Loading...
Loading…
Russia Serang Konvoi  Kemanusiaan di Zaporizhzhia

Russia Serang Konvoi Kemanusiaan di Zaporizhzhia

Global | koran-jakarta.com | Sabtu, 01 Oktober 2022 - 05:22

MOSKWA - Sebuah serangan terhadap konvoi kemanusiaan yang membawa warga sipil di garis depan di Ukraina selatanpada Jumat (30/9) mengakibatkan tewasnya sedikitnya 25 orang. Serangan itu terjadi hanya selang beberapa jam sebelum rencana Moskwa untuk mencaplok empat wilayah Ukraina yang diduduki.

Presiden Vladimir Putin pada Jumat menyatakan bahwa Russia siap untuk secara resmi menganeksasi Kherson, Zaporizhzhia, Donetsk, dan Luhansk, yang sebagian besar diduduki pasukannya pada sebuah upacara akbar di Kremlin.

Keempat wilayah ini setelah dianeksasi akan menciptakan koridor darat penting antara Russia dan Semenanjung Crimea yang dianeksasi oleh Moskwa pada 2014.

Putin sebelumnya telah memperingatkan bahwa dia bisa menggunakan senjata nuklir untuk mempertahankan kendali di wilayah itu saat Amerika Serikat (AS) memimpin sekutu Barat untuk bersumpah tidak akan pernah untuk mengakui wilayah itu sebagai apapun selain bagian dari Ukraina.

Juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov, mengatakan kepada wartawan bahwa pencaplokan akan diresmikan pada sebuah acara di mana Putin akan menyampaikan pidato utama. Dalam pidatonya, Presiden Putin memperingatkan negara-negara Barat bahwa orang-orang yang tinggal di empat wilayah Ukraina yang diduduki Moskwa adalah warga negara Russia selamanya.

"Saya ingin mengatakan ini kepada rezim Kyiv dan penguasa di Barat. Orang-orang yang tinggal di wilayah Lugansk, Donetsk, Kherson dan Zaporizhzhia menjadi warga negara kami selamanya," kata Putin seraya menambahkan bahwa mereka telah membuat pilihan yang jelas untuk bergabung dengan Russia.

Pada Kamis lalu, Presiden AS,Joe Biden, mengatakan bahwa Amerika tidak akan pernah mengakui kedaulatan Russia atas wilayah yang ditetapkan untuk aneksasi. Sedangkan Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres, mengutuk pencaplokan itu dan menyebut aneksasi secara resmi itu sebagai eskalasi berbahaya yang tidak memiliki tempat di dunia modern.

Namun sebelum Putin membacakan pidatonya, pada Jumat pagi seorang pejabat Ukraina melaporkan bahwa telah terjadi sebuah serangan terhadap konvoi kemanusiaan di Zaporizhzhia di selatan yang menewaskan sedikitnya 25 orang dan serangan konvoi itu terjadi saat warga sipil bersiap hendak pergi menjemput kerabat mereka.

"Dua puluh lima tewas dan sekitar 50 terluka dalam serangan oleh militer Russia terhadap konvoi kemanusiaan di Zaporizhzhia. Investigasi diluncurkan," tulis kantor kejaksaan di media sosial Telegram .

Seorang fotografer AFP melaporkan dari lokasi serangan konvoi bahwa mayat-mayat yang mengenakan pakaian sipil dibiarkan tergeletak di tanah setelah serangan itu terjadi dan ia melihat jendela-jendela mobil yang ikut dalam konvoi kemanusiaan itu pecah.

"Hanya teroris biadab yang bisa melakukan semua ini," kata Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy. "Begundal haus darah! Kalian harus bertanggung jawab atas insiden mengerikan ini," imbuh dia.

Menurut keterangan Gubernur Zaporizhzhia, Oleksandr Starukh, pihak militer Russia menyerang konvoi kemanusiaan sipil ini saat meninggalkan pusat kota. "Musuh meluncurkan roket ke arah konvoi sipil ini," kata Starukh.

Namun kepala daerah pro-Kremlin bernama Vladimir Rogov, menuding pasukan Ukraina yang melakukan aksi teroris ini. "Rezim di Kyiv mencoba menggambarkan apa yang terjadi sebagai penembakan oleh pasukan Russia, menggunakan provokasi keji," kata Rogov di media sosial.

Kepung Lyman

Sementara itu di garis depan pertempuran dilaporkan bahwa serangan Ukraina dengan sistem artileri presisi yang dipasok AS telah menewaskan seorang kepala keamanan senior di wilayah yang dikuasai Russia.

Tak hanya itu, pasukan Ukraina juga dilaporkan tengah berada di ambang gerbang Kota Lyman di Donetsk, yang telah ditaklukkan oleh pasukan Moskwa selama berminggu-minggu sejak musim panas lalu.

"Lyman sebagian terkepung," kata Denis Pushilin, pemimpin pro-Moskwa di wilayah Donetsk yang memisahkan diri, lewat media sosial. "Dua desa terdekat tidak sepenuhnya di bawah kendali kami," imbuh dia. AFP/I-1

Original Source

Topik Menarik