Putin: Latihan Militer NATO Tantangan Berbahaya

Global | republika | Published at Minggu, 14 November 2021 - 09:47
Putin: Latihan Militer NATO Tantangan Berbahaya

REPUBLIKA.CO.ID, ANKARA -- Presiden Rusia Vladimir Putin mengatakan, bahwa latihan militer NATO di dekat perbatasan Rusia merupakan tantangan berbahaya. Sebab latihan tersebut menggunakan wilayah udara strategisnya.

"Sekarang, Amerika Serikat dan sekutu NATO-nya melakukan latihan yang tak terjadwal, saya ingin menggarisbawahi latihan yang tidak terjadwal di perairan Laut Hitam. Dan tidak hanya formasi kelompok kapal yang dibentuk, tetapi juga penerbangan strategis sedang dilakukan dan digunakan dalam latihan," kata Putin seperti dikutip laman Sputnik , Ahad (14/11).

"Saya harus mengatakan bahwa Kementerian Pertahanan kami juga mengusulkan untuk mengadakan latihan sendiri yang tidak direncanakan di area yang sama, tetapi saya percaya bahwa ini tidak tepat dan tidak perlu untuk lebih meningkatkan situasi di sana," ujarnya menambahkan.

Pernyataan Putin muncul setelah Amerika Serikat (AS) dan sekutunya meluncurkan latihan di dekat perairan Rusia. Sebelumnya, kapal induk Armada Keenam AS USS Mount Whitney memasuki Laut Hitam. Rusia kemudian menerbangkan pesawat pengintai di dekat Krimea.

Moskow berulang kali mengecam kegiatan NATO di Laut Hitam yang menyebutnya sebagai provokasi untuk memicu ketegangan. Belum lama ini Putin menyebut latihan itu mengganggu stabilitas dan berbahaya.

Sementara Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov menekankan bahwa Washington berusaha mendorong negara-negara pesisir menuju kebijakan konfrontatif karena mengirim kapal mereka ke daerah dekat perbatasan Rusia,

Dalam wawancaranya, Putin juga menepis klaim bahwa Rusia sedang merencanakan invasi ke Ukraina. Dia menekankan bahwa negaranya tidak berpihak dalam konflik di Donbass.

Bulan lalu, Staf Umum Ukraina mengeklaim bahwa militer telah menghancurkan howitzer musuh dengan bom berpemandu yang diluncurkan melalui pesawat tak berawak Bayraktar di Donbass. Menurut Moskow, Kiev bertindak dengan cara provokatif untuk memicu tanggapan dari milisi lokal dan melibatkan Rusia.


Artikel Asli