Thailand Sangkal Jet Tempur F-16-nya Ditembak Jatuh Kamboja dalam Pertempuran
Angkatan Udara Kerajaan Thailand (RTAF) membantah laporan media yang menyebut satu dari enam jet tempur F-16 yang dikerahkan telah ditembak jatuh pasukan Kamboja dalam pertempuran pada hari Kamis. RTAF mengonfirmasi seluruh jet tempurnya pulang dengan selamat setelah melakukan misi pengeboman terhadap sebuah brigade Kamboja.
Menurut sebuah unggahan Facebook oleh RTAF, laporan dari media Kamboja yang menuduh F-16 Angkatan Udara Thailand jatuh pada hari sebelumnya adalah "sama sekali tidak benar".
RTAF mengimbau masyarakat untuk hanya mengandalkan sumber berita yang kredibel untuk mendapatkan informasi terbaru.
Baca Juga: Perang Sengit, Kamboja Dilaporkan Tembak Jatuh 1 dari 6 Jet Tempur F-16 Thailand
Wilayah Komando Angkatan Darat Kedua, dalam sebuah unggahan di halaman Facebook-nya, juga memberikan konfirmasi serupa."Angkatan Udara Kerajaan Thailand mengonfirmasi bahwa semua F-16 kembali ke rumah dengan selamat setelah menjalankan misi untuk menghancurkan brigade Kamboja," paparnya, Jumat (25/7/2025).
Sebelumnya, jurnalis veteran Kamboja, Soy Sopheap, melaporkan Thailand mengerahkan enam jet tempur F-16, dengan satu di antaranya ditembak jatuh dalam pertempuran hari Kamis.
Soy Sopheap mengeklaim laporannya bersumber dari Angkatan Darat Kamboja. Phnom Penh Post melaporkan pertempuran berlangsung di sepanjang perbatasan antara Thailand dan Kamboja, di titik-titik konflik utama: Kuil Ta Mone Thom, Kuil Ta Krabey, wilayah Mom Bei, dan dekat Kuil Preah Vihear.
Perang kedua negara telah menewaskan 14 orang tewas di Thailand, yakni satu tentara dan 13 warga sipil. Di pihak Kamboja, empat warga sipil terluka.
Kedua belah pihak saling menembakkan senjata ringan, artileri, dan roket. Juru bicara Kementerian Pertahanan Thailand, Surasant Kongsiri, mengatakan pertempuran terjadi di setidaknya enam wilayah. Itu terjadi sehari setelah ledakan ranjau darat di sepanjang perbatasan melukai lima tentara Thailand dan menyebabkan Bangkok menarik duta besarnya dari Kamboja serta mengusir utusan Kamboja untuk Thailand.
Pada hari Jumat, pejabat tinggi Kamboja di provinsi Oddar Meanchey, Jenderal Khov Ly, mengatakan pertempuran kembali terjadi dini hari di dekat kuil kuno Ta Muen Thom.
Jurnalis Associated Press di dekat perbatasan melaporkan telah mendengar suara tembakan artileri sejak dini hari.
Pejabat itu juga mengatakan bahwa setidaknya empat warga sipil terluka dalam pertempuran hari Kamis di sana dan lebih dari 4.000 orang telah mengungsi dari desa-desa mereka di sepanjang perbatasan ke pusat-pusat evakuasi. Ini adalah laporan pertama tentang korban jiwa dari pihak Kamboja.
Eskalasi ini merupakan contoh langka konflik militer antara negara-negara anggota Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN), meskipun Thailand sebelumnya pernah berselisih dengan Kamboja di perbatasan dan telah terlibat dalam pertempuran sporadis dengan negara tetangga di barat, Myanmar.
"Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres mendesak kedua belah pihak untuk menahan diri semaksimal mungkin dan menyelesaikan masalah apa pun melalui dialog," kata wakil juru bicara PBB Farhan Haq.









