Mimpi Putra Muamar Qadafi Jadi Presiden Libya Kandas

Global | sindonews | Published at Kamis, 25 November 2021 - 05:21
Mimpi Putra Muamar Qadafi Jadi Presiden Libya Kandas

TRIPOLI - Mimpi putra mendiang pemimpin Libya Muammar Qadafi , Saif Qadafi, untuk bertarung dalam pemilihan presiden (pilpres) harus dikubur dalam-dalam. Pasalnya, komisi pemilihan negara itu mencoretnya dari pencalonan dalam pemilihan presiden 24 Desember mendatang.

Media lokal melaporkan komisi pemilihan Libya menolak pencalonan Saif al-Islam Qadafi, dengan "alasan hukum", bersama beberapa kandidat seperti dilansir dari BBC, Kamis (25/11/2021).

Qadafi telah memicu kontroversi setelah dia mengumumkan akan mencalonkan diri sebagai presiden.

Dia diburu oleh Pengadilan Kriminal Internasional (ICC) atas tuduhan kejahatan perang dan pembunuhan yang dilakukan ketika ayahnya memerintah negara Afrika Utara itu.

Pencalonan orang kuat lain, Jenderal Khalifa Haftar, juga menyebabkan kegemparan di negara itu karena dia menghadapi tuntutan pidana di pengadilan Amerika Serikat (AS). Namun tidak jelas apakah dia termasuk di antara mereka yang pencalonannya ditolak.

Jaksa militer Libya telah meminta komisi pemilihan untuk berhenti memproses dokumen pencalonan Qadafi dan Haftar sampai mereka menjawab pertanyaan atas tuduhan tersebut.

Saif Qadafi mendaftar untuk mencalonkan diri pada 14 November. Dalam pengumuman yang mengejutkan, Saif, yang keberadaannya telah dirahasiakan selama beberapa bulan, menjadi kandidat kelas berat pertama yang mendaftar untuk persaingan dalam pemilihan presiden.

Dilansir dari France24 , ia telah dijatuhi hukuman mati oleh pengadilan Tripoli pada tahun 2017 karena kejahatan yang dilakukan selama pemberontakan yang menggulingkan ayahnya. Dia kemudian diampuni oleh pemerintahan saingan Tripoli di Libya timur.

Pada bulan Juli, dia muncul setelah bertahun-tahun berada dalam bayang-bayang dan mengatakan kepada The New York Times bahwa dia merencanakan comeback politik.

Dalam sebuah wawancara langka, Saif mengatakan dia ingin memulihkan persatuan yang hilang di Libya setelah satu dekade kekacauan.

Enam puluh orang mengajukan aplikasi untuk mencalonkan diri sebagai presiden Libya pada batas waktu Senin.

Aktivis hak-hak perempuan Leila Ben Khalifa (46) adalah satu-satunya calon perempuan.

Artikel Asli