Ini Momen Pria Druze Dieksekusi Milisi Suriah, Ditanya: Muslim atau Druze?

Ini Momen Pria Druze Dieksekusi Milisi Suriah, Ditanya: Muslim atau Druze?

Global | sindonews | Kamis, 24 Juli 2025 - 11:27
share

Sebuah video seorang pria Druze dieksekusi oleh para milisi loyalis pemerintah Suriah telah memicu kemarahan di seluruh negara tersebut. Sebab, korban ditanya tentang agamanya sebelum akhirnya ditembak mati.

Momen eksekusi itu menambah parahnya kekerasan sektarian setelah rezim Bashar al-Assad digulingkan kelompok pemberontak pimpinan Ahmed al-Sharaa—yang sekarang menjadi presiden sementara Suriah.

Bentrokan sengit telah pecah di provinsi selatan Sweida antara milisi Druze, milisi Badui Sunni, dan pasukan pemerintah al-Sharaa baru-baru ini. Lebih dari 1.000 orang tewas, sebagian besar warga sipil.

Baca Juga: Perang Saudara Suriah Tewaskan 1.120 Orang di Sweida, Druze dan Badui Saling Bantai

Pasukan milisi Suriah yang bersekutu dengan pemerintah al-Sharaa di Damaskus telah dituduh melakukan eksekusi singkat di provinsi tersebut, pusat komunitas Druze Suriah.

Dalam video yang telah beredar luas di internet, seorang pria paruh baya tampak duduk di tanah dengan senjata dibidikkan kepadanya.

Ketika ditanya tentang agamanya, pria yang terduduk di tanah itu menjawab, "Saya orang Suriah."

"Apa arti orang Suriah, [Anda] Muslim atau Druze?" teriak milisi bersenjata itu kepadanya, sementara pria bersenjata lainnya terdengar berkata, "Dia Druze, dia Druze, dokumen identitasnya menunjukkan dia Druze.""[Apakah Anda] Druze atau bukan?" tanya milisi bersenjata itu sambil mengarahkan senjatanya, yang kemudian dijawab oleh korban, "Saya Druze", sebelum akhirnya ditembak berulang kali, dan kemudian meninggal dunia, sebagaimana dikutip dari The New Arab, Kamis (24/7/2025).

Orang-orang bersenjata itu kemudian mulai meneriakkan takbir.

Jaringan Hak Asasi Manusia Suriah mengatakan pihaknya telah mencatat 558 kematian dalam kekerasan di Sweida hingga Senin malam. Pemantau perang lainnya, Observatorium Hak Asasi Manusia Suriah, mengatakan lebih dari 1.300 orang telah tewas.

Bentrokan pecah di Sweida awal bulan ini antara faksi Druze dan milisi suku Badui Sunni menyusul laporan perampokan bersenjata terhadap pedagang dan serangkaian penculikan balasan.

Kekerasan dengan cepat meningkat menjadi bentrokan sektarian, menewaskan ratusan orang dan memaksa puluhan ribu orang mengungsi, dengan kedua belah pihak dituduh melakukan kejahatan.

Situasi relatif tenang setelah gencatan senjata diberlakukan selama akhir pekan menyusul intervensi Amerika Serikat, meskipun pasukan pemerintah al-Sharaa belum dapat dikerahkan di Sweida, sementara ribuan orang masih mengungsi.

Keluarga-keluarga Badui baru-baru ini telah dievakuasi dari provinsi yang bermasalah tersebut, yang menurut pemerintah Suriah bersifat sementara.Puluhan video telah viral selama seminggu terakhir, dilaporkan menunjukkan pasukan dari Kementerian Pertahanan dan Dalam Negeri membunuh atau menculik orang-orang.

Meskipun banyak orang di media sosial mengeklaim bahwa para penyerang dalam video eksekusi pria tersebut adalah pasukan pemerintah, hal ini belum terkonfirmasi, meskipun mereka terlihat mengenakan seragam militer.

Klaim lain mengatakan bahwa mereka mungkin anggota milisi Badui atau milisi Sunni lainnya.

