Geram Ditikung AS soal Kapal Selam Nuklir, Prancis Sebut Ada Krisis Kepercayaan

Global | inewsid | Published at Selasa, 21 September 2021 - 07:05
Geram Ditikung AS soal Kapal Selam Nuklir, Prancis Sebut Ada Krisis Kepercayaan

NEW YORK, iNews.id - Menteri Luar Negeri (Menlu) Prancis Jean Yves Le Drian menegaskan negaranya mengalami krisis kepercayaan terhadap Amerika Serikat terkait kerja sama pengadaan kapal selam nuklir bagi Australia. Seperti diketahui, Prancis merasa ditikung AS karena negara itu lebih dulu meneken kontrak kerja sama kapal selam dengan Australia.

AS, Inggris, dan Australia menyepakati kemitraan keamanan Indo-Pasifik (AUKUS) pekan lalu yang memberikan akses teknologi kepada Negeri Kangguru untuk memproduksi kapal selam bertenaga nuklir.

Buntut dari kejadian ini, Prancis membatalkan pertemuan dengan pejabat Inggris dan Australia serta menggalang dukungan dari sekutunya di Uni Eropa. Bukan hanya itu, Prancis juga menarik duta besarnya dari Australia dan AS, pertama kali dalam sejarah.

Le Drian mengatakan, negara-negara Eropa tidak akan membiarkan AS tak melibatkan mereka terkait kebijakan luar negeri.

Menurut dia, Prancis terjepit dengan kesepakatan kapal selam AS, Inggris, dan Australia, yang menyebabkan negaranya kehilangan kontrak untuk menjual alat perang itu ke Australia.

Namun AS, Australia, dan Inggris bersikeras bahwa krisis diplomatik tidak akan memengaruhi hubungan jangka panjang dengan Prancis.

Ada krisis kepercayaan di luar fakta bahwa kontrak telah dilanggar, seolah-olah Eropa tidak memiliki kepentingan untuk mempertahankan kawasan, kata Le Drian, dikutip dari Associated Press, Selasa (21/9/2021).

Membawa nama Eropa, Le Drian mengatakan kelompoknya juga memiliki kepentingan sendiri saat AS sedang fokus terhadap kepentingannya terhadap China.

Kepentingan fundamental Eropa perlu diperhitungkan oleh AS yang merupakan sekutu kami. Orang-orang Eropa tidak boleh tertinggal mengenai strategi yang dipilih oleh AS, ujarnya.

Le Drian dijadwalkan bertemu dengan menteri luar negeri dari 26 negara Uni Eropa lainnya untuk membahas konsekuensi kesepakatan kapal selam serta menjelaskan visi Prancis untuk Eropa yang lebih independen.

Dia berada di New York untuk mengikuti Sidang Majelis Umum PBB yang digelar pekan ini. Presiden Emmanuel Macron tak hadir dalam pertemuan itu.

Sebelumnya Prancis mendapat dukungan dari Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen. Dia mengatakan dalam wawancara dengan CNN bahwa salah satu negara anggotanya diperlakukan dengan cara tidak bisa diterima.

"Kami ingin tahu apa yang terjadi dan mengapa," kata Urusula.

Artikel Asli