Maria Ressa: Jadi Jurnalis, Kutukan Sekaligus Berkah

rm.id | Global | Published at Kamis, 14 Oktober 2021 - 14:28
Maria Ressa: Jadi Jurnalis, Kutukan Sekaligus Berkah

Maria Ressa (58) masih tak percaya, ia menjadi pemenang Nobel Perdamaian 2021. Hingga saat ini, di pikirannya masih menari-menari bagaimana proses itu terjadi.

Ketika pengumuman itu datang, Jumat lalu, (8/10) Maria demikian ia disapa, tengah menghadapi dakwaan pencemaran nama baik, serta lusinan dakwaan hukum lain terhadap medianya, Rappler , terkait kebijakan pemerintahan Presiden Rodrigo Duterte.

Pada kasus terakhir, pendiri dan CEO Rappler itu terancam hukuman penjaraselama enam tahun jika dinyatakan bersalah. Saat ini, dia masih bebas berkat uang jaminan sebesar seratus ribu Peso.

Saking banyaknya kasus hukum yang menjerat, ketika dia dibebaskan pada 2020, media di Manila, Spot , berkelakar, Maria harus membayar lebih banyak uang jaminan ketimbang Imelda Marcos. Istri mantan presiden (diktator) Ferdinand Marcos yang disorot dengan koleksi sepatunya.

Gelombang dakwaan hukum itu tidak membuatnya ciut. Tapi ia terus berani menyuarakan fakta dan kebenaran. Itulah kemudian, Nobel Perdamaian yang dia dapat, dianggap sebagai pengakuan bagi keberanian dan perjuangannya demi kebebasan pers.

Dalam pertemuan virtual yang diinisiasi media online IDN Times , Kamis (14/10), ia berkisah bagaimana detik-detik pengumuman sebagai pemenang Nobel hingga masa kecilnya, yang tentu berkontribusi pada keberanian yang ada dalam dirinya saat ini.

Wanita mungil, cabe rawit itu tampak ekspresif bercerita. Ia sangat bersemangat, matanya di balik bingkai kacamata kerap membulat sesekali ia tersenyum, dengan tangannya ikut bergoyang meningkahi ceritanya.

Beberapa kali dia menyapa riang para peserta pertemuan virtual itu. Para petinggi media massa Tanah Air yang hadir, bahkan sangat dia kenal baik. Itu karena Maria pernah bertugas di Indonesia ketika berkarier di CNN.

"Mereka yang akan lolos sebagai pemenang, akan mendapat telepon dua atau tiga jam sebelum pengumuman," terangnya.

"Ketika sedang duduk di depan komputer, telepon saya berdering. Saya bingung, tidak harus ngomong apa. Saya pun sampai sekarang masih memproses apa yang telah terjadi, tuturnya.

Ada sekitar 300 nominator Nobel Perdamaian. Pemenang penghargaan paling bergengsi di dunia itu berhak atas hadiah uang Rp 16 miliar. Maria berbagi kemenangan dengan Dimitry Murotov, jurnalis peraih Nobel Perdamaian asal Rusia.

Bicara soal tekanan yang telah dialaminya, Ressa menceritakan, dia menjadi migran di AS ketika usia 9 atau 10 tahun. Saat itu, dia yang paling mungil di kelas dan berkulit cokelat satu-satunya.

Dari situ, saya belajar mengatasi ketakutan. Ketika saya kemudia menjadi reporter, saya masih belajar mengatasi ketakutan," tuturnya.

"Di Rappler itu, kami selalu menyiapkanskenario terburukuntuk mengevaluasi tugas dan tekanan yang muncul apakah berlebihan atau tidak, ujarnya.

Menurutnya, keberanian sangat dibutuhkan untuk menyampaikan kebenaran. Ketika wartawan punya kebenaran, maka wartawan tersebut bisa membangun kepercayaan.

Bahkan, di tengah gempuran media sosial cara kerja maupun standar etika jurnalistik tidak berubah. Hanya distribusi karya jurnalistik yang berubah. Maka, dia mengajak wartawan jangan asal ambil berita dan mempublikasikannya.

Menjelang akhir pertemuan virtual tersebut, Maria mengaku, dia pernah ditawari terjun kepolitik. Namun, dia menolak karena tak tertarik.

Ia menegaskan, passion -nya adalah sebagaijurnalis. Apalagi era masa kini sangat menarik bagi para jurnalis.

Menjadijurnalisadalah kutukan sekaligus juga sebagai berkah, ucapnya sambil tersenyum.

Maria juga mengungkapkan pandangannya terkait duniapolitik. Politik adalah dunia yang gila, dan saya hanyalah satu dari sekian banyak, serta tak memiliki gairah untuk itu, tandasnya.[ MEL ]

Artikel Asli