Pria yang terbunuh itu diidentifikasi berasal dari keluarga Al Rojme, menurut akun Facebook yang diduga milik keponakannya.

Tanda pagar seperti "Saya orang Suriah" dan "Apa arti orang Suriah" telah menjadi tren daring, menjadi pengingat yang mengerikan tentang bagaimana identitas nasional runtuh di bawah beban sektarianisme yang meningkat.

Negara ini telah terguncang oleh perang saudara yang brutal selama 14 tahun, yang dimulai ketika rezim Bashar al-Assad bereaksi terhadap protes damai dengan kekerasan militer pada tahun 2011.

Pada bulan Desember tahun lalu, sebuah aliansi pemberontak, yang dipimpin oleh kelompok Islamis Hayat Tahrir al-Sham (HTS) yang sekarang telah bubar, mempelopori serangan kilat yang menggulingkan Assad dari kekuasaan.Namun, serangkaian kekerasan di seluruh negeri yang khususnya menyasar kelompok minoritas, seperti pembantaian di wilayah pesisir mayoritas Alawite pada bulan Maret, pertempuran sebelumnya dengan Druze, dan bom bunuh diri di sebuah gereja di Damaskus bulan ini, telah menimbulkan kekhawatiran yang mendalam bagi minoritas agama dan etnis.

Pertumpahan darah ini merupakan tantangan besar bagi pemerintahan al-Sharaa, yang sedang berupaya membangun kembali hubungan internasional, menyatukan negara, dan mencari bantuan asing serta mengintegrasikan jaringan kelompok bersenjata yang berbeda ke dalam angkatan bersenjata pemerintah.

Al-Sharaa sendiri memimpin HTS, yang sebelumnya merupakan cabang al-Qaeda di Suriah, tetapi memutuskan hubungan dengannya pada tahun 2017.

Kekejaman Berulang di Suriah

Video orang-orang bersenjata yang mengeksekusi pria Druze secara sepihak atas identitas agamanya bukanlah yang pertama muncul dalam kekerasan di Sweida.

Video lain yang menjadi viral menunjukkan tiga pria dipaksa melompat dari balkon ketika pemerintah atau pasukan yang berafiliasi dengan pemerintah menerobos masuk ke rumah mereka.

"Ayo, lemparkan diri kalian!" teriak para pria bersenjata itu berulang kali.

Saat ketiga pria itu melompati balkon, mereka ditembak beberapa kali.Kemudian terungkap bahwa mereka adalah saudara kandung dari keluarga Arnous-dua dokter dan seorang insinyur.

Dalam insiden lain, beberapa pria dari keluarga yang sama dieksekusi di sebuah bundaran di Suweida ketika pasukan pemerintah menyerbu kota tersebut.

Dalam sebuah video, setidaknya enam pria dari keluarga Saraya dan seorang kerabat lainnya terlihat dipaksa berjalan kaki ke bundaran Tishreen di Sweida dengan todongan senjata sebelum ditembak mati. Di antara mereka terdapat seorang warga negara Amerika-Suriah.

Seorang akademisi yang sedang berkunjung ke Suriah Setelah 12 tahun, dia juga termasuk di antara ratusan orang yang tewas.

"Dengan hati yang hancur, kami mengucapkan selamat tinggal kepada sepupu saya, Dr Firas Abu Latif, seorang akademisi Suriah-Prancis yang baik dan brilian," tulis Samer Fahed dalam sebuah unggahan di X, dengan foto-foto Abu Latif.

"Dia ditemukan terbunuh dan dibakar di rumahnya di Sweida, setelah penggerebekan brutal oleh pasukan dari 'Kementerian Pertahanan' dan 'Direktorat Keamanan Umum' yang dipimpin oleh HTS dan presiden transisi Suriah yang baru," ujarnya.

"Dr Firas adalah seorang peneliti yang dihormati di Prancis, dengan spesialisasi di bidang Data Mining. Dia mendedikasikan hidupnya untuk sains, kebenaran. Dia terbunuh saat berlibur bersama keluarganya di Suriah setelah lebih dari 12 tahun meninggalkan Suriah," imbuh dia.

Topik Menarik