Emisi Karbon Tiongkok Turun untuk Pertama Kali sejak "Lockdown"

Global | koran-jakarta.com | Published at Jumat, 26 November 2021 - 00:00
Emisi Karbon Tiongkok Turun untuk Pertama Kali sejak "Lockdown"

BEIJING - Penelitian terbaru menunjukkan emisi CO2 Tiongkok turun pada kuartal ketiga untuk pertama kalinya sejak negara itu dibuka kembali dari lockdown (penguncian) Covid-19. Para ahli mengatakan itu dapat menandai "titik balik" karbon bagi negara tersebut.

Namun, penelitian oleh Pusat Penelitian Energi dan Udara Bersih (CREA) memperingatkan ancaman perlambatan ekonomi dapat segera mendorong pihak berwenang untuk beralih ke langkah-langkah stimulus infrastruktur, yang akan meningkatkan emisi lagi. Ekonomi terbesar kedua di dunia itu telah berjanji untuk mencapai puncak emisi sebelum tahun 2030, dan mencapai netralitas karbon pada tahun 2060, tetapi pihak berwenang telah berjuang untuk melepaskan negara itu dari ketergantungannya pada bahan bakar fosil.

Emisi Tiongkok turun secara dramatis pada awal 2020 karena karantina besar-besaran yang bertujuan mengekang Covid-19, kemudian pulih ke tingkat bulanan yang lebih tinggi dari 2019 ketika kota dan pabrik dibuka kembali. Tetapi analis CREA, Lauri Myllyvirta, menemukan pada kuartal ketiga tahun ini, negara itu mencatat penurunan 0,5 persen secara tahunan.

Menurutnya, penurunan tersebut disebabkan oleh kemerosotan konstruksi setelah Beijing menindak spekulasi dan utang di sektor properti dan harga batu bara yang tinggi yang mengakibatkan penjatahan listrik di seluruh negeri.

"Penurunan emisi dapat menandai titik balik dan puncak awal total emisi Tiongkok, bertahun-tahun sebelum targetnya mencapai puncaknya sebelum 2030," kata Myllyvirta dalam laporannya, Kamis (25/11).

"Jika pemerintah Tiongkok menyuntikkan stimulus konstruksi lebih lanjut untuk meningkatkan ekonominya, emisi dapat pulih sekali lagi, sebelum memuncak akhir dekade ini," tambahnya memperingatkan.

KTT Iklim COP26 baru-baru ini mendorong komitmen iklim Tiongkok menjadi sorotan, dengan para kritikus menuduh pencemar terbesar di dunia itu tidak cukup ambisius dalam target emisinya. Kepemimpinan komunis juga menghadapi tekanan domestik untuk menangkal perlambatan ekonomi, membuat pihak berwenang enggan untuk menentukan langkah-langkah pengurangan emisi tertentu.

Artikel Asli