Upaya Memerangi Kemiskinan Ekstrem Mundur Satu Dekade

koran-jakarta.com | Global | Published at Jumat, 15 Oktober 2021 - 00:02
Upaya Memerangi Kemiskinan Ekstrem Mundur Satu Dekade

WASHINGTON - Presiden Kelompok Bank Dunia, David Malpass, pada Rabu (13/10), di Washington, mengatakan pandemi Covid- 19 telah meningkatkan angka kemiskinan dan utang di negara-negara berpenghasilan rendah sehingga terjadi pembalikan yang tragis dalam pembangunan.

"Covid-19 sudah mendorong hampir 100 juta orang ke dalam kemiskinan ekstrem. Itu jumlah tambahan dalam kemiskinan ekstrem," kata Malpass dalam konferensi pers secara virtual pada pertemuan tahunan Dana Moneter Internasional (IMF)-Bank Dunia, di Washington.

Lembaga tersebut, jelasnya, telah mengamati pembalikan tragis dalam pembangunan. Kemajuan yang diupayakan selama ini untuk mengurangi kemiskinan ekstrem telah mengalami kemuncuran bertahun-tahun, mungkin satu dekade.

Ketidaksetaraan semakin memburuk di seluruh kelompok negara. Pendapatan per kapita di negara maju tumbuh hampir lima persen pada 2021, sedangkan di negara-negara berpenghasilan rendah hanya 0,5 persen.

"Prospeknya tetap suram untuk sebagian besar negara berkembang. Ada inflasi yang tinggi, kurangnya lapangan pekerjaan dan berkurangnya akses ke makanan, air, dan listrik," kata Malpass menyoroti penutupan pabrik dan pelabuhan yang sedang berlangsung, serta kemacetan dalam logistik dan rantai pasokan.

Dia juga menyatakan adanya kemunduran pada wanita, anak-anak, dan orang yang rentan semuanya merupakan kemunduran yang tragis karena pandemi dan gangguan ekonomi global.

"Perlu ada sistem keuangan internasional global yang lebih cocok bagi orang-orang mendapatkan pekerjaan di negara-negara termiskin untuk mengurangi kemiskinan," katanya seperti dikutip dari Antara .

Masalah Utang

David Malpass juga menekankan bahwa banyak negara, terutama yang miskin, dihadapkan juga pada tantangan masalah utang. Dalam Statistik Utang Internasional yang dirilis, Senin (11/10), Bank Dunia memperkirakan bahwa beban utang di negara-negara berpenghasilan rendah naik 12 persen ke rekor 860 miliar dollar AS pada 2020.

Laporan tersebut mencatat sebelum pandemi, sudah banyak negara berpenghasilan rendah dan menengah yang berada dalam posisi rentan, dengan pertumbuhan ekonomi yang melambat serta utang publik dan luar negeri pada tingkat yang tinggi.

Kalau stok utang luar negeri negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah digabungkan naik 5,3 persen pada 2020 menjadi 8,7 triliun dollar AS.

Dengan memperhatikan banyak negara berada dalam kesulitan utang luar negeri atau berisiko tinggi, Malpass mengatakan perlunya melakukan pendekatan yang komprehensif, termasuk pengurangan utang, restrukturisasi yang lebih cepat, dan lebih transparan untuk membuat kemajuan dalam masalah tersebut.

Artikel Asli