Kisah Pembunuh Sadis yang Bunuh 100 Anak Laki-Laki, Korbannya Dipotong Jadi 100 Bagian dan Dilarutkan ke Air Asam

okezone | Global | Published at Kamis, 16 September 2021 - 12:40
Kisah Pembunuh Sadis yang Bunuh 100 Anak Laki-Laki, Korbannya Dipotong Jadi 100 Bagian dan Dilarutkan ke Air Asam

PAKISTAN - Javed Iqbal, pembunuh berantai paling terkenal di Pakistan, diberitahu oleh hakim bahwa dia harus dieksekusi dengan cara yang sama mengerikannya saat ia membunuh korbannya yang masih muda.

Seorang hakim mengatakan kepada pembunuh berantai tersebut, Javed Iqbal bahwa dia akan dicekik kemudian "dipotong menjadi 100 bagian dan dimasukkan ke dalam larutan asam" di depan orang tua korbannya.

Pertunjukan kebrutalan yang belum pernah terjadi sebelumnya ini bukan tanpa alasan. Ini semua karena Iqbal telah mengakui pemerkosaan dan pembunuhan terhadap 100 anak laki-laki, dilanjutkan dengan pemotongan tubuh korban, kemudian melarutkan mayat mereka dalam larutan asam.

Karena itu, hakim di Pakistan berpikir dia pantas dihukum dan berakhir sama mengerikannya dengan semua korbannya..

"Kamu akan dicekik sampai mati di depan orang tua yang anak-anaknya kamu bunuh, tubuhmu kemudian akan dipotong menjadi 100 bagian dan dimasukkan ke dalam asam, sama seperti kamu membunuh anak-anak tersebut, terang hakim.

Sampai hari ini, hukuman itu tetap menjadi salah satu hukuman mati paling mengerikan yang pernah dijatuhkan, tetapi hukuman itu tidak pernah terjadi.

Pemerintah Pakistan melarang metode eksekusi tersebut dengan alasan hak asasi manusia dan Iqbal memilih bunuh diri di penjara ketika dia menunggu untuk diadili atas pembunuhan enam bulan yang penuh kegilaan pada 1990-an.

Iqbal, yang lahir di Lahore pada tahun 1956, menghabiskan puluhan tahun untuk merawat anak-anak muda yang melarikan diri, yatim piatu, dan pengemis, lalu membujuk mereka ke dunianya yang bejat dengan janji-janji kekayaan dan memberi mereka perlakuan khusus di rumah mewahnya.

Tetapi pada Desember 1999, dia mengaku telah membunuh 100 anak laki-laki selama enam bulan sebelumnya, menulis ke surat kabar dan polisi untuk mengungkapkan kejahatan keji yang sebelumnya tidak diketahui.

Artikel Asli