Perdagangan Senjata Jadi Perusak Keamanan

Global | koran-jakarta.com | Published at Kamis, 25 November 2021 - 05:41
Perdagangan Senjata Jadi Perusak Keamanan

NEW YORK - Direktur Institut Penelitian Pelucutan Senjata Perserikatan Bangsa-Bangsa (United Nations Institute for Disarmament Research/UNIDIR), Robin Geiss, pada Senin (22/11) mengatakan kepada Dewan Keamanan PBB bahwa perdagangan senjata ringan adalah faktor yang merusak perdamaian dan keamanan.

"Pengalihan dan perdagangan senjata telah mengacaukan masyarakat dan memperburuk situasi menjadi tidak aman, termasuk dengan melakukan pelanggaran serius terhadap hukum humaniter internasional dan hukum hak asasi manusia, serta kekerasan terhadap perempuan dan anak-anak dalam berbagai konteks," kata Geiss.

Dampak langsung perdagangan senjata mencakup kematian, cedera, pemidanaan, dan kerugian secara psikologis, juga konsekuensi sosial-ekonomi jangka panjang seperti akses pada kesehatan dan pendidikan, pemberian layanan kemanusiaan dan perlindungan warga sipil.

Sepanjang 2015-2020, UNIDIR mendukung 11 negara dalam melakukan pengkajian tentang pengelolaan senjata dan amunisi, atau dikenal sebagai WAM (Weapons and Ammunition Management).

Anggota Dewan Keamanan juga mendengar keterangan dari Maria Pia Devoto yang mewakili Coalicin Armas Bajo Control di Argentina, suatu koalisi yang mencakup 150 organisasi masyarakat sipil yang dibentuk untuk mengimplementasikan Perjanjian Perdagangan Dunia.

Devoto menegaskan bahwa dampak yang menghancurkan dari masalah ini dirasakan paling parah oleh masyarakat di daerah yang terkena dampak konflik, di mana senjata-senjata (yang beredar) ini melanggengkan lingkaran setan kekerasan dan ketidakamanan.

Kelalaian

Dewan Keamanan PBB melangsungkan pertemuan di bawah kepemimpinan Menteri Luar Negeri Meksiko, Marcelo Ebrard. Pertemuan ini merupakan salah satu acara penting yang menandai kepemimpinan Meksiko di Dewan Keamanan PBB pada November ini.

"Kita harus melakukan lebih banyak hal lagi untuk mengurangi pengalihan dan lalu lintas senjata api ringan dan konsekuensi negatifnya, terutama di negara-negara yang menghadapi kekerasan kriminal tingkat tinggi," ungkap Ebrard.

"Di Meksiko, kami percaya bahwa pemerintah dan sektor swasta harus bekerja sama untuk menghentikan perdagangan senjata dan dampaknya yang berbahaya bagi masyarakat," imbuh Menlu Meksiko itu.

Sebelum pertemuan itu, Ebrard mengatakan kepada wartawan bahwa di Amerika Latin sekitar 75-80 persen pembunuhan, khususnya pembunuhan terhadap perempuan, dilakukan dengan senjata yang merupakan produk perdagangan gelap.

"Kemua ini terjadi karena perusahaan yang memproduksi senjata-senjata ini telah lalai," pungkas Ebrard. VoA/I-1

Artikel Asli