Sekolah Ditutup, Anak-Anak Afghanistan Terpaksa Kerja di Ladang Opium Milik Taliban

Global | inewsid | Published at Sabtu, 29 Agustus 2020 - 14:39
Sekolah Ditutup, Anak-Anak Afghanistan Terpaksa Kerja di Ladang Opium Milik Taliban

KABUL, iNews.id - Warga Afghanistan yang kehilangan pekerjaan setelah roda perekonomian terhambat akibat dampak pandemi Covid-19 beralih ke budidaya opium untuk mendapatkan uang.

Afghanistan telah lama menjadi penghasil opium teratas di dunia, menghasilkan lebih dari 80 persen pasokan global dan memperkerjakan ratusan ribu orang.

Kebijakan pemerintah Afghanistan memberlakukan penguncian wilayah guna memutus penyebaran Covid-19 menyebabkan perdagangan terhenti, dan banyak usaha mikro maupun makro terpaksa memberhentikan staf.

Situasi ini memperparah angka pengangguran di negara yang pernah dilanda perang tersebut dimana lapangan pekerjaan yang stabil sangat langka.

"Karena virus corona, saya kehilangan pekerjaan. Saya punya keluarga dengan 12 anggota keluarga, saya pencari nafkah," kata Fazily (42 tahun) seorang mekanik di Provinsi Uruzgan dikutip dari AFP, Sabtu (29/8/2020).

Setelah tempat bekerjanya tutup dan pekerja terpaksa dirumahkan, Fazily dan banyak warga Afghanistan lainnya beralih profesi jadi petani opium.

"Saya tidka punya cara lain selain bekerja di ladang opium untuk menghasilkan uang," lanjutnya.

Bukan cuma mereka yang masuk dalam kategori usia kerja, para siswa sekolah yang tidak dapat pergi ke sekolah karena lockdown juga mengisi waktu dengan bekerja di perkebunan opium untuk mendapatkan uang.

"Sekolah kami tutup dan saya punya cukup waktu untuk bekerja di ladang opium dan menghasilkan uang," kata Nazir Ahmad, seorang siswa berusia 18 tahun di Kandahar.

"Sekitar 2 teman sekelas saya juga bekerja di sini," lanjutnya.

Para pemilik ladang opium biasanya mengandalkan tenaga kerja musiman dari Pakistan untuk panen musim semi dan musim panas, tetapi pandemi virus corona membuat banyak petani musiman tidak mau atau tidak dapat keluar rumah untuk bekerja.

Sebuah laporan yang diterbitkan oleh Kantor PBB untuk Narkoba dan Kejahatan (UNODC) pada Juni menemukan banyak pemilik ladang opium di barat dan selatan Afghanistan kekurangan tenaga kerja akibat penutupan perbatasan dengan Pakistan.

Terlepas dari banyaknya program pemberantasan selama bertahun-tahun, petani Afghanistan terus menanam bungan poppy (opium) tanpa takut tersentuh hukum. Sebab, pejabat pemerintah dan milisi Taliban sering kali mendapat untung dari perdagangan bahan baku obat bius tersebut.

Sebagian besar produksi opium berpusat di perbukitan bagian selatan yang dikuasai Taliban, serta di perbatasan timur negara itu dengan Pakistan.

Taliban telah lama mengambil keuntungan dari bunga poppy dengan mengenakan pajak pada petani dan pedangang, dan menjalankan pabrik pengolahan mengubah opium mentah menjadi morfin atau heroin untuk eskpor ke Pakistan dan Iran.

Artikel Asli