Loading...
Loading…
Mengenal Ingrid Mattson, Mualaf Paling Berpengaruh di Ormas Islam di Amerika

Mengenal Ingrid Mattson, Mualaf Paling Berpengaruh di Ormas Islam di Amerika

Global | telisik.id | Selasa, 05 Juli 2022 - 14:27

NEW YORK, TELISIK.ID - Banyak cara bagi Allah SWT untuk membukakan pintu hidayah bagi hamba-hamba yang dipilihnya. Begitupun dengan yang dialami oleh wanita asal Amerika Serikat (AS) bernama Ingrid Mattson.

Ingrid Mattson adalah seorang aktivis, profesor, mualaf muslim Kanada, serta mantan Presiden Masyarakat Islam Amerika Utara.

Ingrid Mattson pernah dinobatkan sebagai orang nomor 1 pemimpin organisasi besar dan berpengaruh di Amerika menurut Islamic Society of North Amerika (ISNA). Bahkan Pada inagurasi Barack Obama, Ingrid masuk ke dalam daftar tokoh yang diundang di acara tersebut.

Mengutip dari Republika.co.id, Undangan yang ditujukan kepada Mattson ini menuai kontroversi publik Amerika. Sebab, yang bersangkutan dicurigai jaksa federal terkait dengan jaringan teroris.

Seperti diketahui, pada Juli 2007, jaksa federal di Dallas, mengajukan tuntutan kepada ISNA karena diduga memiliki jaringan dengan Hamas organisasi Islam di Palestina yang dikelompokkan Pemerintah AS sebagai organisasi teroris. Namun, baik Mattson maupun organisasinya tidak pernah dihukum.

Jaksa hanya menyatakan memiliki bukti-bukti dan kesaksian yang dapat menghubungkan kelompok tersebut ke Hamas dan jaringan radikal lainnya.

Baca Juga :
Jasa Mualaf Pickthall Pacu Pertumbuhan Islam Usai Tragedi

Lantas bagaimana perjalanan Ingrid Mattson hingga ia bisa menjadi seorang mualaf?

Dikutip dari Merdeka.com, Ingrid Mattson dilahirkan Kitchener, Waterloo, Ontario, Kanada pada 1964. Mattson lahir dari keluarga penganut Katolik Roma yang sangat taat. Waktu kecil dia tumbuh sebagai anak yang rajin melakukan misa harian.

"Saya punya kesalehan kanak-kanak yang polos dan sederhana," ujar Ingrid dalam buku 'Seeking Truth Finding Islam (Kisah Empat Mualaf yang Menjadi Duta Islam di Barat) halaman 44.

Meski tumbuh dan besar dalam lingkungan Kristen di Kitchener, Ontario, Kanada, di usianya yang ke 16 tahun, Ingrid justru memutuskan berhenti pergi ke gereja.

Saat itu Ingrid sempat menjadi atheis alias tidak mempercayai Tuhan. Ingrid memilih fokus untuk menimba ilmu di Universitas Waterloo dan memilih jurusan Seni dan filsafat. Dan dari situ lah dirinya mengenal cahaya Islam.

Di Departemen Seni Rupa Universitas Waterloo, dia berkelana ke berbagai museum sejarah dan seni. Secara kebetulan, di Museum Louvre yang berada di tengah Kota Paris, dia berkenalan dengan beberapa Muslimah dari Senegal.

Baca Juga :
10 Poin Pernyataan Bersama MUI Dan Ormas Islam Se-Indonesia Terkait Penyerangan Masjid Al-Aqsa

Mattson terpesona dengan ketulusan dan martabat yang dia lihat dari diri teman-teman Muslimnya itu.

Dan yang membuatnya semakin tertarik dengan Islam adalah semua umat Muhammad tidak hanya mengikutinya dalam hal beribadah, tetapi juga di dalam semua aspek kehidupan, mulai dari kebersihan diri sampai pada cara bersikap terhadap anak-anak dan tetangga.

Di tahun 1986, dia lalu memutuskan bersyahadat dan menjadi muslimah. Dia pun menukar pakaiannya dengan busana muslimah lengkap dengan jilbab. Saat itu usianya 23 tahun.

Saat pertama kali salat, Mattson sangat terkejut oleh perasaan kedekatan dengan Tuhan yang telah hilang sejak remaja dari dalam dirinya. "Tuhan tidak lagi ada di gereja, tetapi ada di mana-mana. Dia ada di alam, seni dan wajah-wajah muslimah yang ikhlas," ujar Mattson.

Pada tahun 1987, Mattson lalu memutuskan pergi ke Pakistan untuk menjadi relawan kemanusiaan. Selama berada di Pakistan, Mattson akhirnya menemukan seorang pemuda yang juga menjadi relawan, Aamer Atek, seorang insinyur asal Mesir. Merasa sehati, keduanya memutuskan menikah.

Mattson mendapatkan gelar Ph.D. di studi Islam dari Universitas Chicago pada tahun 1999. Dia terus menjadi sangat aktif dalam mendidik Muslim Kanada untuk menjadi partisipan aktif dalam masyarakat Kanada pada umumnya. (C)

Penulis: Nurdian Pratiwi

Editor: Musdar

Original Source

Topik Menarik