Merkel Gelar Perpisahan Virtual dengan Xi Jinping, Apa yang Dibahas?

dw.com | Global | Published at Kamis, 14 Oktober 2021 - 14:20
Merkel Gelar Perpisahan Virtual dengan Xi Jinping, Apa yang Dibahas?

Kanselir Jerman Angela Merkel bertemu dengan Presiden Cina Xi Jinping dalam sebuah konferensi video perpisahan pada Rabu (13/10).

Menurut juru bicara pemerintah Jerman Martina Fietz, keduanya berbicara tentang "persiapan untuk KTT G20 mendatang, masalah perubahan iklim, memerangi pandemi dan perjanjian investasi Uni Eropa dengan Cina.

Kedua pemimpin juga memuji fakta bahwa tahun depan, hubungan diplomatik resmi Jerman dan Republik Rakyat Cina akan genap berusia 50 tahun.

Xi sebut Merkel sahabat'

Presiden Xi selama pertemuan dilaporkan menyebut Merkel sebagai "sahabat warga Cina, demikian menurut media pemerintah Cina CGTN.

Merkel sebentar lagi akan meninggalkan jabatan kanselirnya, setelah pemerintah baru Jerman terbentuk. Negosiasi koalisi pascapemilu di Jerman saat ini masih berlangsung.

Selama masa jabatannya, Merkel banyak dikritik karena dianggap terlalu lunak terhadap Cina. Terutama terkait masalah hak asasi manusia.

Namun, pemerintah Jerman berikutnya dinilai dapat mengambil pendekatan lebih keras terhadap Beijing.

Partai Hijau, yang kemungkinan besar akan mengambil bagian dalam koalisi pemerintahan berikutnya, sebelumnya telah meminta Jerman untuk lebih vokal dalam mengutuk pelanggaran hak asasi manusia Cina, seperti misalnya terhadap Muslim Uyghur.

Merkel serukan diversifikasi perdagangan di Asia

Dalam sebuah acara terpisah, Merkel mendesak perusahaan Jerman untuk melakukan diversifikasi strategi bisnis mereka di Asia-Pasifik. Jadi tidak hanya bergantung pada Cina.

"Hampir 50% perdagangan luar negeri Jerman di kawasan Indo-Pasifik dicatat di Cina, kata Merkel kepada Komite Bisnis Jerman untuk Asia-Pasifik (APA). "Kita tidak boleh mengabaikan bahwa Asia-Pasifik itu bukan hanya Cina, tambahnya.

Perdagangan Jerman-Cina telah berkembang pesat sejak Merkel pertama kali menjabat pada tahun 2005.

gtp/as (Reuters, AFP, dpa)

Artikel Asli