Dituduh Kristenisasi Umat Hindu, India Blokir Pendanaan Asing untuk Badan Amal Bunda Teresa

Global | okezone | Published at Selasa, 28 Desember 2021 - 15:07
Dituduh Kristenisasi Umat Hindu, India Blokir Pendanaan Asing untuk Badan Amal Bunda Teresa

NEW DELHI - Pemerintah India menolak memperbarui lisensi pendanaan asing untuk badan amal yang didirikan oleh Bunda Teresa.

Misionaris Cinta Kasih memiliki ribuan biarawati yang mengawasi berbagai kegiatan amal seperti rumah bagi anak-anak terlantar, sekolah, klinik, dan panti jompo.

Di Hari Natal, Kementerian Dalam Negeri India mengumumkan tidak memperbarui lisensi itu karena "masukan yang merugikan".

Kelompok garis keras Hindu telah lama menuduh bahwa badan amal itu menggunakan programnya untuk melakukan Kristenisasi.

Misionaris Cinta Kasih telah membantah tuduhan tersebut.

Dalam sebuah pernyataan pada Senin (27/12/2021), badan amal itu mengonfirmasi bahwa permohonan pembaruan lisensi pendanaan asing telah ditolak, dan pemerintah India tidak akan membuka rekening pendanaan asing "sampai masalah tersebut diselesaikan".

Sebelumnya, Kepala Menteri Bengal Barat, Mamata Banerjee, menuai kritik setelah mencuit bahwa pemerintah telah membekukan rekening bank badan amal itu. Tetapi pemerintah dan negara bagian itu membantah bahwa akun-akun badan amal itu sudah dibekukan.

Badan amal yang berbasis di Kolkata ini didirikan pada 1950 oleh Bunda Teresa, seorang biarawati Katolik Roma yang pindah ke India dari negara asalnya, Makedonia.

Lembaga tersebut adalah salah satu badan amal Katolik paling terkenal di dunia.

Bunda Teresa dianugerahi Hadiah Nobel Perdamaian pada 1979 untuk aktivitas kemanusiaannya.

Dia ditahbiskan sebagai santa atau orang suci pada September 2016 oleh Paus Fransiskus, 19 tahun setelah kematiannya.

Pemerintahan Presiden Narendra Modi telah berusaha mencari-cari alasan untuk membekukan dana asing untuk lembaga amal dan LSM lain yang berbasis di India.

Tahun lalu, kebijakan pembatasan itu menyebabkan adanya pembekuan rekening bank milik LSM Greenpeace dan Amnesty International.

Artikel Asli