Pimpinan ISIS di Sahara Dibunuh Militer Prancis

inewsid | Global | Published at Kamis, 16 September 2021 - 10:49
Pimpinan ISIS di Sahara Dibunuh Militer Prancis

PARIS, iNews.id - Prancis menyatakan pimpinan ISIS di Sahara Besar, Adnan Abu Walid al-Sahrawi, tewas terbunuh. Kematian Sahrawi dicap sebagai keberhasilan militer Prancis.

Hal ini disampaikan Presiden Prancis, Emmanuel Macron, Rabu (15/9/2021) melalui akun Twitternya. Tewasnya Sahrawi dikatakan sebagai keberhasilan besar militer Prancis setelah lebih dari delapan tahun memerangi ekstremis di Sahel.

Sayang, Presiden Macron tidak memberikan keterangan lebih lanjut terkait informasi tersebut, termasuk lokasi terbunuhnya Sahrawi.

"Ini adalah pukulan telak terhadap kelompok teroris. Pertarungan kita berlanjut," cuit Menteri Pertahanan Prancis, Florence Parly.

Desas-desus tentang kematian pemimpin militan telah beredar berminggu-minggu di Mali. Namun pihak berwenang di wilayah itu belum mengkonfirmasinya.

Sahrawi telah mengklaim bertanggung jawab atas serangan di Niger tahun 2017. Dalam serangan tersebut, empat personel militer AS dan empat tentara Niger tewas.

Kelompok pimpinan Sahrawi dilaporkan juga telah menculik orang asing di Sahel. Mereka diyakini masih menahan warga Amerika, Jeffrey Woodke, yang diculik dari rumahnya di Niger pada 2016.

Sahrawi lahir di wilayah Sahara Barat yang disengketakan dan kemudian bergabung dengan Front Polisario. Setelah menghabiskan waktu di Aljazair, dia pergi ke Mali utara dan menjadi tokoh penting dalam kelompok yang dikenal sebagai MUJAO yang menguasai kota utama utara Gao tahun 2012.

Sebuah operasi militer yang dipimpin Prancis pada tahun berikutnya menggulingkan ekstremis Islam di Gao dan kota-kota utara lainnya. Elemen-elemen ektremis itu kemudian berkumpul dan kembali melakukan serangan.

Kelompok Mali MUJAO setia kepada afiliasi regional al-Qaeda. Namun pada tahun 2015, al-Sahrawi merilis pesan audio yang menyatakan kesetiaan kepada kelompok Negara Islam di Irak dan Suriah.

Militer Prancis telah memerangi ekstremis Islam di wilayah Sahel. Namun baru-baru ini diumumkan bahwa Prancis akan mengurangi kehadiran militernya di wilayah tersebut, dengan menarik 2.000 tentara pada awal tahun depan.

Artikel Asli