Arkeolog Yerusalem Temukan Dua Bangunan yang Diduga Reruntuhan Istana Nabi Daud

Global | apahabar.com | Published at Minggu, 14 November 2021 - 14:20
Arkeolog Yerusalem Temukan Dua Bangunan yang Diduga Reruntuhan Istana Nabi Daud

apahabar.com, JAKARTA - Arkeolog Yerusalem menemukan dua bangunan yang diduga sebagai sisa reruntuhan istana Raja David atau Nabi Daud.

Kesimpulan itu muncul setelah para arkeolog melakukan penggalian di situs yang mereka yakini sebagai benteng Kota Yudea di Shaaraim pada 2013. Shaaraim, yang kini lebih dikenal dengan nama Khirbet Qeiyafa, adalah lokasi yang dipercaya menjadi tempat Daud mengalahkan Goliath, seperti yang dikisahkan dalam Alkitab.

Detik.co yang mengutip National Geographic, Minggu (14/11/2021) menyebut, Khirbet Qeiyafa adalah situs kota benteng kuno yang menghadap ke Lembah Elah dan berasal dari paruh pertama abad ke-10 SM. Reruntuhan benteng itu ditemukan pada 2007, di dekat Kota Beit Shemesh, Israel, berjarak 30 km dari Yerusalem.

Hingga saat ini, reruntuhan tersebut adalah bukti terbaik untuk membongkar benteng kota Raja Daud. Penemuan ini adalah bukti tak terbantahkan atas keberadaan pusat kekuasaan di Yehuda selama masa kepemimpinan Raja Daud, ujar Profesor Yosef Garfinkel dari Hebrew University dan Saar Ganor yang memimpin proyek penggalian.

Menurutnya, situs ini menjadi lokasi strategis di Kerajaan Yehuda sesuai alkitab, di jalan utama dari Filistia dan dataran pantai ke Yerusalem dan Hebron di daerah perbukitan.

Bahkan sebelum penggalian yang dilakukan Garfinkel dan timnya, pengunjung Khirbet Qeiyafa dapat melihat tembok kota yang besar, setinggi 2-3 meter, yang menutupi puncak bukit. Tembok kota ini membatasi area seluas 2,3 hektare dengan total panjang sekitar 700 meter.

Karena topografi lokal, hanya permukaan luar tembok yang terbuka, bagian dalam terkubur di bawah sisa-sisa arkeologi, kata Garfinkel.

Dia mengatakan, tembok bangunan tersebut terbuat dari batu cyclopean, sedangkan bagian atasnya dibangun dengan batu berukuran sedang. Dua gerbang kota sudah tampak sebelum penggalian, satu di selatan dan satu di barat.

Tujuan utama dari penggalian tersebut adalah untuk mengekspos sebagian besar kota Zaman Besi yang secara radiometrik tertanggal akhir abad kesebelas dan awal abad kesepuluh SM. Sampai saat ini, situs seluas 3.500 meter persegi telah digali dan dua gerbang, dinding kubu pertahanan, permukiman, ruang pemujaan, kandang dan kompleks bangunan administrasi di bagian atas situs telah dibuka.

Selain itu, lapisan dari periode Persia Akhir-Hellenistik Awal mulai terungkap. Lapisan ini berasal dari tahun 350-270 SM, berdasarkan koin yang ditemukan pada 2010-2011.

Garfinkel dan Ganor menemukan dua bangunan yang dibangun sejak abad 10 SM di Yerusalem. Satu struktur bangunan diidentifikasi sebagai istana Daud, sedangkan yang lain diduga sebagai gudang besar milik istana tersebut.

Di sekeliling istana, terdapat ruangan dengan beragam instalasi seperti bejana tembikar dan pecahan bejana pualam. Temuan ini sekaligus menjadi bukti jika pada masa itu masyarakat Mesir telah mengenal industri logam.

Meski temuan ini terdengar mengejutkan, tak semua sejarawan setuju. Beberapa sejarawan mengatakan bahwa istana dan kerajaan itu tak pernah ada. Jika ada, mungkin besarnya tak lebih besar dari Yerusalem.

Prof Aren Meir dari Bar Ilan University menyatakan setuju jika situs ini merupakan sebuah penemuan yang penting. Namun menurutnya, para arkeolog terlalu mengandalkan Alkitab sebagai sumber bukti.

"Bisakah kita mengumpulkan argumen mengenai kerajaan Daud dan Sulaiman? Bagi saya, hal ini terlihat terlalu muluk," ujar Meir.

Sementara itu, Israel Antiquities Authority berharap penemuan ini bisa menjadikan Khirbet Qeiyafa sebagai taman nasional yang mampu mengundang wisatawan untuk datang dan belajar mengenai kehidupan kerajaan pada masa kekuasaan Raja Daud.

Artikel Asli