Dengan Status Adidayanya, Amerika Tidak akan Mampu Hancurkan Nuklir Iran karena...

Global | wartaekonomi | Published at Kamis, 06 Januari 2022 - 08:08
Dengan Status Adidayanya, Amerika Tidak akan Mampu Hancurkan Nuklir Iran karena...

Mantan wakil penasihat keamanan nasional untuk otoritas Israel, Chuck Freilich, memperingatkan, secara teknis Iran memiliki waktu beberapa pekan ke depan untuk membuat senjata nuklir pertamanya.

Dalam wawancara podcast dengan Haaretz pada Selasa (4/1),Freilich mengatakan, dalam waktu setengah tahun Iran memiliki uranium yang diperkaya dengan tinggi untuk membuat bom nuklir.

Namun, itu hanya komponen uranium yang kritis. Yang lainnya adalah persenjataan, kemampuan untuk mengambil hulu ledak dan memperkecilnya, meletakkannya di rudal dan membuat hulu ledak yang dapat menahan panas dan tekanan saat masuk kembali ke atmosfer. Mereka belum ada di sana," kata Freilich, dilansir Sputnik, Rabu (5/1/2022).

Freilich yang sekarang bekerja sebagai rekan senior di Harvard's Kennedy School of Government memperingatkan, serangan Israel terhadap infrastruktur nuklir Iran hanya memperlambat waktu mereka untuk membuat senjata nuklir selama dua atau tiga tahun.

Freilich berpendapat, Iran telah melakukan pengayaan uranium yang melewati ambang batas sehingga mereka mengetahui kemampuannya. Bahkan, menurut Freilich, Amerika Serikat (AS) tidak akan mampu menghancurkan nuklir Iran.

"Jadi, bahkan jika Anda menghancurkannya menjadi abu, Iran dapat membangunnya kembali. Bahkan Amerika Serikat, dengan segala kemampuan dan status adidaya militernya, tidak dapat menghancurkan program nuklir Iran sepenuhnya karena Iran tahu bagaimana menyusun kembali," ujar Freilich.

Freilich mengatakan, jika menyerang fasilitas nuklir Iran, Israel akan menerima tindakan balasan secara langsung dari Iran maupun dari sekutu regional Teheran. Terutama dari Hizbullah di Lebanon. Freilich mengatakan, Hizbullah membangun gudang senjata dan memiliki sekitar 150 ribu roket.

Hizbullah mempunyai gudang senjata raksasa yang dibangun untuk skenario menghadapi serangan potensial dari Israel atau AS. Freilich mengatakan, jika Israel melancarkan serangan ke fasilitas nuklir Iran, mereka bisa melakukan serangan balasan skala besar melalui sekutunya di regional.

"Mereka akan menyerang kita secara besar-besaran. Mereka mulai membangun kehadiran di Suriah dan kehadiran Hizbullah di Suriah. Mereka mulai menyebarkan rudal balistik di Irak, Yaman, atau mungkin di tempat lain. Dan mereka sekarang memiliki rudal balistik, rudal jelajah, dan persenjataan drone mereka sendiri untuk menyerang kita. Jadi, saya pikir Iran akan menanggapi Israel dengan sangat keras, kata Freilich.

Freilich mengatakan, Israel akan menghadapi batasan jika situasinya meningkat menjadi konflik regional. Karena militer akan dipaksa untuk beroperasi di batas luar kemampuan. Selain itu, Israel akan dipukul secara besar-besaran dengan cara yang belum pernah dialami sepanjang sejarah.

"Kami harus siap untuk itu dan saya tidak berpikir publik Israel sepenuhnya memahami seperti apa konflik dengan Hizbullah nantinya, apakah itu terkait dengan program nuklir Iran atau tidak," ujar Freilich.

Freilich mengatakan, jika terjadi perang, infrastruktur dan ekonomi Israel akan lumpuh. Musuh-musuh Israel dapat menyerang infrastruktur sipil, dan mematikan bagian-bagian penting dari ekonomi Israel melalui serangan kinetik, serangan reguler, dan serangan dunia maya.

Namun, pada saat yang sama, Freilich percaya bahwa Teheran akan melakukan apa saja untuk membatasi respons terhadap agresi Israel.

Menurut Freilich, kepentingan Iran adalah fokus menanggapi serangan Israel dibanding AS. Hal ini bertujuan agar Iran mendapatkan dukungan internasional. Teheran ingin mendapatkan legitimasi bahwa mereka telah melancarkan agresi ke Israel.

"Kepentingan mereka adalah untuk memfokuskan tanggapan terhadap Israel. Mereka lebih siap untuk itu dan mereka membangun kemampuan. Dunia Muslim dan komunitas internasional akan memuji mereka karena melancarkan agresi Israel," kata Freilich.

Artikel Asli