Dapat Warisan Teknologi dari AS, Australia Bikin 8 Kapal Selam Nuklir

inewsid | Global | Published at Kamis, 16 September 2021 - 13:56
Dapat Warisan Teknologi dari AS, Australia Bikin 8 Kapal Selam Nuklir

SYDNEY, iNews.id - Australia akan membangun delapan kapal selam bertenaga nuklir di bawah kerja sama keamanan Indo-Pasifik dengan Amerika Serikat (AS) dan Inggris yang disepakati pada Rabu (15/9/2021).

Negeri Kangguru menjadi negara kedua setelah Inggris yang mendapat warisan teknologi kapal selam bertenaga nuklir dari AS. Inggris sudah sejak lama membangun kapal selam nuklir hasil transfer teknologi dari AS yakni pada 1958.

"Dunia kita menjadi lebih kompleks, terutama di sini, di kawasan kita, Indo-Pasifik. Untuk menjawab tantangan ini serta membantu meningkatkan keamanan dan stabilitas yang dibutuhkan kawasan, kita harus membawa kemitraan ke tingkat yang baru," kata Perdana Menteri Scott Morrison, dikutip dari Reuters, Kamis (16/9/2021).

Pernyataan yang disampaikan Presiden AS Joe Biden, Perdana Menteri Inggris Boris Johnson, serta Morrison memang tak menyinggung China. Namun kemitraan ini dibangun di saat China meningkatkan pengaruhnya di Indo-Pasifik.

Perdana Menteri Selandia Baru Jacinda Ardern menyambut baik kerja sama baru pertahanan menyangkut Indo-Pasifik, tapi dia menegaskan kapal selam bertenaga nuklir Australia tidak akan diizinkan masuk perairannya di bawah kebijakan bebas nuklir yang diterapkan sejak lama.

"Saya senang melihat bahwa pandangan telah beralih ke wilayah kami dari mitra yang bekerja sama dengan kami. Ini merupakan wilayah yang diperebutkan dan ada peran yang bisa dimainkan pihak lain yang berminat dengan wilayah kami," kata Ardern.

Kedutaan Besar China untuk AS mencurigai kemitraan tersebut dengan menyatakan ketiga negara itu tidak boleh membangun blok eksklusif menargetkan atau merugikan kepentingan pihak ketiga.

"Secara khusus, mereka harus melepaskan mentalitas Perang Dingin dan prasangka ideologis," bunyi pernyataan.

Pengamat senior Institut Kebijakan Masyarakat Asia Richard Maude mengatakan, pakta trilateral ini akan dilihat di China sebagai ancaman.

"China akan memandang pengumuman ini sebagai bukti penguatan koalisi guna menyeimbangkan kekuatan mereka. China akan keberatan, tapi perilakunya yang tegas dan tanpa kompromi akan mendorong keberpihakan baru ini," ujarnya.

Artikel Asli