Dahsyat! Pakar Militer Tahu Taiwan Tidak Bisa Berbuat Apa-apa atas China, Bahayanya Adalah...

wartaekonomi | Global | Published at Kamis, 14 Oktober 2021 - 10:30
Dahsyat! Pakar Militer Tahu Taiwan Tidak Bisa Berbuat Apa-apa atas China, Bahayanya Adalah...

Seorang peneliti mengatakan bahwa China terus berusaha menormalkan situasi dengan menawarkan berbagai cara kepada Taiwan. Tetapi langkah itu membuka peluang baru pada konfrontasi militer skala besar dari Beijing terhadap Taipei.

Dengan setiap langkah, orang China berusaha mengubah status quo dan menormalkan situasi melalui pemotongan salami ini, kata Hoo Tiang Boon, associate professor dan koordinator program China di S. Rajaratnam School of International Studies di Singapura.

Mereka tahu Taiwan tidak bisa berbuat apa-apa, dan bahayanya adalah kemungkinan salah perhitungan atau kecelakaan memang ada, tambahnya, seperti dikutip laman Associated Press , Kamis (14/10/2021).

Amerika berusaha membawa sekutu ke dalam front persatuan, kata Hoo. Ada internasionalisasi yang berkembang dari masalah Taiwan.

Saat ini, angkatan bersenjata kedua belah pihak merasa sepenuhnya siap untuk konflik di Taiwan, tetapi pada akhirnya itu mungkin bukan keputusan mereka.

Itu tidak akan sampai ke militer. Terserah para politisi," pungkas Hoo.

Sebelumnya, China, selama akhir pekan Hari Nasional pada awal bulan, mengirim rekor 149 pesawat militer ke barat daya Taiwan dalam formasi kelompok penyerang di wilayah udara internasional tetapi ke zona penyangga pulau itu, mendorong Taiwan untuk berebut pertahanannya.

Pada Senin (11/10/2012), China mengumumkan telah melakukan pendaratan pantai dan latihan penyerangan di provinsi daratan tepat di seberang Taiwan.

Ma Xiaoguang, juru bicara Kantor Urusan Taiwan pemerintah, membenarkan tindakan yang diperlukan, dengan mengatakan pada hari Rabu bahwa mereka diprovokasi oleh pasukan kemerdekaan Taiwan yang berkolusi dengan pasukan eksternal.

Taiwan dan China berpisah pada tahun 1949 di tengah perang saudara, dengan Nasionalis Chiang Kai-shek melarikan diri ke pulau itu ketika Komunis Mao Zedong meraih kekuasaan.

Artikel Asli