jet tempur F-35 AS dikerahkan ke sebuah lapangan terbang di Puerto Riko, sebuah wilayah kepulauan Karibia milik AS yang berpenduduk lebih dari tiga juta jiwa.

Pada hari Kamis, Pentagon mengatakan dua pesawat militer Venezuela terbang di dekat sebuah kapal Angkatan Laut AS di perairan internasional, menggambarkannya sebagai langkah yang sangat provokatif.Seorang pejabat AS, yang berbicara dengan syarat anonim, mengatakan dua F-16 Venezuela terbang di atas USS Jason Dunham pada hari Kamis.

USS Dunham adalah salah satu dari setidaknya tujuh kapal perang AS yang dikerahkan ke Karibia, membawa lebih dari 4.500 pelaut dan marinir.

Marinir AS dan pelaut dari Unit Ekspedisi Marinir ke-22 juga telah melakukan pelatihan amfibi dan operasi penerbangan di Puerto Riko selatan.

Pasukan AS pada hari Selasa meledakkan sebuah "kapal narkoba" yang diduga milik Tren de Aragua, sebuah organisasi kriminal Venezuela yang ia kaitkan dengan Maduro. Serangan itu menewaskan 11 orang.

Maduro mengecam peningkatan kekuatan AS tersebut sebagai "ancaman terbesar yang pernah dihadapi benua kita dalam 100 tahun terakhir."

Menyatakan negaranya siap untuk perjuangan bersenjata dalam mempertahankan wilayah nasional, Maduro telah memobilisasi militer Venezuela, yang berjumlah sekitar 340.000 orang, dan pasukan cadangan, yang dia klaim melebihi delapan juta."Jika Venezuela diserang, negara ini akan segera memasuki periode perjuangan bersenjata," kata Maduro kepada para koresponden asing.

Serangan mematikan AS pada hari Selasa terhadap apa yang disebut Washington sebagai "kapal pembawa narkoba" merupakan eskalasi besar, serta penggunaan militer AS yang tidak biasa untuk apa yang secara historis merupakan masalah penegakan hukum.

"Venezuela sangat buruk, baik dalam hal narkoba maupun mengirimkan beberapa penjahat terburuk di dunia ke negara kami," kata Trump kepada wartawan di Oval Office, Rabu.

Saat ini terdapat delapan kapal Angkatan Laut AS yang terlibat dalam upaya kontra-narkotika di Amerika Latin: tiga kapal serbu amfibi, dua kapal perusak, satu kapal penjelajah, dan satu kapal tempur pesisir di Karibia, serta satu kapal perusak di Pasifik timur, kata seorang pejabat pertahanan AS pekan ini tanpa menyebut nama.

Departemen Pertahanan AS—yang diubah namanya oleh Trump menjadi Departemen Perang— mengatakan bahwa dua pesawat rezim Maduro terbang di dekat sebuah kapal AS pada hari Kamis."Langkah yang sangat provokatif ini dirancang untuk mengganggu operasi kontra-narkotika-teror kami," katanya di X.

Departemen tersebut tidak memberikan rincian lebih lanjut. Venezuela memiliki 15 jet tempur F-16 yang dibeli dari Amerika Serikat pada tahun 1980-an ditambah sejumlah pesawat tempur dan helikopter Rusia.

Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio membela pendekatan agresif baru terhadap apa yang disebut Washington sebagai kelompok "narkoteroris" dalam kunjungannya ke Amerika Latin pada Rabu lalu.

"Yang akan menghentikan mereka adalah ketika Anda meledakkan mereka, ketika Anda menyingkirkan mereka," kata Rubio di Meksiko.

"Jika Anda berada di atas kapal penuh kokain atau fentanil menuju Amerika Serikat, Anda merupakan ancaman langsung bagi Amerika Serikat."Caracas menuduh Washington melakukan pembunuhan di luar hukum dalam serangan tersebut.

Anggota Parlemen AS Ilhan Omar, seorang Demokrat dari Minnesota, sementara itu mengutuk apa yang disebutnya sebagai tindakan "melanggar hukum" Trump di Karibia selatan.

"Kongres belum menyatakan perang terhadap Venezuela, atau Tren de Aragua, dan penetapan suatu kelompok sebagai organisasi teroris semata tidak memberikan Presiden wewenang penuh untuk mengabaikan kewenangan konstitusional Kongres yang jelas dalam masalah perang dan perdamaian," ujar Omar dalam sebuah pernyataan.

Para pejabat AS belum menjelaskan secara gamblang apa justifikasi hukum yang digunakan untuk serangan udara hari Selasa terhadap kapal tersebut atau narkoba apa saja yang ada di dalamnya.

Trump mengatakan pada hari Selasa, tanpa memberikan bukti, bahwa militer AS telah mengidentifikasi awak kapal tersebut sebagai anggota geng Tren de Aragua.

Topik Menarik