Loading...
Loading…
Bergejolak, Iran Minta AS Sampai Inggris Tak Campuri Kematian Wanita Kurdi

Bergejolak, Iran Minta AS Sampai Inggris Tak Campuri Kematian Wanita Kurdi

Global | koran-jakarta.com | Senin, 26 September 2022 - 14:20

Pemerintah Iran memanggil duta besar Inggris dan Norwegia atas apa yang disebutnya sebagai "campur tangan" terkait liputan media yang bermusuhan ketika memberitakan kerusuhan nasional yang dipicu oleh kematian seorang wanita setelah ditahan oleh polisi moral Iran.

Menteri Luar Negeri Hossein Amirabdollahian juga mengkritik dukungan Amerika Serikat (AS) untuk banyak orang yang telah bergabung dengan protes yang melanda kota-kota di Iran.

Demonstrasi meletus lebih dari seminggu yang lalu setelah wanita Kurdi berusia 22 tahun bernama Mahsa Amini, meninggal dalam tahanan usai ditangkap oleh polisi.

Mengutip kantor berita Associated Press, Amini meninggal di rumah sakit pada hari Jumat (16/9), atau dua hari setelah ditangkap oleh polisi moral karena tidak mengenakan jilbab dan celana panjangnya dengan benar.

Petugas penegak hukum mengatakan kematiannya akibat serangan jantung. Namun, beberapa laporan di media sosial menunjukkan bahwa wanita muda itu meninggal karena luka yang diderita saat dalam tahanan.

Kematian Amini menjadi kisah tragis teranyar yang memicu kemarahan di jalan-jalan atas perlakuan tidak bertanggung jawab dan terkadang brutal yang diberikan kepada wanita oleh aparat kepolisian moral Iran.

Perempuan dan laki-laki turun ke jalan-jalan di kota-kota di seluruh Iran pada Selasa (21/9), empat hari usai kematian Amini. Petisi lokal telah mulai menyerukan pembubaran polisi moral, mengatakan tindakan mereka menegakkan jilbab kontraproduktif dan diskriminatif.

Bentrokan berlanjut antara pasukan keamanan dan pengunjuk rasa di beberapa wilayah barat laut, menurut sumber di kota Tabriz, Urmia, Rasht dan Hamedan. Aktivis mengatakan ada juga protes di distrik ibukota, Teheran.

Mengutip Reuters, kepala kebijakan luar negeri Uni Eropa Josep Borrell mengatakan Iran harus "segera menghentikan tindakan keras terhadap protes dan memastikan akses internet". Dia juga meminta informasi tentang jumlah orang yang terbunuh dan ditangkap, dan penyelidikan atas "pembunuhan Mahsa Amini".

Amerika Serikat (AS) pada hari Kamis (22/9) menjatuhkan sanksi atas kematian Mahsa Amini usai ditahan oleh apa yang disebut sebagai "Polisi Moralitas" Iran. Departemen Keuangan AS juga memberikan sanksi kepada tujuh pejabat senior organisasi keamanan di negara Islam itu.

"Polisi Moralitas bertanggung jawab atas kematian baru-baru ini dari Mahsa Amini yang berusia 22 tahun, yang ditangkap dan ditahan karena diduga mengenakan jilbab secara tidak pantas," bunyi pernyataan Departemen Keuangan AS.

Menteri Keuangan AS Janet Yellen menggambarkan kematian Amini sebagai "tindakan kebrutalan lain oleh pasukan keamanan rezim Iran terhadap rakyatnya sendiri."

"Pemberlakuan sanksi terhadap polisi moral dan pejabat keamanan Iran menunjukkan komitmen AS yang jelas untuk membela hak asasi manusia, dan hak-hak perempuan, di Iran dan secara global," kata Yellen.

Adapun daftar individu yang terkena sanksi, yakni kepala "polisi moral" Mohammad Rostami Cheshmeh Gachi, Menteri Intelijen Iran Esmail Khatib, dan komandan Angkatan Darat Angkatan Darat Iran, Kiyumars Heidari.

"Para pejabat ini mengawasi organisasi yang secara rutin menggunakan kekerasan untuk menekan pengunjuk rasa damai dan anggota masyarakat sipil Iran, pembangkang politik, aktivis hak-hak perempuan, dan anggota komunitas Baha\'i Iran," kata Departemen Keuangan.

Sanksi itu juga termasuk pemblokiran semua properti dan kepentingan individu dan entitas yang ditargetkan di AS.

Presiden Ebrahim Raisi mengatakan Iran menjamin kebebasan berekspresi dan bahwa dia telah memerintahkan penyelidikan atas kematian Amini. Di Perserikatan Bangsa-Bangsa, dia mengatakan liputan luas kasus Amini adalah "standar ganda", menunjuk pada kematian dalam tahanan polisi AS.

Original Source