Prancis Catat Rekor Tertinggi Kasus Covid-19

Global | republika | Published at Minggu, 26 Desember 2021 - 16:54
Prancis Catat Rekor Tertinggi Kasus Covid-19

REPUBLIKA.CO.ID, PARIS -- Prancis melaporkan rekor kasus Covid-19 tertinggi mencapai 104.611 kasus untuk pertama kalinya sejak pandemi dimulai, Sabtu (25/12). Jumlah ini menandai rekor tertinggi selama tiga hari berturut-turut.

Dilansir Aljazirah, Ahad (26/12), para pejabat khawatir kenaikan jumlah kasus terkait dengan varian omicron yang menyebar cepat. Otoritas kesehatan merekomendasikan orang dewasa menerima suntikan booster tiga bulan setelah menerima vaksinasi awal.

Pemerintah Prancis akan membuat kartu izin kesehatan bagi orang-orang yang telah divaksinasi. Kartu ini diperlukan untuk akses ke kafe, restoran, dan ruang publik, serta untuk perjalanan internasional.

Beberapa daerah telah memberlakukan langkah-langkah keamanan mereka sendiri. Pada akhir bulan lalu, misalnya, pejabat di Savoie, sebuah departemen di tenggara Prancis, mewajibkan pemakaian masker di ruang publik maupun di dalam ruangan.

Sejak awal Desember jumlah kasus Covid-19 di Prancis terus meningkat. Pada 4 Desember, Prancis mencatat 50 ribu kasus untuk pertama kalinya. Kasus tersebut kemudian merangkak naik hingga mencapai di atas 100 ribu.

Sejak awal pandemi, Prancis telah mencatat 122.546 kematian akibat virus corona. Sejauh ini, 76,5 persen penduduk sudah divaksinasi lengkap.

Perkembangan drastis virus corona menjadi kekhawatiran utama bagi pemerintah yang menganggap situasi kesehatan dalam status kritis. Jumlah itu sepertinya terus bertambah dalam beberapa hari ke depan. Otoritas kesehatan memperkirakan lebih dari 100 ribu kasus per hari akibat varian omicron.

Saat konferensi pers mingguan juru bicara pemerintah Gabriel Attal menyebutkan laju epidemi berpotensi meningkat akibat imbas omicron yang bakal menjadi dominan selama Natal sampai Tahun Baru. Akan tetapi, pemerintah Presiden Macron ragu-ragu untuk mengumumkan pembatasan tambahan yang dapat menghambat bisnis komersial sekaligus mengganggu perayaan Natal bagi keluarga.

Artikel Asli