Terungkap, Dua Penyebab Resesi Seks yang Kini Mengancam Dunia

Global | koran-jakarta.com | Published at Rabu, 06 Oktober 2021 - 11:30
Terungkap, Dua Penyebab Resesi Seks yang Kini Mengancam Dunia

Beberapa negara di dunia kini tengah berhadapan dengan resesi seks, yaitu penurunan mood untuk berhubungan seksual, menikah, atau memiliki anak. Penyebabnya pun bermacam-macam, salah satunya adalah pandemi Covid-19.

Menurunnya suasana hati untuk melakukan kegiatan seksual, menikah, dan memiliki anak kini tengah melanda sebagian penduduk dunia. Selain Covid-19, salah satu penyebab resesi seks di tengah masyarakat adalah perubahan iklim.

Ternyata fenomena resesi seks sudah berlangsung cukup lama di Amerika Serikat (AS), yakni sejak 2012. Menurut The Washington Post, 23 persen orang dewasa mengaku tidak berhubungan seks dalam satu tahun terakhir.

Kini, dunia dihadapi dengan kesulitan sama seperti yang dirasakan AS sembilan tahun silam hingga kini. Beberapa negara di Asia yang mengalami resesi seks adalah Jepang, Tiongkok, Korea Selatan (Korsel), dan Singapura.

Jepang mencatatkan, kelahiran bayi turun 2,8 persen dibandingkan 2019 ke angka 840.832. Reuters mengungkapkan bahwa ini yang terendah sejak pencatatan dimulai pada 1899.

Untuk Tiongkok, pemerintah setempat sampai turun tangan karena efek resesi seks ini. Pemerintah Tiongkok merevisi aturan dan menyebutkan kini pasangan di negara tirai bambu tersebut boleh memiliki tiga anak.

Tak jauh berbeda dengan Jepang, di Korsel bahkan sampai ada gerakan tidak menikah yang dibuat oleh para perempuan di sana. Gerakan ini memanfaatkan feminisme yang sedang berkembang di Korsel. Gerakan tersebut bernama "Four Nos" yang merupakan kepanjangan dari "no dating, no sex, no marriage, and no child-rearing".

Sementara di negara tetangga Indonesia, yaitu Singapura, pembatasan sosial menjadi penyebab adanya resesi seks. Sebanyak 12,3 persen warga Singapura tercatat menunda pernikahannya di 2020.

Ini berdampak pada angka kelahiran yang menurun pada 2020. Tercatat hanya ada 31.816 kelahiran di Singapura pada tahun tersebut. Catatan ini menurun 3,1 persen lebih rendah dibanding 2019, yakni 32.844.

Artikel Asli