Israel Bilang Berhak Serang Iran Kapan Saja Sesukanya

sindonews | Global | Published at Kamis, 14 Oktober 2021 - 14:35
Israel Bilang Berhak Serang Iran Kapan Saja Sesukanya

WASHINGTON - Israel mengatakan berhak untuk menyerang Iran kapan saja sesuai keinginannya, dengan dalih menghentikannya dari memperoleh senjata nuklir.

Hal itu disampaikan Menteri Luar Negeri Zionis Yair Lapid setelah bertemu dengan rekan-rekannya dari Amerika Serikat (AS) dan Uni Emirat Arab, pada hari Rabu di Washington.

Berbicara kepada wartawan setelah duduk dengan Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken dan Menteri Luar Negeri Uni Emirat Arab Abdullah bin Zayed, Lapid bersikeras bahwa Teheran tidak boleh diizinkan untuk mendapatkan bom nuklir. Dia mengatakan masalah itu ada di "pusat" dari kunjungannya.

Meskipun Iran telah lama menyatakan tidak tertarik mengembangkan senjata nuklir, Lapid bersumpah bahwa Israel akan menghentikan "perlombaan bom nuklir" dengan cara apa pun yang diperlukan.

"Israel berhak untuk bertindak kapan saja dan dengan cara apa pun. Itu bukan hanya hak kami, itu juga tanggung jawab kami," katanya, seperti dikutip Russia Today , Kamis (14/10/2021).

"Iran telah secara terbuka menyatakan ingin memusnahkan kami. Kami tidak berniat membiarkan ini terjadi," imbuh dia.

"Kami tahu ada saat-saat ketika negara harus menggunakan kekuatan untuk melindungi dunia dari kejahatan. Jika rezim teror akan memperoleh senjata nuklir, kita harus bertindak, kita harus menjelaskan bahwa dunia beradab tidak akan mengizinkannya. Jika Iran tidak percaya bahwa dunia serius untuk menghentikan mereka, mereka akan berlomba untuk mengebom," paparnya.

Sementara itu, Lapid juga berbicara tentang hubungan yang lebih baik dengan tetangga Arab melalui serangkaian kesepakatan normalisasi yang dicapai tahun lalu. Dia mencatat bahwa Israel telah "mengubah perdamaian dingin dengan Mesir dan Yordania menjadi perdamaian yang hangat".

Alasan utamanya untuk bertemu dengan Blinken dan bin Zayed, katanya, adalah kekhawatiran tentang berpacunya Iran untuk memperoleh senjata nuklir.

"Iran menjadi negara ambang nuklir. Setiap hari berlalu, setiap penundaan dalam negosiasi membawa Iran lebih dekat ke bom nuklir," lanjutnya.

"Iran jelas menyeret tumit mereka, mencoba menipu dunia untuk terus memperkaya uranium, untuk mengembangkan program rudal balistik mereka."

Meskipun kesepakatan besar yang dicapai antara Iran dan kekuatan dunia pada tahun 2015 membatasi program energi nuklir sipil Teheran dan menciptakan sistem perlindungan yang ketat di bawah Badan Energi Atom Internasional (IAEA), mantan Presiden AS Donald Trump secara sepihak menarik diri dari kesepakatan itu pada tahun 2018, menerapkan kembali semua sanksi Amerika terhadap Teheran.

Artikel Asli