WHO Peringatkan 700.000 Kematian Covid-19 di Eropa

Global | koran-jakarta.com | Published at Kamis, 25 November 2021 - 00:01
WHO Peringatkan 700.000 Kematian Covid-19 di Eropa

KOPENHAGEN - Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), pada Selasa (23/11), memperingatkan bahwa Eropa tetap "dalam cengkeraman kuat" Covid-19, dan jumlah kematian di benua itu bisa mencapai 2,2 juta pada musim dingin ini jika tren saat ini berlanjut.

Saat ini, Eropa sedang berjuang melawan peningkatan pandemi yang membuat Austria kembali melakukan penguncian minggu ini, sementara Jerman dan Belanda siap mengumumkan pembatasan baru.

Menurut WHO, 700.000 orang di 53 negara Eropa dapat meninggal pada 1 Maret, selain 1,5 juta yang telah meninggal akibat virus tersebut.

"Diperkirakan tekanan tinggi atau ekstrem terjadi di unit perawatan intensif (ICU) pada 49 dari 53 negara antara sekarang hingga 1 Maret 2022," katanya.

Penyerapan vaksin yang lamban di beberapa negara dituduh sebagai penyebab kembalinya Eropa menjadi pusat pandemi, varian Delta yang sangat menular, dan cuaca yang lebih dingin, membuat orang kembali ke dalam ruangan dan pelonggaran pembatasan.

Di kawasan Uni Eropa, 67,7 persen populasi telah divaksinasi lengkap. Tetapi, tingkat vaksinasinya sangat bervariasi antarnegara, dengan tingkat rendah di kawasan timur. Hanya 24,2 persen orang Bulgaria yang divaksinasi lengkap, dibandingkan dengan 86,7 persen di Portugal.

Menurut data WHO, kematian terkait Covid-19 di Eropa meningkat pekan lalu menjadi hampir 4.200 per hari, dua kali lipat dari 2.100 per hari pada akhir September. Menjadi bukti bahwa perlindungan yang diinduksi vaksin terhadap infeksi dan penyakit ringan sedang menurun.

Beberapa negara, termasuk Yunani, Prancis, dan Jerman, sedang bergerak ke arah yang membutuhkan dosis ketiga atau booster (penguat) agar seseorang dianggap divaksinasi sepenuhnya. Kanselir Angela Merkel telah memperingatkan bahwa Jerman tidak berbuat cukup untuk mengekang gelombang keempat pandemi yang "sangat dramatis".

Saat ini, di Jerman, tempat tidur perawatan intensif terisi dengan cepat dan tingkat kejadian mingguannya yang tertinggi sepanjang masa yaitu 399,8 infeksi baru per 100.000 orang.

"Militer Jerman diperkirakan akan menambahkan vaksin Covid-19 ke daftar obat wajib untuk militer segera," kata seorang juru bicara Kementerian Pertahanan Jerman.

Langkah itu akan membuat militer menjadi pegawai negeri pertama yang diwajibkan mendapat vaksin untuk melawan virus Covid-19. Itu terjadi ketika militer sedang bersiap untuk mengerahkan tentara untuk membantu pemerintah setempat dengan vaksinasi, tes, dan upaya lain untuk melawan tingkat infeksi yang sedang melonjak dalam beberapa minggu ke depan.

Musim Dingin Menantang

Israel, yang merupakan bagian dari wilayah Eropa, pada Selasa, meluncurkan vaksinasi untuk anak-anak berusia lima hingga 11 tahun, satu dari sedikit negara yang menginokulasi anak di bawah umur yang semuda itu.

"Sekitar setengah dari kasus yang baru-baru ini dikonfirmasi adalah di antara mereka yang berusia di bawah 11 tahun," kata WHO.

Sementara itu, Perdana Menteri Prancis, Jean Castex, yang divaksinasi penuh harus menjalani isolasi pada Senin malam setelah mendapat hasil tes Covid-19 positif, karena putrinya yang lebih dulu tertular virus.

Direktur regional WHO Eropa, Hans Kluge, mengatakan Eropa dan Asia Tengah "menghadapi musim dingin yang menantang ke depan". Dia menyerukan pendekatan "vaksin plus" yang terdiri dari kombinasi vaksinasi, jarak sosial, penggunaan masker wajah, dan cuci tangan.

Sementara di dalam negeri, hingga Rabu (24/11), menurut Satgas Covid-19, jumlah warga yang telah mendapatkan vaksin dosis kedua bertambah sebanyak 987.204 orang. Adapun untuk jumlah warga yang mendapatkan vaksin dosis pertama kini telah mencapai 136.080.848 orang setelah mengalami penambahan sebanyak 663.785 orang. Disebutkan pula bahwa dosis ketiga yang saat ini hanya diberikan pada tenaga kesehatan telah meningkat sebanyak 6.235 orang, menjadikan total penerima dosis ketiga mencapai 1.218.261 orang.

Artikel Asli