Loading...
Loading…
Beban Juru Damai yang Diemban Jokowi Sepadan dengan Hasil yang Didapatkan?

Beban Juru Damai yang Diemban Jokowi Sepadan dengan Hasil yang Didapatkan?

Global | wartaekonomi | Senin, 04 Juli 2022 - 14:00

Kunjungan Presiden Joko Widodo (Jokowi) ke Ukraina dan Rusia tidak semata-mata membawa misi perdamaian dari Indonesia untuk dunia. Pasalnya, momen tersebut sangat berdekatan dengan agenda besar Indonesia yaitu Presidensi G20.

"Posisi dan peran misi damai Indonesia tidak bisa dilepaskan dari mandat Presidensi G20," kata Dr. Shiskha Prabawaningtyas, Direktur Paramadina Graduate School of Diplomacy (PGSD).

Menurut Shiskha, politik luar negeri Indonesia yang bebas aktif menjadi salah satu pendorong Jokowi bertemu Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky dan Presiden Rusia Vladimir Putin. Namun hal itu terlepas dari wacana dan kesepakatan lain di luar perdamaian.

Shishka juga memaparkan harapan masyarakat Indonesia atas agenda besar Jokowi ke Ukraina dan Rusia perlu mendapat sorotan. Pertama adalah inisiatif yang patut diberi apresiasi.

"Agenda KTT G20 tahun 2022 diharapkan berjalan lancar. Jangka menengah, Indonesia akan concern ke masalah tata kelola keuangan dan fiskal moneter dunia paska pandemi dan imbas perang Rusia-Ukraina terkait juga krisis pangan dunia," papar Shiskha.

Pemerintah Jokowi juga perlu memikirkan jangka panjang. Terlebih, kaitan erat dengan Indonesia sangat penting diperhatikan.

Baca Juga :
Jokowi Menerima Petrushev, Rusia Mendukung Arsitektur Keamanan Moderen Asia-Pasifik

"Jangka panjang diharapkan Perang Rusia-Ukraina tidak berlarut-larut dan mengganggu keseimbangan baru dunia," imbuhnya.

Sementara itu, direktur sekolah diplomasi itu mengungkap akar permasalahan dari perang Ukraina dan Rusia.

"Konstalasi terakhir perang Rusia dan Ukraina tidak bisa dilepaskan dari pergesekan China dan Amerika Serikat di masa Donald Trump, Tahun 2004 krisis keuangan Eropa, 2008 krisis keuangan global dan USA mendapat tantangan dari China sebagai raksasa ekonomi baru. Trump menolak kebijakan multilateralisme dan memilih back to domestic concern. Terakhir krisis pandemi Covid 19 dan berikutnya krisis pangan dunia saat ini," pungkas Shiskha.

Original Source

Topik Menarik