Turis Prancis yang Sudah Setahun Dipenjara di Iran Mogok Makan, Ini Alasannya

Global | inewsid | Published at Selasa, 28 Desember 2021 - 14:50
Turis Prancis yang Sudah Setahun Dipenjara di Iran Mogok Makan, Ini Alasannya

PARIS, iNews.id - Seorang turis asal Prancis yang dipenjara di Iran sejak tahun mulai mogok makan. Hal itu dia lakukan untuk memprotes penganiayaan yang dialaminya di penjara.

Benjamin Brire (36) ditangkap pada Mei 2020 setelah mengambil gambar di daerah gurun. di mana fotografi dilarang. Dia juga sempat mengajukan pertanyaan di media sosial tentang kewajiban jilbab bagi wanita di Iran.

Brire didakwa pada bulan Maret tahun ini dengan tuduhan mata-mata dan 'menyebarkan propaganda melawan sistem.

Saudara perempuan dan pengacara Brire mengatakan, dia mulai mogok makan pada Sabtu (25/12/2021) setelah 'perlakuan buruk lagi'. Saat itu, dia dilarang menerima panggilan telepon dengan keluarga pada Hari Natal.

Kepada The Associated Press, Senin (27/12/2021), saudara perempuannya, Blandine Brire, mengatakan, Briere ingin protes.

Saat ini, kami tidak melihat pergerakan apa pun, kami tidak memiliki harapan untuk perubahan, kebebasan, katanya.

Blandine Brire menggambarkan situasi 'sulit' saudara laki-lakinya yang tidak berbicara bahasa lokal, di penjara kota timur laut Mashahd. Dia mengalami 'penyiksaan psikologis' ketika penjaga menjanjikannya panggilan telepon dan kemudian dibatalkan.

Secara fisik dia baik-baik saja (sampai sekarang), tetapi secara moral dia benar-benar mulai tenggelam. Ini semakin kritis. Ini benar-benar panggilan putus asa untuk meminta bantuan, katanya.

Sebuah pernyataan dari pengacara Benjamin Brire yang berbasis di Paris, Philippe Valent mengatakan, perasaan ditinggalkan dan tertekan telah membuat kliennya mulai mogok makan. Itu dia lakukan untuk memperingatkan otoritas Iran dan otoritas Prancis tentang absurditas penahanannya.

Dia menambahkan, Brire tidak pernah dibawa ke hadapan hakim dan tidak ada tanggal untuk persidangan yang ditetapkan.

"Dia bukan mata-mata atau penjahat, tetapi seorang turis yang perjalanannya berlanjut dengan cara yang menyimpang dan tidak adil di penjara-penjara Iran," katanya.

Kementerian Luar Negeri Prancis dalam sebuah pernyataan pada Senin mengatakan, pejabat Prancis di Paris dan Teheran telah memantau situasi dengan sangat cermat. Brire telah dihubungi oleh Kedutaan Besar Prancis pada hari yang sama.

Sayang, tidak ada komentar langsung dari pejabat Iran.

Kelompok hak asasi menuduh kelompok garis keras di badan keamanan Iran menggunakan tahanan asing sebagai alat tawar-menawar uang atau pengaruh dalam negosiasi dengan Barat. Sebaliknya, Teheran menyangkalnya, tetapi ada pertukaran tahanan seperti itu di masa lalu.

Pada Maret 2020, Iran dan Prancis menukar peneliti Prancis, Roland Marchal dengan insinyur Iran, Jalal Ruhollahnejad.

Marchal ditangkap pada Juni 2019 bersama rekan peneliti Fariba Adelkhah, seorang antropolog dengan kewarganegaraan ganda Prancis-Iran. Adelkhah, yang dijatuhi hukuman lima tahun karena berkumpul dan berkolusi melawan keamanan Iran, diberikan cuti tanpa batas waktu pada Oktober 2020 dan diharuskan tinggal di rumah saudara perempuannya di Teheran dan mengenakan gelang pemantau elektronik.

Artikel Asli