Artis Pembangkang China Bikin Film Wuhan, Sebut Beijing Tutupi Pandemi Covid-19

Global | sindonews | Published at Sabtu, 29 Agustus 2020 - 00:47
Artis Pembangkang China Bikin Film Wuhan, Sebut Beijing Tutupi Pandemi Covid-19

WUHAN - Artis pembangkang China, Ai Weiwei, membuat film rahasia berjudul "Coronation" di Wuhan, kota di China tengah yang menjadi asal mula pandemi virus corona baru (Covid-19). Film dibuat selama lockdown ketat di Wuhan, yang dia arahkan dari Eropa, tempat pengasingannya.

Seniman yang dikenal secara internasional, yang telah menarik perhatian pada pelanggaran hak asasi manusia dan korupsi pemerintah di China dengan karyanya, mengatakan dia memiliki tim kamera di lapangan untuk merekam selama karantina di kota tempat para ahli kesehatan mengatakan Covid-19 pertama kali muncul tahun lalu. (Baca: Ilmuwan China Lari ke AS: Covid-19 Dibuat di Lab Militer Partai Komunis)

"China telah mengambil status adikuasa di panggung global, namun tetap kurang dipahami oleh negara lain," bunyi pernyataan Ai di situs web resminya. "Melalui lensa pandemi, 'Coronation' dengan jelas menggambarkan manajemen krisis China dan mesin kontrol sosial—melalui pengawasan, pencucian otak ideologis, dan tekad kasar untuk mengontrol setiap aspek masyarakat."

Selama lebih dari dua bulan, 11 juta penduduk Wuhan mengalami lockdown atau penguncian ketat saat virus corona SARS-CoV-2 penyebab Covid-19 menyebar.

Wuhan adalah pusat penyebaran virus corona baru di China dan mengalami kematian penduduk terbanyak. Kota dan sebagian besar provinsi sekitarnya dikunci dari akhir Januari hingga awal April. Orang-orang tidak dapat meninggalkan atau memasuki kota dan kebanyakan dibatasi pada rumah mereka. (Baca: Ahli Virus China Melarikan Diri ke AS, Sebut Beijing Menutup-nutupi Corona)

Penyebaran penyakit telah dihentikan di China, meskipun wabah yang terisolasi muncul secara sporadis.

"Film ini menunjukkan perubahan yang terjadi di kota dan ruang individu di bawah pengaruh virus; ini menggambarkan nilai kehidupan individu dalam lingkungan politik, merefleksikan kesulitan yang kita hadapi sebagai individu dan negara dalam konteks globalisasi. Pada akhirnya, akibatnya adalah masyarakat tidak memiliki kepercayaan, transparansi, dan rasa hormat terhadap kemanusiaan. Terlepas dari skala dan kecepatan penguncian Wuhan yang mengesankan, kita menghadapi pertanyaan yang lebih eksistensial: dapatkah peradaban bertahan hidup tanpa kemanusiaan? Bisakah negara bergantung satu sama lain tanpa transparansi atau kepercayaan?," bunyi pernyataan promosi film karya Ai.

Ai mengatakan kepada The Associated Press awal musim panas ini bahwa teman-teman artisnya di Wuhan telah mengiriminya rekaman, bahkan dari rumah sakit, memberinya visual multi-sudut dari momen-momen kota yang rentan dan cepat selama penguncian yang belum pernah terjadi sebelumnya. (Baca juga: Sehari Bertambah 3.003 Kasus, Total 165.887 Orang Positif Covid-19)

"Saya pikir China telah menanganinya lebih baik (daripada SARS) karena mereka jauh lebih berpengalaman," kata Ai, yang dilansir Fox News, Jumat (28/8/2020). Namun dia mengatakan masih kurangnya transparansi.

"Mereka (pemerintah China) dengan sengaja menutupi-nutupi seluruh pandemi sebagai hal rahasia selama berminggu-minggu," kata Ai. "Dalam arti tertentu, mereka tidak akan pernah berubah."

Ai ditangkap di bandara Beijing pada April 2011 dan ditahan selama 81 hari tanpa penjelasan.

"Saya menghilang," katanya, mengacu pada hukuman penjara lebih dari dua bulan.

Setelah dibebaskan, China mengatakan Ai telah mengaku melakukan penggelapan pajak dan denda USD2,4 juta. Dia telah meninggalkan China dengan paspor China-nya dan secara hukum memiliki hak untuk kembali ke tanah airnya. Kunjungan terakhirnya ke tempat lahirnya adalah beberapa bulan setelah dia pertama kali pergi pada Juli 2015.

Artikel Asli