Waduh Makin Memanas Ini, Pasukan Khusus Amerika Diam-diam Melatih Militer Taiwan

koran-jakarta.com | Global | Published at Minggu, 10 Oktober 2021 - 18:09
Waduh Makin Memanas Ini, Pasukan Khusus Amerika Diam-diam Melatih Militer Taiwan

ARLINGTON - Kementrian Pertahanan Amerika Serikat (AS) atau Pentagon, dilaporkan telah mengirim pasukan operasi khusus ke Taiwan selama beberapa tahun untuk membantu negara itu bersiap menghadapi kemungkinan serangan Tiongkok.

Sumber-sumber yang akrab dengan pengerahan itu, yang melibatkan rotasi pasukan khusus untuk waktu yang singkat, mengatakan AS sedang melatih pasukan Taiwan sebagian sehubungan dengan pembelian senjata AS di pulau itu, seperti pesawat tempur F-16.

Sebuah sumber mengatakan, rotasi telah terjadi setidaknya selama satu dekade, dan termasuk marinir AS, pasukan khusus Angkatan Darat, dan Angkatan Laut. Sumber kedua mengatakan langkah itu adalah bagian dari upaya AS untuk membantu Taiwan meningkatkan pertahanannya ketika ancaman dariTiongkokmeningkat.

Pengungkapan tersebut, yang pertama kali dilaporkan oleh The Wall Street Journal , muncul di tengah meningkatnya ketegangan di Taiwan.Tiongkoktelah mencetak rekor dengan menerbangkan sejumlah pesawat tempur ke Zona Identifikasi Pertahanan Udara (ADIZ) Taiwan.

Pentagon menolak mengomentari pengerahan itu, tetapi mengatakan dukungan AS untuk Taiwan sepadan dengan ancaman dariTiongkok. Pemeringah AS di bawah Undang-Undang Hubungan Taiwan diwajibkan untuk membantu pulau itu mempertahankan diri.

"RRT telah meningkatkan upaya untuk mengintimidasi dan menekan Taiwan dan sekutu serta mitra lainnya, termasuk meningkatkan kegiatan militer yang dilakukan di sekitar Taiwan, LautTiongkokTimur, dan LautTiongkokSelatan," kata juru bicara Pentagon,John Supple.

Pada Jumat, Kementerian Luar NegeriTiongkokmengatakan bahwa ketika Washington menjalin hubungan diplomatik dengan Beijing pada 1979, mereka setuju untuk hanya memiliki "hubungan budaya, bisnis dan non-resmi lainnya dengan Taiwan".

"AS harus mengetahui dengan jelas sensitivitas tinggi dari masalah Taiwan, dan memutuskan (hubungan) militer dengan Taiwan," kata seorang juru bicara kementerian itu.

Heino Klinck, pakar Taiwan danTiongkokyang menjabat sebagai pejabat senior Pentagon Asia selama pemerintahan Trump, mengatakan pengerahan itu "rutin dan sama sekali tidak luar biasa".

"AS dan Taiwan memiliki hubungan militer-ke-militer tidak resmi yang kuat dan sudah berlangsung lama yang mencakup pelatihan pasukan bersama, biasanya di bawah naungan pengaturan penjualan militer asing," kata Klinck.

Kebijakan luar negeri AS terhadap Taipei memperingatkan bahwaTiongkokakan dapat menyerang Taiwan pada 2025. Pemerintahan Biden telah berulang kali mengatakan kepada Beijing bahwa hubungan AS dengan Taipei "sangat kuat" untuk memperingatkanTiongkoktentang risiko mengambil tindakan militer terhadap Taiwan. Kekhawatiran AS telah meningkat ketika aktivitas militer udara dan lautTiongkoktelah tumbuh semakin tegas di wilayah tersebut.

Menteri pertahanan Taiwan minggu ini mengatakanTiongkokakan sepenuhnya mampu menginvasi negara itu pada 2025, sebagai peringatan pertama tentang kemungkinan perang untukpublik.

"Selama beberapa dekade, Beijing telah mengklaim menempuh jalan damai untuk menyelesaikan masalah Taiwan. Jelas,Tiongkokbelum menindaklanjuti janji ini," kata pakarTiongkokdi lembaga pemikir CSIS, Ivan Kanapathy,yang menguerusi masalahAsiadi Gedung Putih dalam pemerintahan Trump.

PakarTiongkokdi German Marshall Fund,Bonnie Glaser,mengatakan pengerahan itu tidak mengejutkan karena unggahan media sosial yang menunjukkan pasukan khusus AS melatih pasukan Taiwan telah muncul selama era Trump. Namun dia mengatakan pengungkapan itu dapat meningkatkan ketegangan.

"Mempublikasikan ini akan memaksaTiongkok,untuk bereaksi, dan mereka kemungkinan akan melakukannya dengan meningkatkan tekanan pada Taiwan," kata Glaser.

"Mengingat seberapa besar mereka telah meningkatkan tekanan dalam seminggu terakhir, kita harus khawatir bahwa mereka akan ingin mengirim sinyal yang lebih kuat, dan karena itu melakukan sesuatu yang lebih tidak stabil daripada sekadar meningkatkan jumlah serangan mendadak di sekitar Taiwan," tuturnya.

Artikel Asli