Loading...
Loading…
Mahathir Mohamad: Kerangka Ekonomi Indo-Pasifik Bertujuan untuk Mengisolasi China

Mahathir Mohamad: Kerangka Ekonomi Indo-Pasifik Bertujuan untuk Mengisolasi China

Global | republika | Sabtu, 28 Mei 2022 - 05:15

REPUBLIKA.CO.ID, TOKYO -- Mantan Perdana Menteri Malaysia Mahathir Mohamad mengkritik pembentukan Kerangka Ekonomi Indo-Pasifik (IPEF) yang dipimpin Amerika Serikat (AS). Mahathir mengatakan, kerangka ekonomi tersebut bertujuan untuk mengisolasi China. Menurut Mahathir, kerangka ekonomi tersebut tidak akan menguntungkan pertumbuhan ekonomi regional tanpa Beijing. Presiden AS Joe Biden meluncurkan IPEF selama kunjungan ke Jepang awal pekan ini.

Biden mengatakan, kerangka ekonomi ini akan membantu Amerika Serikat bekerja lebih erat dengan negara-negara Asia di berbagai bidang termasuk rantai pasokan, perdagangan digital, energi bersih, dan antikorupsi. AS akan selalu ingin menggunakan pengelompokan seperti ini untuk mengisolasi China. Banyak negara mengakui bahwa ini bukan pengelompokan ekonomi tetapi ini benar-benar pengelompokan politik," ujar Mahathir. IPEF ditandatangani oleh 13 negara, antara lain Australia, Brunei, India, Indonesia, Jepang, Malaysia, Selandia Baru, Filipina, Singapura, Korea Selatan, Thailand, Amerika Serikat, dan Vietnam. Secara total, mereka mewakili 40 persen dari PDB dunia. "Ini tidak baik untuk perkembangan ekonomi mereka sendiri. China adalah mitra dagang besar bagi Malaysia, kami tidak ingin melihat ketegangan, konflik apa pun dengan China dan kami berharap AS akan menyadari bahwa China ada di sana, tidak akan hilang, dan kami harus hidup dengan China yang sekarang lebih kaya dari kebanyakan negara di dunia, ujar Mahathir. Mahathir selama bertahun-tahun dipandang sebagai juru bicara de facto untuk negara-negara kurang berkembang dan sering mengkritik Barat. Dia tetap menjadi tokoh berpengaruh di Malaysia. Mahathir memimpin koalisi oposisi menuju kemenangan pemilu bersejarah pada 2018, dan menggulingkan pemerintahan yang tercemar korupsi dalam transfer kekuasaan damai pertama sejak kemerdekaan Malaysia pada 1957.

Mahathir menjadi pemimpin tertua di dunia yaitu pada usia 92 tahun. Tetapi pemerintahannya hanya berlangsung selama 22 bulan, dan runtuh karena pertikaian politik.

Baca Juga :
Biden Jamu Para Pemimpin ASEAN di Gedung Putih, Apa yang Akan Dibahas?

Original Source

Topik Menarik

{