Biden Mengundang Taiwan ke KTT Demokrasi

Global | koran-jakarta.com | Published at Kamis, 25 November 2021 - 00:00
Biden Mengundang Taiwan ke KTT Demokrasi

WASHINGTON - Presiden Amerika Serikat (AS), Joe Biden, telah mengundang Taiwan untuk menghadiri pertemuan puncak virtual demokrasi bersama lebih dari 100 negara, sebuah langkah yang dipastikan akan membuat marah Tiongkok, yang tidak ada dalam daftar KTT.

Konferensi tersebut merupakan janji kampanye Presiden AS, yang telah menempatkan perjuangan antara demokrasi dan "pemerintah otokratis" di jantung kebijakan luar negerinya. KTT untuk demokrasi akan berlangsung daring pada 9 dan 10 Desember, menjelang pertemuan langsung pada edisi kedua tahun depan.

Pertemuan itu sudah lama didengungkan, tetapi daftar undangan yang diterbitkan Selasa di situs web Departemen Luar Negeri, akan sorot dengan cermat. Tidak mengherankan, saingan utama AS yakni Tiongkok dan Russia tidak ada di dalamnya.

Namun AS memang mengundang Taiwan, yang tidak diakuinya sebagai negara merdeka, tetapi dianggap sebagai model demokrasi. Tiongkok menolak setiap penggunaan kata "Taiwan" yang memberikan rasa legitimasi internasional ke pulau yang memiliki pemerintahan demokratis itu, yang diklaim Beijing sebagai bagian dari wilayahnya dan telah berjanji untuk suatu hari akan direbut, jika perlu dengan paksa.

Langkah AS dijamin akan semakin mengobarkan ketegangan antara kedua negara adidaya tersebut.

"Saya setuju Taiwan lebih dari sekadar memenuhi syarat, tetapi tampaknya hanya pemerintah demokratis yang diundang yang tidak diakui secara resmi oleh pemerintah AS. Jadi, penyertaannya adalah masalah besar," cuit pakar hukum Universitas Hofstra, Julian Ku, di Twitter .

Turki, sekutu NATO yang Presidennya, Recep Tayyip Erdogan, dijuluki "otokrat" oleh Biden, juga tidak masuk daftar. Sedangkan di Timur Tengah, hanya Israel dan Irak yang diundang. Sekutu tradisional AS, seperti Mesir, Arab Saudi, Yordania, Qatar, dan Uni Emirat Arab, semuanya tidak hadir. Biden juga mengundang Brasil, yang dipimpin oleh Presiden sayap kanan kontroversial, Jair Bolsonaro.

Artikel Asli