Profil Saif Al Islam, Putra Diktator Muammar Khadafi yang Maju Pilpres Libya

Global | inewsid | Published at Minggu, 14 November 2021 - 21:43
Profil Saif Al Islam, Putra Diktator Muammar Khadafi yang Maju Pilpres Libya

JAKARTA, iNews.id - Saif Al Islam Khadafi, putra diktator Almarhum Muammar Khadafi, memastikan maju dalam pemilihan presiden (pilpres) Libya yang akan berlangsung pada 24 Desember 2021. Langkah Saif Al Islam untuk menjadi orang nomor 1 di Libya tak mudah, salah satunya karena sebagian warga negara Afrika itu masih trauma dengan kepemimpinan ayahnya yang keras.

Lantas bagaimana perjalanan sosok Saif Al Islam dalam kancah pergolakan Libya, berikut pemaparannya sebagaimana dikutip dari BBC:

Sebelum dan setelah ayahnya digulingkan dan dibunuh melalui pemberontakan kelompok yang didukung NATO pada 2011, Saif Al Islam dan saudara-saudaranya sempat hidup terkatung-katung, lari ke sana kemari untuk menghindari penangkapan.

Dia lalu ditangkap di Libya selatan pada November 2011, 3 bulan dalam pelarian atau beberapa pekan setelah kematian ayahnya. Itu merupakan akhir memalukan bagi sosok yang disebut-sebut sebagai pewaris kepemimpinan Libya, seandainya Khadafi tidak digulingkan.

Meskipun tidak memegang posisi resmi di pemerintahan Libya, Saif Al Islam sejak lama dipandang sebagai tokoh paling berpengaruh setelah ayahnya berkuasa pada 1969. Pria yang fasih bahasa Inggris itu bahkan dianggap sebagai wajah reformis pemerintah Libya.

Saat pemberontak mendekati Ibu Kota Tripoli, anak kedua dari sembilan bersaudara itu bersumpah untuk berjuang sampai mati melawan para milisi. Setelah anggota keluarga yang lain melarikan diri atau terbunuh, dia ditangkap di Kota Zintan.

Saif Al Islam dipenjara selama hampir 6 tahun. Pengadilan menjatuhkan hukuman mati melalui sidang in absentia di Tripoli meskipun dia tak juga dieksekusi.

Dia diduga mengalami penyiksaan berat selama di penjara. Beberapa foto yang dirilis menunjukkan Saif Al Islam kehilangan jari. Selain itu dia tampak kehilangan gigi bagian depan saat masa awal penahanannya.

Selain pemerintah Libya, Saif Al Islam juga dicari oleh Pengadilan Kriminal Internasional (ICC) atas tuduhan melakukan kejahatan terhadap kemanusiaan dalam menangani unjuk rasa kubu oposisi pada 2011.

Lahir pada 25 Juni 1972, dia memainkan peran kunci dalam pemulihan hubungan Libya dengan Barat antara tahun 2000 dan pemberontakan 2011.

Pria yang selalu tampil tegar itu memiliki hubungan dekat dengan Barat. Sebagai kepala badan amal keluarga Khadafi dan pemegang dana Otoritas Investasi Libya (LIA), dia memiliki akses untuk menggunakan sejumlah besar uang negara yang digunakan untuk memperlancar hubungan dengan Barat.

Sosoknya terlihat dalam beberapa negosiasi, termasuk kesepakatan yang membuat ayahnya meninggalkan program senjata nuklir serta menengahi pembebasan enam petugas medis Bulgaria yang dituduh menularkan HIV kepada anak-anak di sebuah rumah sakit Libya.

Dia juga menegosiasikan kompensasi bagi keluarga korban tewas pengeboman Lockerbie pada 1988, serangan kelab malam Berlin 1986, dan jatuhnya pesawat penerbangan UTA 772 pada 1989.

Satu yang paling fenomenal, pada 2009 Saif Al Islam terlibat dalam negosiasi kontroversial yang pada akhirnya membebaskan pelaku pengeboman Lockerbie, Abdelbaset Al Megrahi.

Setelah perjanjian ini, sanksi internasional bagi Libya dicabut dan sosok Saif Al Islam semakin menonjol baik secara politik maupun ekonomi. Libya juga akan memulai perubahan yang luar biasa.

Dia diketahui memiliki rumah di London, Inggris, dan menjalin hubungan dekat dengan beberapa politisi negara itu bahkan keluarga Kerajaan. Dia pernah bertemu Pangeran Andrew dua kali, yakni di Istana Buckingham dan Tripoli.

Hobinya tergolong ekstrem, Saif Al Islam memelihara dua harimau dan suka berburu dengan elang di padang pasir. Meskipun ekstrem, hobi ini sebenarnya biasa dilakoni para bangsawan Arab.

Pada beberapa kesempatan, Saif Al Islam selalu menyangkal dia berusaha mewarisi kekuasaan ayahnya. Dia menegaskan tampuk kekuasaan bukan seperti ladang untuk diwarisi.

Dia juga menyerukan reformasi politik, tema yang dibahas saat mendapatkan gelar doktor dari London School of Economics (LSE). Namun saat Saif Al Islam dituduh terlibat dalam kekerasan terhadap pengunjuk rasa oposisi, Direktur LSE Howard Davies mengundurkan diri dari jabatannya lantaran dikritik menerima sumbangan dari yayasan amal keluarga Khadafi.

University of London juga diminta untuk menyelidiki keaslian disertasi doktoral atau PhD Saif Al Islam, di tengah mencuatnya laporan plagiat. Namun penyelidikan itu dibatalkan.

Saif Al Islam lalu ditangkap pada 19 November 2011, sebulan setelah ayahnya dibunuh oleh kelompok pemberontak di kota kelahirannya, Sirte. Pemberontak mengklaim telah menangkapnya pada Agustus 2011 saat mereka masuk Tripoli, namun kebohongan itu terungkap.

Saif Al Islam malah muncul di luar sebuah hotel di Tripoli sambil menyapa para pendukungnya kemudian menghilang sampai muncul kabar bahwa dia benar-benar ditangkap. Dia kemudian dibawa ke Zintan untuk diadili. Meski sudah ditahan, Saif Al Islam menjalani sidang vonis secara in absentia pada 2015 oleh pengadilan Tripoli dan dijatuhi hukuman mati.

"Saya tidak takut mati, tapi jika Anda mengeksekusi saya setelah persidangan, Anda harus menyebut ini pembunuhan," kata Khadafi, sebagaimana dituturkan para pengacara.

Namun Saif Al Islam tidak menghadapi regu tembak. Dia bahkan bisa pergi ke luar kota sampai mendapatkan pengampunan dari pemerintah.

Pada Agustus 2021, Saif Al Islam mengumumkan akan kembali ke politik.

"Sekarang saya orang yang bebas dan akan kembali ke panggung politik," kata Saif, dalam wawancara saat itu, sebagaimana dikutip dari Middle East Monitor.

Artikel Asli